"Masakan istrimu tidak pernah mengecewakan ya, Arka," ucap ibunya membuka percakapan saat mereka tengah menikmati sarapan pagi.
Luna yang mendengar pujian dari mertuanya tersipu malu. Sudah hal yang tidak asing bagi Luna saat Ibu mertua selalu memuji dirinya.
"Itu kelebihan Luna, Bu," jawab Arka sembari mengunyah makanan lalu sekilas menatap wajah istrinya.
"Hari ini kamu kerja?"
"Enggak. Kami akan buatkan cucu untuk Ibu."
Luna tersedak saat mendengar ucapan Arka. Tak hanya Luna, ibunya juga terlonjak kaget. Tidak biasanya Arka berbicara seperti ini, biasanya ia enggan mengatakan hal-hal yang berbau vulgar.
"Sayang, minum dulu," ucap Arka sembari menyodorkan gelas pada Luna.
"Makan itu hati-hati," omel Arka dan Luna hanya diam saja. Jujur, hatinya masih belum bisa mencerna ucapan Arka.
"Ibu tahu, kalian lagi cinta-cinta nya. Ibu seperti obat nyamuk saja," ucap ibunya Arka memasang muka sedih.
"Ibu ngomong apa sih? Udah, nggak usah bahas itu, cepat habiskan sarapannya," tukas Luna.
Selama makan berlangsung, Luna tak banyak bicara, hanya sesekali menjawab pertanyaan Ibu mertuanya sedangkan Arka sendiri lebih sering diam-diam menatap wajahnya, Luna sampai risih sendiri.
Dulu momen ini sangat ini sangat ia nantikan tetapi sekarang di saat semuanya sudah mencapai akhir kenapa Arka seperti pujangga cinta?
***
"Ibu tidak jadi menginap, Ibu harus secepatnya pulang." ibunya terlihat panik saat mengatakan itu. Nampak jelas raut kegelisahan yang tergambar di muka wanita berumur setengah abad lebih.
"Ibu, ada apa?" tanya Luna yang menangkap sesuatu tidak baik-baik saja. Firasat dia terlah terjadi sesuatu yang membuat Ibu mertuanya terlihat panik.
"Bibi mu kecelakaan, ia kritis di rumah sakit. Ibu harus secepatnya ke sana. Dia adik Ibu satu-satunya, Ibu tidak memiliki saudara selain bibi mu," ucapnya tak bisa menyembunyikan air mata. Luna mendekat, dipeluk dengan sayang Ibu mertuanya itu, Ibu yang selalu baik kepadanya dan tak menganggap kalau ia hanya menantu di keluarga ini.
"Kecelakaan?" tanya Arka seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kata Nina, kepalanya mengeluarkan banyak darah, Ibu takut kalau bibimu tidak bisa diselamatkan," ucap Ibu sambil terisak.
"Kita ke sana bareng-bareng, ya? Ibu jangan sedih, banyak berdoa supaya bibi tidak kenapa-napa," ucap Luna.
Ibunya mengangguk, setelah itu mereka bersiap untuk menuju rumah sakit di mana bibi mereka berada.
***
Arka terlihat sangat kacau, ia memang dekat dengan bibinya sedari kecil. Anak tunggal dan lelaki sendiri membuat ia selalu di nomor satukan keluarga.
Sedangkan Bibi sendiri mempunya anak yang tiga-tiganya berjenis perempuan.
"Banyak doa, jangan seperti ini. Yang perlu kita khawatirkan adalah kesehatan Ibu," ucap Luna.
Saat ini mereka berdua tengah berada di dalam kamar dan bersiap.
"Aku tahu, tapi aku takut kehilangan bibiku," ucap Arka pelan. Saat ini pikirannya sedang kalut. Ia membayangkan yang tidak-tidak.
"Kamu kenapa berbicara seperti itu? Aku yakin bibimu bisa melewati masa kritis," jawab Luna. Ia mencoba memahami apa yang suaminya rasakan, ia ingin menumbuhkan pikiran positif untuk suaminya.
Semua makhluk hidup yang berada di muka bumi ini pasti akan kembali pada yang kuasa, ibarat kata, kita sedang mengantri menunggu kapan Tuhan memanggil kita dan saat menghadapnya kita dalam keadaan apa.
"Lun.." Arka menatap istrinya, ada bulir hangat yang menetes di sudut mata lelaki itu, ia benar-benar rapuh.
"Kamu jangan nangis dong! Coba berpikir positif," ucap Luna sambil mengusap air mata itu. Ia ikut merasakan kepedihan yang suaminya rasakan.
Sedangkan Arka sendiri langsung memeluk istrinya, ia ingin dikuatkan tetapi rasanya terlalu sulit.
Hanya nasihat Luna yang bisa membuatnya tegar seperti saat ibunya kena serangan jantung dulu dan dirawat lebih dari seminggu.
Saat itu hanya Luna orang yang bisa memberinya motivasi. Orang yang selalu ada buatnya dan tak mengenal lelah.
"Sudah ya?" ucap Luna mencoba melepaskan pelukan itu tetapi tangan kekar Arka terlalu sulit untuk melepaskan, ia masih terisak di pelukan istrinya.
"Mas, kalau kamu kaya gini, bagaimana dengan Ibu, saat ini beliau tangah menunggu kita keluar. Ia ingin segera memastikan keadaan adiknya itu."
Arka melepaskan pelukannya lalu menatap lekat sang istri.
"Terimakasih," jawabnya. Luna mengangguk dan tak lupa sekali lagi ia menghapus air mata itu.
Bukan Luna tak sedih, ia sedang mengontrol diri, ia sedang menumbuhkan pikiran positif, ia yakin bibinya itu bisa selamat dan melewati masa kritis.
***
"Bagaimana ibumu, Na?" tanya Ibu langsung mendatangi Nina yang tengah berdiri di depan ruang oprasi. Anaknya juga sudah berkumpul di sana. Ada Nina, Alfi dan Dara.
"Masih belum keluar dokternya, Budhe," jawab Nina lesu. Semua yang berada di sini diliputi rasa cemas yang tinggi.
Luna yang awalnya bisa tegar juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Beruntung tak lama kemudian Dokter itu keluar.
"Bagaimana, Dok?" kami yang tak sabar, memberondong Dokter itu dengan banyak pertanyaan yang hampir kesemuanya sama.
"Alhamdulillah, Bu Puji sudah melewati masa kritisnya," ucap Dokter itu.
"Bisa kami masuk, Dok?"
"Boleh, tetapi hanya satu orang dan tidak boleh lebih." Selepas mengatakan itu, Dokter pun pergi.
Ibu yang ngotot ingin menemui adiknya sedangkan anak-anaknya menunggu di luar. Luna tahu bagaimana khawatirnya Ibu mertua.
Untung saja anak-anak bibinya itu bisa memahami perasaan budhenya.
"Mas, Arka." Alfi, anak bungsu Bi Puji menghambur memeluk sepupunya itu. Mereka memang dekat, Alfi masih seumuran dengan Luna. Ia menganggap Arka adalah kakaknya.
Walau gadis itu dekat dengan Arka tetapi ia tidak dekat dengan Luna.
Sedangkan Luna sudah sering mencoba mendekati Alfi tetapi gadis itu merespon dengan datar, tak ada keramahan yang ia tunjukkan, berbeda sekali dengan bibi dan kakaknya yang selalu menganggap Luna seperti adik sendiri.
"Bibi sudah melewati masa kritis. Stop, jangan menangis lagi," ucap Arka tak membalas pelukan Alfi. Ia merasa tak enak dengan yang lain karena mengingat mereka ini adalah sepupuan.
Sedangkan Luna sendiri terbakar api cemburu, walau bagaimanapun saat ini ia adalah istri Arka. Sedangkan status mereka berdua hanyalah sepupu yang notabennya tidak ada mahram untuk keduanya karena berlawanan jenis
"Aku takut, Mas," ucap Alfi lagi.
"Banyak doa ya?" ucap Arka sambil menghapus air mata di pipi gadis itu.
Luna hanya bisa membuang nafas dengan kasar melihat pemandangan di hadapannya. Karena tak mau hatinya lebih dalam merasa sakit, ia berniat untuk membeli minuman.
"Hai, kamu Luna, kan?!" ucap seorang Dokter muda nan tampan datang menghampiri Luna. Luna sendiri belum beranjak dari tempat ia berdiri.
"Siapa ya?" tanya Luna tak mengerti, ia benar-benar tidak tahu siapa lelaki di hadapannya ini.
"Yaelah, kita itu pernah satu kelas lho. Tega kamu lupain aku," ucapnya memasang muka sedih.
"Beneran, aku nggak ingat," jawab Luna sambil mengingat tetapi tetap saja ia tidak ingat.
"Abi. Kita pernah satu kelompok dulu," ucapnya mengingatkan.
"Oalah, Abi. Aku baru ingat. Wah, sekarang kamu jadi Dokter di sini?" ucap Luna sumringah.
"Seperti yang kamu ketahui," ucapnya sambil tersenyum. Masih menawan seperti dulu.
Sewaktu sekolah mereka berdua pernah dekat bahkan sangat dekat, Abi yang diam-diam menaruh rasa pada Luna, sedangkan Luna pun juga demikian tetapi
semua itu harus mereka pendam karena kehadiran orang ketiga. Tetapi kini mereka berdua dipertemukan di tempat yang tak terduga.