Bab 14

1017 Kata
"Ibu!" pekik Luna saat melihat mertuanya memegangi d**a. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri sang mertua. Tak terkecuali Arka, dia cepat-cepat mendatangi ibunya. "Bawa ke rumah sakit!" ucap Luna panik. Dengan sigap, Arka membopong tubuh ibunya yang sudah ambruk menuju ke dalam mobil. Semua yang berada di dalam rumah menjadi panik melihat kondisi ibunya Arka. "Semua gara-gara kamu!" bentak Dara pada adiknya, Alfi. Alfi hanya diam menunduk, saat ini ia begitu ketakutan. "Apa kamu tidak bisa menjaga ucapan? Kamu itu sudah besar, seharusnya kamu tahu mana yang boleh diucapkan dan mana yang tidak boleh!" ucap Dara geram. Sedangkan ibunya hanya diam, ia masih nampak shock. "Kalau sampai ada apa-apa dengan Budhe dan juga pernikahan Arka, maka kamu adalah orang pertama yang akan disalahkan oleh keluarga ini!" tegas Dara lalu membawa ibunya ke kamar. Alfi hanya diam mematung, ia merasa salah. Merutuki diri juga tiada guna, semuanya sudah terjadi. Hanya karena rasa empatinya pada Putri dan juga tidak sukanya pada Luna, dia bisa melakukan ini. *** "Bagaimana, Dok?" tanya Arka dan juga Luna bersamaan. Tergambar raut kecemasan di wajah mereka berdua. "Temui Ibu kalian," ucap Dokter itu terlihat sedih. Firasat dua sejoli itu menjadi tak enak, setelah mengucap terimaksih lantas mereka berdua menemui sang Ibu. "Jangan berpisah," ucap ibunya lemah. "Tidak. Kami tidak akan berpisah," ucap Arka sambil memegang tangan ibunya. "Jangan berhubungan dengan wanita itu. Ingat, kamu sudah mempunyai istri, jaga perasaan istrimu," ucap ibunya lagi. Kini nafasnya tersengal-sengal. "Ibu jangan banyak bicara. Ibu istirahat, ya?" ucap Luna lembut. Ibunya menggeleng keras. Satu bulir bening jatuh di sudut mata tuanya. "Tolong jaga Arka. Apapun yang terjadi, temani Arka." "Ibu harus sembuh," ucap Luna. "Kalian harus bahagia, jangan berpisah." Setelah mengatakan itu, kesadaran ibunya langsung menurun. Luna langsung mencari Dokter yang tadi sempat menangani Ibu mertuanya. Beruntung sang Dokter masih berada di sana dan sedang berbicara sama salah satu suster. "Ibu saya, Dok," ucap Luna disertai isak tangis. Saat ini ia tidak bisa menumbuhkan pikiran positif. Luna terlalu takut, pikiran jelek berkecamuk di kepala. Walaupun hidup mati seseorang itu sudah ditentukan tetapi ia belum siap kalau harus kehilangan Ibu mertua. Dokter itu lantas dengan cepat masuk ke ruangan mertua Luna. "Innailaihi wainnailaihi rojiun," ucap Dokter sesaat setelah memeriksa kondisi mertuanya Luna. Tangis Arka dan Luna pecah seketika. Ia tidak menyangka ibunya akan secepat ini pergi meninggalkan mereka. Tadi sempat bercanda, sempat bercerita. Tapi semua sudah menjadi takdir, bukankah hidup mati seseorang itu sudah tertulis di lauhil Mahfudz. *** "Mas, maafin aku," ucap Alfi saat datang ke pemakaman budhe nya. "Semua gara-gara kamu! Aku benci sama kamu dan ku harap kamu tidak muncul lagi di hadapanku," ketus Arka. Setelah itu ia meninggalkan Alfi sendirian dengan sejuta penyesalan. "Ikhlas, ya, Sayang?" ucap Luna sambil menatap kedua mata Arka. Air matanya saat ini juga basah, tak bisa dipungkiri ia juga begitu sangat kehilangan Ibu mertua. "Aku tidak bisa terima. Kalau saja Alfi tidak membicarakan Putri, Ibu pasti masih bersama kita." "Umur seseorang itu tidak ada yang tahu. Kamu harus ikhlas biar Ibu tenang di alam sana." "Kamu bisa berbicara seperti itu karena kamu belum kehilangan ibumu!" ketus Arka. Ntah kenapa saat ini ia malah kehilangan kesabaran. Ia tidak bisa mengontrol emosi dan juga ucapannya. "Kamu doain Ibu aku cepat mati? Kamu keterlaluan, Mas! Kamu kira aku juga tidak kehilangan ibumu?" ucap Luna. Arka yang tersadar dengan apa yang baru saja diucapkan langsung meraih tangan Luna dan hendak meminta maaf. Luna terlanjur sakit hati, ia tepis tangan Arka dan berlalu dari hadapannya. Tidak tinggal diam, ia mengejar istrinya dan menahannya. "Luna, aku minta maaf," ucap Arka. "Aku bukan bermaksud seperti itu," ucap Arka lagi. "Ibumu juga ibuku, tidak ada maksud buat doain ibumu seperti itu. Maafin aku ya?" Luna pun mengangguk. Mau tidak mau ia harus menyadari keadaan Arka saat ini. *** Hari berganti hari, tak terasa sudah 40 hari semenjak kepergian Ibu mertuanya dan selama itu pula hubungan Alfi dengan Arka tidak seperti dulu. Arka sendiri belum bisa memaafkan Alfi. Sudah berulang kali gadis itu datang meminta maaf tetapi Arka sama sekali tak mau menanggapinya. "Sayang, maafin aku ya? Sarapan pagi ini biar disiapin Bi Nah, kepalaku pusing sekali," ucap Luna pagi itu. "Kamu kenapa?" "Nggak tahu. Perutku mual, kepalaku pusing," jawab Luna. "Jangan-jangan kamu hamil, Sayang?" Luna menggeleng keras, ia sendiri juga tidak tahu. Belum ditespek. "Sudah kamu cek?" tanya Arka. "Belum. Aku sendiri tidak yakin kalau sedang hamil." "Untuk lebih jelasnya, kita ke rumah sakit. Kali ini kamu tidak boleh menolak," ucap Arka. Luna pun mengangguk. *** "Selamat, Pak. Istri anda sedang hamil dan usia kehamilannya menginjak tiga minggu," ucap Dokter itu sambil tersenyum seusai memeriksa Luna. "Alhamdulillah." "Trimester pertama memang seperti itu. Jadi ibunya harus banyak-banyak istirahat. Nanti saya berikan vitamin, diminum secara teratur ya, Bu?" ucap Dokter itu ramah. "Iya, Dok. Terimakasih," jawab Luna. Setelah mengurus administrasi mereka berdua lantas pulang dengan hati yang sulit dijabarkan. Ada perasaan senang dan juga sedih. Senang karena apa yang mereka inginkan akan segera terwujud, malaikat kecil akan hadir ditengah-tengah mereka, tetapi sedihnya, sang Ibu yang mendamba menginginkan seorang cucu keburu dipanggil oleh sang Kuasa. "Kenapa menangis?" tanya Arka yang melihat air mata istrinya. "Kangen Ibu, Mas. Seandainya Ibu ada, pasti dia orang yang paling bahagia," ucap Luna. Arka tersenyum, " Masih ada ibumu kan? Ibuku juga maksudnya. Nanti kita kabari, pasti beliau sangat senang." "Iya." "Mau sesuatu? Atau pengen apa gitu?" tanya Arka pada istrinya. "Pengen bakso." "Sejak kapan kamu suka bakso?" tanya Arka heran. "Sejak saat ini. Ntah kenapa aku ingin sekali makan bakso." "Ya sudah, kita beli sekarang." Setelah mutar-mutar beberapa saat, akhirnya mereka berdua singgah di warung bakso pinggir jalan. Walaupun hidup bergelimang harta, tetapi mereka berdua suka makan di tempat seperti ini, rasa masakannya tidak kalah jauh dengan yang lainnya. "Bakso dua yang, Pak," ucap Luna pada penjual bakso itu. "Iya, Neng." Saat Luna menghampiri suaminya yang tengah duduk, matanya menangkap seseorang berjalan ke arahnya. "Mas, itu Putri," ucap Luna pada suaminya. Arka pun menoleh, dan benar saja, Putri saat ini berjalan ke arah nya. "Arka!" ucap Putri memegang tangan Arka. Dengan cepat Arka menepis tangan itu. "Arka! Aku hamil!" ucap Putri terisak saat mengatakan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN