Bab 12

1039 Kata
Tak butuh waktu lama bagi Arka untuk bisa sampai ke tempat yang dituju. Sebuah rumah sakit besar yang di dalamnya terdapat orang-orang yang dicintainya. Bibi dan juga istrinya. Tadi ia sempat mendapat telepon kalau Luna terlibat kecelakaan beruntun. Mobil yang ditumpanginya ringsek. Beruntung Luna tidak mengalami luka yang serius. Dengan langkah cepat ia menuju ke ruangan dimana istrinya berada. "Arka!" seru seseorang, Arka menoleh. "Mau jenguk Ibu?" tanya orang itu yang tak lain adalah Dara, sepupunya. "Enggak. Luna kecelakaan," ucap Arka. Raut wajahnya masih terlihat kepanikan karena ia belum bertemu istrinya. "Lalu bagaimana keadaan Luna?" tanya Dara lagi. Arka menggeleng keras, "aku masih mau melihatnya." Setelah itu ia berlalu dari hadapan Dara. Di pikirannya saat ini adalah bagaimana Luna sekarang. Sedangkan Dara, ia mensejajarkan langkahnya bersama Arka. Wajahnya juga menunjukan raut kekhawatiran. Saat tiba di ruangan Luna berada, ia mendapati Dokter muda yang beberapa waktu lalu bertemu dengan Luna. Dokter yang katanya adalah teman semasa sekolah dulu. Saat ini ia tengah selesai memeriksa kondisi Luna. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arka. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." "Tapi dia belum sadar," ucap Arka terlihat panik. "Ditunggu saja. Bentar lagi akan siuman. Ya sudah, nanti dua jam lagi saya akan ke sini untuk mengecek kondisi Luna," ucap Dokter itu yang tak lain bernama Abi. Ia tidak memanggil dengan embel-embel Ibu atau yang lainnya. Ia merasa pernah dekat dengan Luna makanya ia memanggil dengan sebutan nama. "Sabar ya?" ucap Dara. Arka mengangguk. Ia pegang tangan Luna dan tak henti menatapnya. Ah, ia benci perasaan ini, perasaan khawatir yang berlebihan. Harusnya ia bisa berpikir positif seperti apa yang selama ini Luna katakan. Tetapi rasa cinta yang mulai membuncah malah membuatnya semakin terpuruk, membuatnya berpikir sesuatu yang buruk. "Ibumu sudah tahu?" tanya Dara lagi. Arka menggeleng lemah. Ia masih menatap wajah ayu wanita di hadapannya. Ada beberapa luka lebam di wajah perempuan ini. Mungkin terbentur apa, Arka juga tak mengetahui. Saat ini Polisi sedang menyelidiki kasus tabrakan beruntun itu. "Aku keluar sebentar, nanti aku ke sini lagi," pamit Dara. Lagi dan lagi, tanpa menoleh pada sepupunya itu Arka hanya merespon dengan anggukan kepala. "Tolong, jangan kasih tahu ibuku. Jangan kasih tau kalau Luna juga dirawat di sini. Kamu tahu sendiri bagaimana sayangnya ibuku pada Luna, aku takut Ibu semakin drop," ucap Arka sebelum Dara keluar dari ruangan ini. "Jangan khawatir." *** "Sayang, apa yang sakit?" tanya Arka memberi perhatian saat Luna mulai membuka matanya. Luna menggeleng lemah, ia masih memulihkan kesadarannya. "Kamu jangan banyak gerak. Aku panggil Dokter dulu," ucap Arka dan berlalu dari hadapan Luna. *** "Kebiasaan dari dulu," ucap Abi. "Kebiasaan apa?" tanya Luna tak mengerti. Saat ini Abi tengah memeriksa keadaan Luna, di sana juga ada Arka. Sebenarnya Arka berat kalau harus Abi Dokter pemeriksa itu, tetapi tidak ada Dokter yang jaga selain Abi. Maka dengan terpaksa ia mempersilahkan Abi yang memeriksa keadaan istrinya itu. "Kalau naik kendaraan tidak pernah hati-hati. Dulu naik motor juga gitu, sekarang naik mobil," ucap Abi. Ada rasa cemburu di hati Arka melihat kedekatan istrinya dengan Dokter itu, tetapi ia harus bisa menahan ego. "Tak usah diingetin hal itu. Dulu memang aku yang nggak hati-hati, kalau sekarang aku yang jadi korban," sela Luna. "Aku tak yakin," ucap Abi sambil tersenyum. "Kenapa?" "Aku mengenalmu. Kamu pasti sembrono," ucap Abi sambil terkekeh. Luna pun ikut tersenyum. "Sudah, kamu harus banyak istirahat. Ini lebam nya bisa dikompres, ada suamimu juga. Kalau semakin membaik, lusa kamu boleh pulang," ucap Abi sebelum beranjak pergi. *** "Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Luna. Arka menggeleng keras. Jujur, hatinya diliputi rasa cemburu saat ini. "Aku mau tidur, kamu kalau mau pulang, pulang saja. Biar aku tidur sendiri di sini," ucap Luna. "Sendiri atau mau ditemani Dokter tadi?" tanya Arka. "Kamu apa sih?" ucap Luna merasa tak nyaman dengan apa yang Arka ucapkan. "Benarkan?" "Kamu cemburu?" tanya Luna "Sangat!" ketus Arka. "Kenapa cemburu? Bukankah hatimu untuk Putri?" "Aku baru sadar kalau cintaku untukmu mulai tumbuh dan teramat besar," ucap Arka sembari menatap kedua mata Luna. Ingin sekali meluapkan amarahnya seperti dulu tetapi ia tidak bisa. Ia tidak bisa berbuat kasar pada wanita yang diam-diam telah merebut hatinya. Luna yang dipandang suaminya seperti itu seketika mengalihkan pandangannya. Jujur, ketika mengingat kejadian tadi hatinya masih sakit. "Aku ingin pernikahan kita tidak ada yang namanya perpisahan," ucap Arka sambil menggenggam jemari Luna. "Aku tidak bisa. Maaf," ucap Luna lirih "Apa cintamu sudah pudar? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Arka dengan tatapan nanar. "Aku mencintaimu, Mas. Tetapi aku kecewa sama kamu. Ku kira malam itu kamu pulang ke rumah tetapi kamu bermalam di rumah wanita itu," ucap Luna sambil menyeka air matanya. Ia tidak bisa menahan tangis, hatinya teramat sakit. "Aku akan cerita perihal malam itu." "Tidak perlu, Mas. Itu bukan urusanku," jawab Luna. "Aku tidak ingin kamu salah paham." "Tidak ada yang membenarkan seorang suami bermalam di rumah wanita yang bukan siapa-siapanya apapun itu alasannya." Ucapan Luna sangat menohok bagi Arka. Sangat benar apa yang dikatakan Luna. Tidak seharusnya ia bermalam di rumah Putri dengan dalih kasihan, walau di sana ada orang tuanya, tetapi itu salah. "Maafin aku," ucap Arka. Sedangkan Luna hanya diam saja. Masih enggan menatap lelaki di sampingnya ini. "Tolong, beri aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan keseriusan ku," ucap Arka. Sedangkan Luna masih dengan diamnya. "Aku ingin kamu yang menjadi ibu untuk anak-anak ku nanti," ucap Arka. Walau Luna tak menjawab, seenggaknya ia ingin Luna tahu isi hatinya. "Ya sudah, tidur lah. Have a nice dream." Setelah itu ia mengecup mesra kening istrinya sedangkan Luna hanya bisa memejamkan mata. *** "Sudah baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Abi saat mengecek kondisi Luna. "Kapan aku boleh pulang?" tanya Luna. "Kalau seperti ini, sore kamu sudah boleh pulang," ucap Abi. "Terimakasih, Dokter," ucap Luna sambil tersenyum. "Sama-sama cantik!" gombal Abi. Arka yang mendengar telinganya merasa panas. Ia cemburu, sangat cemburu. Setelah itu ia keluar begitu saja tanpa pamit pada Luna. Sedangkan Abi merasa tidak enak, ia tidak bermaksud seperti itu, begitupun juga Luna. Dua hari dirawat, hatinya sedikit mencair ketika melihat kesungguhan Arka merawatnya, memperhatikannya. Walau kata maaf tak terucap, tetapi ia akan memberi kesempatan pada Arka sat u kali lagi. Rasa cinta yang begitu besar pada suaminya dan melihat kesungguhan Arka dalam ucapannya membuat Luna mulai membuka hati untuk Arka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN