Bab 10

1202 Kata
"Kamu di sini, emang siapa yang sakit?" tanya Abi. "Bibiku." "Bibi siapa? Memangnya kamu punya bibi?" tanya Abi tak mengerti, sebab selama ia mengenal Luna, yang ia tahu Luna tak memiliki Bibi. Ibu maupun ayahnya adalah anak bungsu semua, jadi otomatis Luna hanya memiliki budhe. "Bibi dari suamiku." "Kamu sudah menikah?" tanya Abi memastikan. Luna pun mengangguk membenarkan ucapan Abi. "Kalah cepat aku." Ucapan Abi sontak membuat Luna menatapnya, tak terkecuali Arka yang diam-diam ikut mendengarkan obrolan istrinya. "Kok kalah cepat?" tanya Luna polos. "Kalau masih single sudah ku ajak nikah," ucapnya sambil tertawa. Tawa untuk menyembunyikan kekecewaannya. "Ngawur. Kamu kan sudah ada Lea," jawab Luna. "Udah lama putus." "Kenapa?" "Karena kamu." "Gombal," ucap Luna sambil tersenyum. Ia tahu saat ini Abi tengah menggodanya. "Aku masih ada tugas, nanti kita ngobrol lagi. No HP kamu masih sama kan?" tanya Abi. "Sudah ganti," jawab Luna. "Kok ganti?" "Kepo banget sih!" Mereka berdua lantas tertawa bersama. Arka yang melihat kedekatan istrinya dengan Dokter muda dilanda cemburu. Ia tidak rela Luna dekat dengan lelaki manapun. "Minta boleh?" tanya Abi sambil menyodorkan HP nya, berharap Luna memberikan nomor ponsel nya yang baru. Dengan senang hati Luna mengetik nomor HP nya di ponsel milik Abi, setelah itu Abi pamit pergi. Luna tersenyum. Bersama Abi selalu menjadi momen terbahagia, Abi yang suka ngegombal, suka ngelucu bahkan ia enak kalau diajak ngobrol. Tetapi sayang, hubungan mereka harus terputus karena Lea. Wanita yang bisa merebut hati orang tua Abi. "Siapa Dokter muda itu?" tanya Arka mendekati istrinya yang tengah melamun masa mudanya dulu. "Abi, dia teman satu kelas ku dulu," jawab Luna. "Teman atau mantan pacar?" tanya Arka penuh selidik, tidak bisa dipungkiri saat ini ia tengah merasakan cemburu yang luar biasa. Tidak biasanya Luna terlihat sumringah dan bisa tertawa lepas. Dari sorot matanya saja sudah bisa ditebak, Luna sangat bahagia bertemu cowok itu. "Teman," ketus Luna lalu melangkah pergi ke tempat tujuan awal, Kantin. *** Setelah memastikan keadaan bibinya baik-baik saja, Arka sama Luna berniat undur diri. "Kalau ada apa-apa kabari ya?" ucap Arka pada ibunya. Saat ini beliau ingin menjaga adik satu-satunya itu makanya saat Arka menawarkan untuk pulang ibunya tidak mau, beliau kekeh ingin menemani sang adik. "Iya, sudah, kamu pulang saja," jawab ibunya. "Buatin cucu untuk ibumu, Ka," timpal Dara sambil cekikikan. Arka tersenyum menahan malu sedangkan raut wajah Luna hanya datar tanpa menunjukkan ekspresi apapun. "Iya nih, sudah satu tahun lho kalian belum ada kabar kehamilan, eh, atau jangan-jangan Luna sedang hamil ya? itu wajahnya terlihat pucat," tebak Nina. Ia memang memanggil Arka dan Luna dengan sebutan nama karena ia merasa lebih tua dari keduanya. Luna terperanjat kaget dengan ucapan sepupu suaminya itu. Ia baru sadar, sudah lebih dari satu minggu telat haid, tetapi memang siklus haidnya tidak lancar makanya ia tidak memiliki firasat apapun. "Kalau Mba Luna hamil, terus bagaimana dengan Mba Putri?" Ceplos Alfi. Sedikit banyak ia mengetahui hubungan Arka dengan Putri. "Putri? Kamu masih berhubungan dengan gadis itu, Arka?" tanya sang Ibu. Arka gelagapan sedangkan Alfi menutup mulutnya, ia tak sadar sudah keceplosan. "Kamu nggak mikirin hati istri kamu?" tanya ibunya dengan penuh penekanan. Arka hanya menunduk dan diam. "Luna, kamu diam saja saat suami mu berhubungan dengan wanita lain? Apa kamu tidak merasa sakit hati?" tanya Ibu mertua pada Luna. "Luna tidak mengetahui kalau Mas Arka masih berhubungan dengan gadis lain. Mungkin Alfi salah dengar atau salah lihat," bohong Luna. Ia berpikir kalau saat ini belum waktunya Ibu mertua mengetahui hubungan anak lelakinya dengan gadis di masa lalu suaminya. Ibunya menghampiri Luna lalu mengusap rambut Luna dengan pelan. "Titip Arka ya? Tolong tuntun dia ke arah yang lebih baik. Ibu tidak tahu sampai kapan Ibu akan bertahan dengan penyakit ini, tetapi Ibu akan merasa tenang kalau Arka ada yang menemani yaitu kamu," ucapnya pelan. "Ibu ngomong apa sih? Ibu pasti akan sembuh dan bisa mendampingi Mas Arka sampai dia bersama cinta sejatinya," jawab Luna. "Kamu mau meninggalkan Arka?" dengan tatapan yang sulit diartikan ibunya bertanya pada Luna. "Bukan, Luna, ah, Ibu! Kita mau pulang kok malah diberondong pertanyaan macam ini," ucap Luna mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau berpikir macam-macam dengan apa yang Ibu mertuanya ucapkan. Kalau boleh jujur, itu seperti firasat. "Ya sudah, hati-hati di jalan," ucapnya melepas kepergian anak juga menantunya. Senyum terukir dari bibir wanita paruh baya itu. Senyum yang tidak biasanya dan sangat sulit diartikan oleh Luna sendiri. *** "Maafin aku ya," ucap Arka saat keduanya berada di dalam mobil. "Untuk?" "Semuanya. Tolong kamu jangan pergi dari hidupku, aku ingin memulai dari awal, jangan kecewakan ibuku," ucap Arka pelan dan tetap fokus pada kemudinya. Luna hanya diam saja. Ntah kenapa saat ini ia bimbang, ingin sekali pergi dari kehidupan Arka karena mengingat perlakuan Arka selama setahun ini. Perlakuan kasar dan dingin. "Kenapa diam? Kamu tidak mau memberiku kesempatan satu kali lagi?" tanya Arka. "Bukan tidak mau, tetapi luka yang sudah kamu torehkan sudah begitu dalam. Rasanya sulit sekali memaafkan." "Aku janji, aku..." "Aku tidak butuh janji, aku butuh bukti. Tapi saat ini aku belum bisa, Mas. Hatiku masih terlalu sakit," jawab Luna. Tak disangka, Arka meraih tangan Luna dengan satu tangannya dan mencium punggung tangan itu. "Aku akan mengobatinya, tolong beri kesempatan untuk membuktikan," ucap Arka setelahnya. Ragu? Sudah pasti Luna masih ragu, hatinya masih mengatakan kalau hati suaminya masih ada nama wanita lain dan sepertinya sangat sulit digantikan. Drt..drt.. Terpampang nama Putri di ponsel Arka, ia tak mengangkatnya, mungkin masih menjaga perasaan Luna. "Kenapa tidak diangkat?" tanya Luna. "Nggak apa-apa." Sekilas Luna melihat nama Putri terpampang di sana. Karena menjaga moodnya agar tidak rusak, Luna memilih diam dan tak banyak bertanya lagi sampai mereka berdua berada di rumah. "Lun, tolong kasih kesempatan buat aku," ucap Arka sesaat setelah mereka masuk ke dalam rumah. "Aku tidak mau sakit hati." "Aku janji tidak akan menyakitimu lagi," jawab Arka. "Beri aku waktu." "Sampai kapan?" "Sampai aku benar-benar percaya sama kamu," jawab Luna. "Tapi kamu tidak akan pergi dari sini kan?" Luna menggeleng," aku akan tetap di sini. Tetapi kita sebatas orang asing saja dan jangan sampai ibumu tahu," jawab Luna. "Apa aku tidak boleh meminta hak ku? Walau selama ini aku bersikap dingin tetapi hak yang seharusnya kamu dapat selalu ku penuhi," ucap Arka. "Nanti aku pikirkan. Aku capek, mau istirahat dulu," jawab Luna. Tetapi saat menaiki tangga, tubuhnya limbung dan terjatuh. Arka yang berada di belakangnya dengan sigap menangkap tubuh Luna. "Kita ke rumah sakit," ucap Arka. Luna menggeleng. "Aku tidak apa-apa, mungkin hanya kecapean." "Jangan ngeyel. Aku tidak mau kamu kenapa-napa," ucap Arka menunjukkan wajah khawatir. "Tenang saja," ucap Luna. "Ya sudah, biar aku bopong ke kamar." "Tidak usah, aku bisa sendiri." Arka menggeleng keras. "Kamu terlihat pucat." Di dalam gendongan Arka, Luna berpikir apa benar ia telah hamil seperti apa yang sepupunya katakan tadi. "Kenapa natapnya seperti itu?" tanya Luna. Arka yang ditanya hanya bisa tersenyum, manis sekali. "Apa kamu hamil, Sayang?" "Aku tidak suka panggilan itu," ketus Luna. "Aku suka, itu menunjukkan kalau aku beneran sayang sama kamu," ucap Arka. Sepertinya ia harus banyak-banyak belajar menggombali perempuan, apalagi perempuan seperti Luna. "Bulsit!" "Beneran sayang," ucap Arka sambil membaringkan tubuh Luna ke atas ranjang, menggendong Luna tak terasa bagi Arka. Tak lupa ia sematkan kecupan mesra di kening sang istri sebelum beranjak. "I love you," ucap Arka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN