Zenia berdiri di depan cermin tinggi di kamar besar itu, memandangi dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Gaun merah mencolok yang dipilih Matteo begitu kontras dengan kepribadiannya. Bahan sutra lembut itu membentuk tubuhnya, menonjolkan lekuk yang selama ini ia sembunyikan di balik pakaian sederhana. Gaun itu hanya sejengkal dari paha, terlalu berani menurutnya. Ia mencoba menarik ujung bawahnya berulang kali, tapi sia-sia. Begitu ia tarik sedikit, bagian atasnya justru melorot, memperlihatkan bahu yang mulus dan leher yang seharusnya tidak terekspos seperti itu. Ia mendesah berat. “Ini gila…” bisiknya pelan pada diri sendiri. “Aku tidak seharusnya memakai ini.” Tapi suara langkah berat dari arah luar membuat tubuhnya menegang. Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Matteo berdiri

