Pagi hari Luna masih terasa lemas, ia tidak beranjak dari tempat tidur selepas sholat subuh tadi. Kepalanya masih pusing dan terasa berat.
Beberapa pesan WA belum ada yang ia balas, bahkan pesan WA dari Oliv pun tak juga ia baca. Menatap layar ponsel membuatnya bertambah pusing.
"Kita ke rumah sakit, ya?" tawar Arka yang melihat wajah istrinya bagaikan mayat hidup karena terlampau pucat.
Sambil menggeleng Luna berucap," Nggak usah."
"Kalau kamu beneran sakit sudah seharusnya cepat diobati, kalau kamu hamil kamu harus mendapatkan asupan gizi dan juga minum vitamin."
"Sudah ku bilang, aku tidak hamil. Aku hanya kecapean saja," jawab Luna.
"Terserahlah, tapi kamu harus dibawa ke Dokter."
Luna tak bisa banyak protes, dituruti apa yang suaminya katakan.
"Aku khawatir sama kamu. Aku kan sudah berjanji akan menjagamu dan membahagiakan mu," ucap Arka sambil membawa tangan Luna ke dalam genggamannya.
"Ya sudah, aku bersiap dulu," ucap Luna dan beranjak mempersiapkan diri.
Arka melihat istrinya dengan perasaan yang sulit diartikan. Dalam benaknya ia berharap semoga Luna beneran hamil agar rumah tangga mereka ada benteng pertahanan yaitu anak.
***
"Sudah ku bilang, aku hanya kecapean," omel Luna selama mereka dalam perjalanan pulang sehabis dari rumah sakit. Dokter mengatakan kalau Luna mengalami darah rendah karena kurang istirahat.
"Kan cuma mau memastikan saja."
Luna diam saja, malas rasanya berdebat dengan sang suaminya. Tak lama kemudian telepon Arka berdering, tanpa melihat siapa yang menelpon, ia pun langsung mengangkatnya begitu saja.
"Aku masih dalam perjalan pulang," ucap Arka saat orang yang berada di seberang telepon mempertanyakan keberadaannya.
"Sama Luna," ucap Arka lagi.
"Iya, kamu tunggu di rumah saja. Sebentar lagi aku akan sampai kok," ucap Arka sebelum mematikan teleponnya.
Luna ingin sekali bertanya tetapi ia urungkan. Bukan wewenangnya bertanya yang bukan urusan dia.
Mengetahui raut wajah istrinya seperti memendam sesuatu, tanpa ditanya Arka pun mengatakan kalau yang telepon itu adalah Putri.
"Mau apa?" Akhirnya Luna tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Nggak tahu. Cuma bilang katanya penting," jawab Arka.
Setelah itu suasana kembali hening, tak ada ucapan yang mereka lontarkan.
***
"Aku mau Mas Arka segera menikahiku," ucap Putri tanpa basa basi saat Arka beserta Luna mempersilahkan ia masuk.
Saat ini Putri ditemani mamanya.
"Aku tidak bisa, Put."
"Kenapa? Bukannya Mas Arka sangat mencintaiku?" tanya Putri seolah tak percaya dengan apa yang Arka katakan.
Dulu ia rela membatalkan acara perjodohan itu demi Arka, demi bisa bersatu dengan Arka tapi sekarang lelaki di hadapannya dengan terang-terangan tidak mau menikahinya.
"Aku mengaku salah. Hubungan kita waktu itu adalah sebuah kesalahan," ucap Arka. Saat ini memegang erat tangan Luna agar istrinya itu tidak beranjak pergi.
"Tapi kita sama-sama cinta kan?"
"Dulu iya, sekarang aku baru sadar kalau benih-benih cinta itu muncul untuk istriku."
"Kamu egois, Arka!" Terlihat sekali Putri sangat murka dengan ucapan Arka.
Semua pengorbanan ia selama ini sia-sia belaka.
"Lalu tujuan kamu apa malam itu, kamu membawa Putri dan kamu rela menunggunya sampai pagi?" tanya ibunya Putri sambil menatap tajam pada Arka.
Luna yang mendengar sangat kaget, jadi malam itu Arka tengah bersama Putri.
Ia tidak pulang ke rumah dan memilih bermalam di rumah Putri yang notabennya tidak ada hubungan apapun.
Dengan sedikit terhuyung Luna beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak mau lebih sakit hati karena mendengarkan sesuatu di luar dugaannya.
Saat tangan Arka hendak meraih tangannya, Luna tepis dengan kasar.
Di dalam kamar ia menangis tersedu. Tetapi hatinya sudah mantap, tidak ada yang perlu ia pertahankan. Diambilnya koper di atas almari lalu memasukkan semua bajunya ke dalam koper.
Tidak ada lagi yang namanya kesempatan ataupun waktu untuk suaminya. Ia tidak tahu, sejauh mana hubungan Arka dengan wanita itu.
Tetapi mendengar ucapan sang Ibu kalau Arka rela bermalam di rumahnya malam itu cukup membuat Luna mengerti. Arka rela berkorban apapun demi wanita itu.
Disekanya air mata yang menetes di pipi. Dengan mantap ia keluar dari kamar sambil membawa koper.
Jantung Arka berdegub dengan kencang saat melihat istrinya turun dengan menenteng koper.
"Kamu mau kemana?" tanya Arka mendekati istrinya. Putri yang melihat merasa muak. Baginya, Luna hanya wanita pengganggu hubungannya dengan Arka.
"Aku mau pulang."
"Ini rumah kamu."
"Bukan, ini bukan rumah ku. Ini rumah suamiku," jawab Luna sambil melangkah pergi. Arka tidak membiarkan Luna pergi begitu saja, dengan cepat ia menahan tangan Luna sampai wanita itu menghentikan langkahnya.
"Rumah suamimu itu juga rumah mu, Lun. Apa yang aku punya itu juga punya kamu, kamu itu istriku," tekan Arka.
Luna tersenyum sinis. Ia tidak menyangka kalau Arka akan berkata seperti ini. Tapi sayang, kali ini hatinya sudah sangat hancur, sekuat apapun Arka menahannya pergi, ia tidak akan luluh.
Sudah cukup kesabaran yang ia punya.
"Kamu selesaikan masalahmu dengan gadis itu," ucap Luna dan berlalu begitu saja.
Selepas kepergian Luna, Arka kembali ke dalam sambil menahan amarah.
"Sudah puas kamu!" ucap Arka penuh emosi.
Inilah kekurangan Arka, ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Ketika sesuatu tidak sesuai keinginan maka ia lebih mengedepankan amarah.
"Aku tidak melakukan apapun," bela Putri. Karena ia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Luna pergi juga bukan karena kata-katanya.
"Aku tidak akan menikahimu," tekan Arka dan sontak membuat mata Putri membulat sempurna.
"Aku rela membatalkan perjodohan karena kamu. Sekarang kamu dengan entengnya memutuskan sebelah pihak! Aku tidak mau. Kamu harus menikahiku," ucap Putri dengan intonasi nada yang tinggi.
"Putri, sudah. Kalau Arka tidak mau menerima mu, biarkan saja. Lagian masih banyak cowok yang suka sama kamu dan lebih segalanya," bujuk ibunya.
"Putri maunya sama Mas Arka, Ma. Putri nggak mau sama yang lain," rengek Putri seperti anak kecil.
"Kalau dia menolak, kamu bisa apa. Jangan merendahkan harga dirimu seperti ini," tegas ibunya.
Dengan kasar ia menarik tangan Putri keluar. Ia sudah menduga kalau Arka akan menolaknya. Walau saat ini Arka tidak tahu kalau Putri sudah ternoda tetapi mengingat hubungan anaknya dulu kandas dikarenakan ibunya dan Arka hanya menurut, itu membuatnya cukup tahu kalau Arka bukan lelaki yang pas untuk anaknya.
Dengan langkah gontai Arka menuju ke dalam kamarnya. Ia tidak ingin berpisah dari Luna, ia tidak ingin kehilangan wanita yang mulai mengisi hatinya.
Tak lama kemudian ponselnya berdering, dengan malas Arka mengangkatnya.
"Iya."
"Apa?! Kecelakaan?"
"Baik, saya akan ke sana sekarang juga," ucap Arka mematikan teleponnya lalu
bergegas mengambil kunci mobil.
Dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobilnya ke tempat yang sudah dikatakan orang dibalik telepon.