Semenjak keluar Rumah Sakit, Laynata perlahan berubah, ia mulai menerima kehamilan gue meski tidak memberikan perhatian penuh selayaknya tokoh novel yang biasa gue baca. Ya, memang setiap laki-laki mempunyai cara tersediri untuk mencintai keluarga, termasuk Laynata Yisakha, suami gue. Saat malam menjelang, sesekali gue memergokinya sedang memandang atau mengelus perut gue dengan lembut, bahkan ia tersenyum saat merasakan tendangan di sana. Ia tidak pernah menunjukkan hal itu di depan gue, mungkin karena gengsi. Tapi dengan dia menerima bayi kami, itu sudah lebih dari cukup. “Mas, ngapain?” tegur gue saat melihatnya sibuk memperhatikan perut yang semakin menonjol. “Nggak ngapa-ngapain,” ucapnya dengan salah tingkah. Ia membalik badannya dan kembali memunggungi gue, seperti sebelum gue
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


