Bab 13

1142 Kata
Karena keadaan Luna sudah membaik, sore ini ia diperbolehkan untuk pulang. Sedangkan Arka semenjak kepergiannya tadi sampai sekarang belum juga menunjukkan batang hidungnya. Luna hanya bisa menghela nafas panjang. Ia bingung, kalau memang Arka menginginkan ia pulang ke rumahnya, sudah pasti saat ini dia membantu Luna untuk mempersiapkan kepulangannya. Luna berniat pulang ke rumah ibunya menggunakan taksi. Tidak mungkin juga ia pergi ke rumah suaminya, kalau Arka menginginkan ia balik sudah tentu saat ini ia berada di sini dan membantu Luna. Dengan langkah tertatih Luna keluar, ia membawa barang-barang nya sendiri. Tidak seberapa tetapi cukup membuatnya kewalahan karena kondisinya yang belum pulih sempurna. "Kenapa tidak mengabariku kalau kamu sudah boleh pulang?" ucap Arka yang tiba-tiba saja datang ketika melihat Luna keluar dari ruangannya. "Tidak kepikiran," ucap Luna beralasan. Tanpa pikir panjang, Arka langsung membopong tubuh Luna menuju ke parkiran. Sempat memberontak tetapi Arka tidak mau menurunkan Luna. "Malu, Mas!" bisik Luna. "Kenapa harus malu? Kamu istriku." "Aku bisa jalan sendiri." "Dan aku ingin menggendongmu," jawab Arka. Luna membuang nafas kesal. Tetapi ada yang rasa senang ketika Arka bisa seperhatian ini. Ia diam saja sampai Arka menurunkannya di dekat mobil. *** "Bibi bagaimana?" tanya Luna saat mereka tengah berada di dalam mobil. Setelah Arka menurunkan Luna, ia kembali ke dalam untuk mengambil barang-barang Luna yang sempat tertinggal. "Sudah membaik, tapi nunggu beberapa hari lagi baru boleh pulang," jawab Arka. "Aku pulang ke rumah Ibu, ya?" ucap Luna. "Tidak! Kamu pulang ke rumah kita!" tegas Arka. Luna diam tidak membantah. "Lun!" panggil Arka setelah beberapa menit saling diam. Luna menoleh. "Iya." "Tolong jangan pergi lagi ya! Juga jangan dekat dengan Dokter itu tadi, aku nggak suka," ucap Arka berterus terang. "Aku kecewa saja sama kamu, Mas. Ta' kira malam itu kamu pulang ke rumah, ternyata kamu bermalam di rumah wanita itu." "Sebenarnya sudah ingin pulang, tetapi Putri saat itu sedang kacau, dia ingin aku mendampinginya, dia tidak ingin ku tinggal," jawab Arka jujur. "Berarti Putri prioritas utama mu ya, Mas?" tanya Luna sambil menoleh pada suaminya. "Dulu, iya, sekarang tidak." "Kenapa begitu?" tanya Luna. "Sekarang yang lebih utama itu adalah kamu, pasangan halal ku." Ucapan Arka membuat wajah Luna seperti kepiting rebus. Ia senang tetapi ia tahan, jangan sampai Arka tahu kalau saat ini ia tengah bahagia. Jaim gitu. *** Beberapa hari kemudian, Luna benar-benar pulih. Ia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Memasak untuk Arka dan melayani suaminya seperti biasanya. Luna memutuskan untuk memberi kesempatan pada Arka. Tidak ada salahnya membangun rumah tangga seperti semula, biarlah dia dikatakan bucin akut. Melihat kesungguhan cinta Arka membuat hati Luna melunak. Ia cuma berharap, Arka benar-benar menepati janjinya. "Sayang, Ibu pengen menimang cucu," ucap Arka sambil memeluk Luna dari belakang. Luna hanya menanggapi dengan senyuman. Ia tidak ingin memikirkan itu lebih jauh. Sekarang yang harus ia lakukan adalah membesuk bibinya di rumah, Luna dengar bibinya hari ini sudah diperbolehkan pulang. "Kok diam? Memang kamu nggak ingin punya keturunan dari aku?" tanya Arka lagi. "Nanti ya? Sekarang aku mau bersiap dulu, kita ke rumah Bibi," ucap Luna. "Besok juga bisa," ucap Arka sengaja. Umurnya sudah hampir kepala tiga, ia sering kena sindiran keluarga karena belum mempunyai momongan padahal sudah beristri. Padahal kalau dibilang, umur pernikahan mereka baru menginjak satu tahun, wajar kalau saat ini belum ada celoteh anak kecil di tengah-tengah mereka. Tetapi Arka menanggapi sindiran itu dengan serius, berbeda dengan Luna. Luna tak menanggapi omongan mereka yang menyangkut tentang anak. Baginya, sekuat apapun usaha, kalau takdir belum berpihak padanya maka akan sia-sia. Luna menerapkan dalam hatinya kalau memang sudah waktunya dan ketika Tuhan sudah mempercayai dia maka akan hadir malaikat kecil di tengah-tengahnya. "Mas, dia bibi kamu. Bibi yang kemarin sempat kamu tangisi lho. Sekarang kita bersiap ke sana, nanti setelah itu kita progam," ucap Luna. Dengan membuang nafas perlahan, Arka menganggukkan kepalanya. *** "Sehat, Bi?" ucap Luna ramah. "Itu kenapa wajah kamu? Arka KDRT?" tanya Bibi sambil menatap tajam ke arah Luna. Ia melihat luka memar yang belum hilang paska kecelakaan beberapa hari lalu. "Bukan. Luna dapat musibah kemarin, bukan Mas Arka KDRT." "Musibah apa?" Ibu mertuanya ikut nimbrung. "Kecelakaan. Tapi ya sudah lah. Nggak usah dibahas, Luna tidak apa-apa kok," jawab Luna. "Kenapa tidak ada yang mengabari Ibu?" tanya Ibu mertua terlihat sedih. "Arka tidak mau Ibu banyak pikiran," jawab Arka. Memang kenyataannya seperti itu, ia tidak memberitahu keluarganya perihal Luna, bahkan Ibu kandung Luna pun juga tidak diberi tahu. Mereka tidak ingin orang tua mereka kepikiran. "Tapi kamu tidak apa-apa kan, Sayang?" ucap mertuanya. "Tidak. Ibu bisa lihat sendiri," jawab Luna sambil tersenyum. Setelah itu mereka terlibat obrolan ringan. Tak terasa waktu sudah malam, Arka bersama Luna pamit mau pulang. "Mas Arka!" panggil Alfi. Langkah Luna sama Arka tertahan karena panggilan dari gadis itu. "Mas, ke sini sebentar. Aku mau ngomong," ucap Alfi. Keluarga yang melihat hanya tersenyum. Mereka tidak ada yang tahu kalau Alfi tidak menyukai Luna. Yang mereka tahu hanya Alfi sangat dekat dengan Arka. Sedangkan Luna hanya diam mematung saat Arka menghampiri sepupunya itu. Ia tidak berani mendekat, sudah tentu ia akan menjadi benalu. "Kenapa, Fi?" tanya Arka. Suaranya masih terdengar oleh orang yang berada di situ. "Mbak Putri!" ucap Alfi sambil menunjukkan ponselnya pada Arka. Semua yang berada di sana tertegun. Mereka menatap ke arah Arka dan Alfi bergantian. Banyak tanya yang bersarang di dalam d**a. Kenapa Alfi sampai menyebut nama Putri. Sedekat apa hubungan mereka? Tetapi semua tanya itu belum mereka lontarkan. Bahkan Luna sendiri masih enggan menanggapi, ia ingin melihat Arka. Ia ingin tahu bagaimana wajahnya ketika nama Putri disebutkan. "Mbak Putri, dia depresi," ucap Alfi lirih tetapi masih terdengar di telinga Luna. Sedangkan Arka sendiri membuang nafas kasar. Jujur, ia tidak ingin berhubungan lagi dengan wanita itu. "Katanya dia depresi karena tidak jadi dinikahi Mas Arka," ucap Alfi. "Mas Arka tidak mau menjenguknya?" tanya Alfi lagi. Sedangkan Arka hanya diam. Sesekali ia melihat ke arah Luna. Seperti biasa, Luna hanya diam membisu dan tak menunjukkan raut kemarahan. "Bukan urusan ku lagi, Fi." "Tapi itu karena kamu, Mas!" tekan Alfi. "Dan ini juga bukan urusanmu. Aku sudah menikah dengan Luna, tidak sepantasnya kamu membicarakan wanita lain di depan istriku!" tegas Arka. Ia sudah muak dengan sikap Alfi yang selalu ikut campur masalah pribadinya. Ia memang dekat, tetapi tidak seharusnya Alfi bersikap seperti itu. Ibunya yang melihat kelakuan Alfi menjadi geram. "Jangan kamu membuat masalah dalam rumah tangga kakak sepupumu Alfi! Apa kamu tidak kasihan sama Luna?" tanya ibunya dengan lantang. Bahkan nafasnya naik turun pertanda saat ini sedang menahan emosi yang meluap. "Tetapi Mas Arka tidak mencintai Luna. Mas Arka hanya mencintai Mbak Putri. Mas Arka sendiri yang bilang padaku!" ucap Putri. Semua yang ada di sana mendadak geram. Pandangan sekarang dialihkan pada Arka. Semua tidak ada yang menyangka kalau Alfi akan berkata seperti i ni, bahkan Arka sendiri. Ia kira Alfi akan bisa menjaga rahasianya, tetapi tidak. Malam ini ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN