Di dapur rumah mereka, aroma cokelat yang hangat menyelimuti udara. Zenia sedang sibuk membuat kue coklat, tangannya cekatan mengaduk adonan yang kental, perlahan-lahan menuangkannya ke dalam loyang. Matanya sesekali menatap jendela, melihat cahaya sore yang mulai masuk melalui tirai tipis. Senyumnya tipis terlihat, tapi ada sedikit kelelahan di wajahnya. Tiba-tiba, Aidan masuk ke dapur dengan langkah kecil tapi penuh semangat. “Mama… aku boleh bantu?” tanyanya dengan mata berbinar, tangannya sudah siap menggapai meja. Zenia menoleh, menatap anak itu, lalu tersenyum lembut. “Tidak usah, sayang. Mama sudah hampir selesai, sebentar lagi kue ini siap,” jawabnya, suaranya lembut dan menenangkan. Aidan menggeleng. Matanya serius, tapi ada kegigihan yang sulit dibendung. “Tidak, Mama. Aku mau

