BAB 8

2646 Kata
Gue semalam pergi makan bersama Jansen, dan pulangnya kami nonton. Gue baru sampai rumah tengah malam. Untung nyokap bokap gue nggak banyak komentar. Semenjak bekerja, nyokap bokap memaklumi kalau gue pulang malem. Mereka mengerti penderitaan anaknya yang sering disuruh lembur mendadak. Jansen ternyata orangnya asik, tidak kaku kayak kanebo kering. Perlakuannya juga manis, dan gentle, cocok banget lah pokoknya untuk masuk kriteria pacar idaman. Dan yang membuat gue lebih senang lagi adalah dia mau mengajak gue untuk makan malam lagi kalau kami sama-sama free. Anggap saja ini satu langkah untuk gue keluar dari kejombloan menahun. Teman-teman gue sudah punya gandengan masing-masing, Nanti kalau ada undangan gue repot sendiri karena tidak punya partner. Gue masih kebayang-bayang acara makan malam dengan Jansen sampai telepon dari bos membuyarkan semuanya. Resiko untuk menjadi seorang asisten pribadi memang harus siap untuk dihubungi kapan saja, tetapi ini sudah lewat tengah malam, untuk apa bos menghubungi jam segini? Hhhh... Ganggu aja, nggak bisa banget dia liat gue seneng! Gue pun mengangkat panggilan itu dengan sedikit ogah-ogahan. "Halo Bos?" "Reschedule jadwal minggu depan, jadwal ke paris dimajukan. Saya akan mengurus tiket dan akomodasi hotel sementara kamu urus jadwal yang harus tergeser. Besok satu hari penuh saya kasih waktu kamu untuk mereschedule jadwal dan menyiapkan perlengkapan saya seperti biasanya." Ini orang nggak ada basa basinya sama sekali banget. Aduh kerjan gue banyak dong besok?! "Ada yang ditanyakan?" tanya bos gue setelah mengakhiri perintahnya yang panjang kali lebar kali tinggi itu. KENAPA NGEDADAK SIH BOS?! "Untuk berapa hari Bos? Biar saya mempersiapkan keperluan saya dan juga Bos," ucap gue pada akhirnya. Sebagai kacung kantoran yang hanya terbalut baju yang lebih rapi dan gaji lebih besar, nasib gue tidaklah jauh berbeda dari seorang Asisten Rumah Tangga dan majikannya. Asal Bos Senang adalah prinsip yang masih gue pegang teguh sampai saat ini. "Sekitar lima sampai enam hari, saya belum bisa memastikan karena ini proyek penting." "Baik Bos, sampai ketemu besok," "Ya, istirahat, sudah malam." Setelahnya bos mematikan sambungan telepon kami. Tadi Bos bilang kalau kami akan ke Paris, Paris kan salah satu kota paling romantis di dunia. Gue selalu mengimpikan gue bisa kesana sama pacar atau suami gue saat bulan madu untuk menghabiskan waktu romantis berdua di sana. Tapi ini perjalanan bisnis, apalagi bersama bos gue. So, i'm not expecting too much, yang ada malah sakit hati nantinya. Coba Jansen yang ajak, pasti gue akan dapet quality time berharga di sana. Kami bisa melakukan hal romantis dan asik berdua. Tapi bagaimana pun juga gue tetap harus ikhlas menjalaninya. Biaya gedung resepsi mahal. Gue harus nabung dan betah kerja bersama seorang Laynata Yisakha, si bos super seenaknya. Tidak ada salahnya untuk menabung walaupun jodoh belum ada bukan? Jodoh gue mungkin lagi kena macet jadi belum menemukan gue, atau lagi banyak halangan di jalan, atau mungkin juga ... lagi jagain jodoh orang. Kemungkinan terakhir membuat gue meringis sendiri.  "Jodoh, cepatlah datang..." *** Pagi ini gue terlambat, baru saja b****g gue menyentuh kursi, bos keluar dari dalam ruangannya dengan wajah tidak enak. Hal itu membuat gue menelan ludah gugup. "M-maaf bos saya telat," kata gue dengan menyesal. "Makanya jangan pacaran mulu, cepet reschedule jadwalnya!" titah bos dengan ketus. Siapa yang pacaran sih?! "Iya Bos," jawab gue pada akhirnya. Gue tidak ingin memeperpanjang urusan dengan Bos yang sedang dalam mood buruk. "Kamu nanti pulang ke apartemen saya, kalau belum selesai reschedule jadwalnya juga, kamu nginap sampai semua selesai." WHAT?! SEENAKNYA BANGET! GUE AJA BELOM PACKING. "Saya belum packing Bos," ucap gue untuk meminta sedikit keringanan. "Itu urusan kamu, bukan urusan saya." Biaya resepsi mahal... Biaya respsi mahal... lo harus sabar ngadepin dia Git... "Baik Bos, saya mau mengerjakan tugas dari bos sekarang," usir gue secara halus. Sepertinya bos gue mengerti, soalnya dia langsung kembali ke ruangannya. Setelah perjuangan panjang melobi sana-sini untuk menggeser jadwal seminggu ke depan dan juga protesan dari para klien, gue baru bisa menghela napas lega jam sembilan malam, di apartemen bos gue. "Udah beres?" tanya bos dengan santainya. Dia sudah memakai celana tidurnya dan kaos polos dengan wajah segar habis mandi, sedangkan gue masih dengan pakaian kerja lengkap, dengan muka berminyak dan abu-abu khas orang belum mandi! "Sudah Bos," jawab gue lemas. Habis ini gue masih harus packing pakaiannya, gue juga belum packing pakaian gue sedangkan kami harus check in di bandara jam empat pagi! Si bos mau bunuh gue pelan pelan apa ya? Gue akhirnya memilih untuk masuk ke walk in closet miliknya, tapi bos malah menarik tangan keluar dari sana. "Makan dulu, kalau kamu sakit di sana saya yang repot," ucapnya. Akhirnya gue menuruti perintah bos untuk makan malam bersamanya. Gue tidak peduli walaupun menunya hanya capcay, yang penting gue makan. Cacing di perut sudah paduan suara minta diisi. "Besok mungkin sekitar jam tiga pagi kamu dijemput sama orang bandara," ucap bos gue di sela kunyahannya. "Dijemput Bos?" ulang gue memastikan. "Saya ambil tiket first class, soalnya kelas ekonomi bisnis penuh, salah satu fasilitasnya ya dijemput ke bandara."  FIRST CLASS?! ITU HARGA GAJI GUE SETAHUN YA TIKETNYA BUAT SEKALI JALAN! "Nggak terlalu mahal apa bos ngambil first class?" "Asal hasil kerjasamanya berhasil, saya bisa dapat keuntungan berlipat dari itu," jawab bos diplomatis. Gue cuma menganggukan kepala sebagai respon, ya, asal bos senang saja lah, sesuai dengan moto gue selama ini. Sekarang gue lagi berpikir bagaimana di dalam waktu enam jam ini gue harus packing pakaian gue dan juga bos gue, lalu bersiap untuk pergi ke bandara. "Mungkin kamu akan kurang tidur, tapi nanti kamu bisa tidur di pesawat," jelas bos yang gue iyakan dalam hati. "Iya Bos, asal Bos senang," timpal gue. And for the first time... he's smiling when i say that words... "Untuk menghemat budget saya cuma nyewa satu kamar hotel," ucapnya yang membuat gue reflek menengok ke arahnya dengan mulut menganga. Damn! Sendok yang gue pake sampe jatuh. "Kamu keberatan?" tanya bos, senyumnya yang tadi ada sudah mehilang entah kemana. "E-enggak bos, asal bos senang nggak masalah."  Masih untung lo nggak disuruh tidur di pinggir jalan Git... Semoga nanti nggak ada setan yang nempelin dia di Paris yang bikin dia tiba-tiba jadi diem nggak jelas kayak di Bali kemaren, dan semoga nggak ada setan yang memancing hal aneh terjadi di sana. Laki-laki dan perempuan berdua berada satu kamar di kota paling romantis di dunia? Hem... kalau laki-lakinya macam bos gue sih gue sangsi. *** Gue benar-benar tidak sempat tidur. Laynata Yisakha memang sialan. Gue baru diantar pulang ke rumah sekitar jam dua belas dan langsung packing pakaian gue dibantu sama nyokap. Nyokap kaget saat gue packing dengan koper yang cukup besar, keperluan selama lima atau enam hari di negeri orang haruslah dipersiapkan secara matang. Gue belum tentu sanggup membeli baju di sana bila barang bawaan gue kurang. "Kamu mau ke mana? Pulang malem-malem udah packing lagi aja," kata nyokap begitu melihat gue sibuk packing. "Aku mau ke Paris, jam empat nanti check in dan jam tiga aku dijemput," jelas gue dengan tangan yang masih sibuk bekerja untuk memasukkan barang ke dalam koper. Nyokap melotot. "Kamu mau kerja apa bulan madu?" "Ya kerja lah Ma! Masa iya bulan madu," balas gue ketus. "Mama kira Paris buat tempat bulan madu doang, soalnya, ngapain urusan bisnis di sana? Banyaknya kan disana bisnis fashion, perusahaan kamu bukannya bisnis property?" "Perusahaan bos aku Ma, bukan aku," koreksi gue. "Ya nggak tau lah Ma, aku cuma ikut aja. Lumayan kan sekalian cuci mata sambil kerja." "Sekalian liburan ya?" tanya nyokap masih dengan kadar kekepoannya yang luar biasa. Liburan apanya, gue ngeri diomelin lagi... "Doain aja sempet ya Ma, nggak yakin bisa liburan soalnya." Dan akhirnya malam itu gue habiskan dengan packing dan mengobrol sama nyokap dengan berbagai topic, mulai dari anak tetangga yang baru melahirkan, bayi tetangga yang suka main ke rumah sudah bisa jalan sekarang, drama korea, sampai nanya kapan gue punya pacar karena anak tetangga yang baru lulus SMA aja udah dinikahin pacarnya. Untuk topik terakhir bokap gue juga menanyakan hal yang sama kemarin. Bikin gue makin pusing aja. *** Gue dijemput dan disuruh menunggu di lounge khusus, untuk urusan imigrasi sudah diurus pihak maskapai. Jadi gini enaknya first class, gue tidak perlu repot dan tinggal duduk manis. Bos gue sudah duduk manis di lounge begitu gue datang. "Perjalanannya dua puluh dua jam karena kita transit dulu di Dubai tiga jam," jelas bos gue. Gue cuma manggut mengiyakan, sesungguhnya tidak peduli juga. Untuk saat ini gue hanya butuh tidur. Gue belum memejamkan mata barang sejenak sejak kemarin. Secangkir teh manis hangat yang disajikan di hadapan gue membuat bingung. Padahal gue belum pesan. "Saya yang pesan," ucap bos begitu melihat gue yang kebingungan. "Makasih Bos," jawab gue dan meminum minuman itu. Bos menunjukkan menu yang ada di tangannya dan gue disuruh memesan makanan yang ada di sana. "Anggap aja early breakfast," tukasnya begitu gue melihat ke arahnya dengan tatapan bingung. Gara-gara kurang tidur, gue menjadi seperti orang bodoh, banyak bengongnya. Gue pun segera memesan menu yang tersedia dan berharap cepat-cepat terbang. Gue mau tidur! Kesialan gue bertambah saat posisi kursi tidak dekat dengan jendela, tapi ada di tengah, dan samping-sampingan sama bos. Mana dia tidak mau nenutup penyekatnya antara kursi kami. Jadi semua yang gue lakukan terlihat olehnya. Begitu pesawat terbang, bos yang repot menyuruh pramugari menyiapkan kursi gue untuk jadi tempat tidur. Saat gue kembali dari kamar mandi untuk memakai piyama, tempat tidurnya sudah selesai disiapkan, dan gue tidur dengan nyenyak tanpa mempedulikan keadaan sekitar, termasuk si bos. Gue belum lama tertidur saat bos membangunkan gue untuk makan lagi. Gue udah menggeleng dan menolak, tapi mulut gue udah disumpal sendok yang berisi makanan olehnya. "Udah kunyah aja, nggak usah banyak protes," ucapnya. Pada akhirnya gue hanya mengunyah makanan, sementara bos sibuk menyuapi gue. Ini gue merasa seperti anak kecil, tapi mata gue masih berat dan mulut gue masih susah untuk mengoceh, jadi gue hanya menuruti titah bos. Makanan selalu dikirim ke kompartemennya, sementara gue hanya duduk berselonjor menerima suapan yang diberikan olehnya. "Honeymoon trip?" tanya seorang pramugari dengan senyum ramahnya. Bos gue tidak menjawab pertanyaan itu, dia malah diam aja. "Buka—" Ucapan gue terpotong karena bos memasukkan buah ke mulut gue secara tiba-tiba. Jadi gue tidak sempat klarifikasi, hanya sibuk mengunyah dan menelan.  Setelahnya pramugari itu pamit, dan memberitahu bila kami membutuhkan keperluan apa pun, bisa memanggilnya atau rekannya yang lain. "Udah Bos saya udah kenyang," tolak gue saat bos akan menyuapi gue lagi. Bos gue diam dan menuruti ucapan gue. Tumben tidak protes. Sekarang gantian bos yang mengganti bajunya dengan piyama, sementara kursinya dibereskan oleh pramugari agar berubah menjadi kasur. Karena lama menunggu bos yang belum kembali juga, akhirnya gue tertidur. Saat bangun gue melihat wajah bos tepat berada di hadapan gue, dan ia juga sedang tertidur. Kalau tidur bos gue kelihatan jauh lebih tampan, tidak ada kerutan alis di dahinya, kesan galak dan angkuhnya pun menghilang. Tangan gue perlahan membereskan rambutnya yang terlihat berantakan, dan saat dia bergerak, gue buru-buru menarik kembali tangan gue. Jantung gue berpacu, takut bos bangun, tapi syukurnya tidak, gue jadi bisa menghembuskan napas lega. Lagian gue juga ngapain sih megang-megang?! Gue pun mengambil earphone dan mencoba mendengarkan musik dari ponsel, dan lagu yang terputar ternyata milik big bang, Let's not fall in love. "Yeah, let's not fall in love bos," ucap gue sambil sibuk men-scroll layar ponsel. Pergerakan tangan gue terhenti saat gue mendengar... "Kamu ngomong apa barusan?" Lah?! Udah bangun dia?! Mampus gue. "Kamu ngomong apa barusan?" Panik adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi ini. "Saya haus Bos," kilah gue. Semoga bos percaya dengan alasan gue. Bos langsung memberikan air minum yang ada di sampingnya tanpa banyak omong. Setelahnya kami hanya terdiam, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Gue menonton film, dan dia sibuk dengan tabletnya. Aduh dia denger nggak ya.... Gue masih sibuk memikirkan hal itu sampai pesawat landing dan kami transit di Dubai. Dari sikapnya sepertinya tidak ada perubahan apa pun, tapi feeling gue tidak enak. Menunggu tiga jam itu terasa lumayan lama, setelah mendapat sajian makan gue bingung mau ngapain lagi, bos juga tidak ada niat untuk keliling bandara dan mengecek store yang berada di sana, dia hanya duduk manis dengan tablet di tangannya. "Kamu nggak ngantuk? Tadi tidurnya kan belum lama?" tanya bos tanpa melihat ke arah gue. Posisinya kami duduk berdampingan di sofa untuk ukuran dua. Sebenernya ngantuk sih bos, tapi masih kepikiran yang tadi. "Ya, masih Bos," jawab gue. "Ya tidur lah," titahnya. Gue akhirnya menyandarkan badan di sofa, sofanya yang tidak terlalu tinggi membuat gue tidak nyaman karena leher gue tidak ada halangan apa pun, sulit mencari posisi yang nyaman. Tidak lama gue merasa bos menarik tubuh gue untuk mendekat ke arahnya, dan dia menaruh kepala gue untuk bersandar di bahunya. "Masih ada dua jam lagi, tidur yang bener." Wangi bos menyeruak di hidung, bahunya yang cukup lebar memberi kenyamanan tersendiri untuk disandari. Gue juga merasa lebih hangat sekarang. Tidak lama gue melihat seorang perempuan duduk di sofa samping kami. Gue ingat dia merupakan salah satu penumpang pesawat yang sama. Perempuan itu melihat kami dengan cukup intens hal itu membuat gue salah tingkah, jadi gue lebih memilih untuk memejamkan mata dan mengabaikannya. Ini mungkin mbaknya mau tebar pesona sama si bos... "Honeymoon trip?" tanya perempuan itu ke bos. Pasti mbaknya cuma basa-basi untuk tau status si bos. Gue yang penasaran akan jawaban bos pun memasang kuping gue baik-baik. Tapi tidak ada suara apa pun yang keluar dari mulutnya. "Paris emang kota romantis yang cocok dihabiskan sama pasangan pengantin baru, jadi kangen suami sama anak di rumah," LAH?! UDAH NIKAH MBAKNYA? "Istrinya lagi nggak enak badan atau gimana Mas? Kayaknya lagi nggak fit, pucet gitu," ucap perempuan itu. ISTRI?! Ini semua gara-gara bos yang menyuruh gue untuk memakai pakaian senyamannya aja dan jangan terlalu formal karena perjalanan yang cukup lama. Kami jadi tidak terlihat seperti asisten dan bos yang sedang melakukan perjalanan kerja. "Mungkin kecapekan karena perjalanan jauh," jawab bos datar. "Udah dites belum Mas? Siapa tau udah isi. Lagian nggak baik ngelakuin perjalanan jauh kalau hamil muda." Damn! mulut mbaknya makin nggak ke kontrol. Sebisa mungkin gue menahan untuk tidak tertawa ataupun berteriak saat mendengar ocehan perempuan itu. Lagian kenapa si bos tidak memberi klarifikasi? Tubuh gue sedikit digeser oleh bos yang membuat gue pura-pura terbangun. "Saya harus ke toilet," ucapnya gue yang gue angguki. Begitu bos pergi, perempuan yang tadi mengajak ngobrol si bos menyapa gue dengan senyumannya. "Saya punya minyak angin, mau pakai?" Kebetulan banget gue butuh, akhirnya gue mengangguk mengiyakan dan mengucapkan terima kasih sama perempuan itu. Akhirnya kami terlibat dalam perbincangan singkat ala perempuan. "Mbak ke Paris ada urusan kerja atau apa?" "Iya, saya nemenin Bos saya. Kebetulan ada meeting disana," Laaah... sama dong mbak "Bosnya yang mana Mbak?" tanya gue sambil melihat sekeliling. Dia menunjuk tangannya ke seorang laki-laki yang tidak terlalu tua atau pun muda yang sedang duduk memainkan tabletnya. "Itu bosnya?" tanya gue memastikan. "Iya? Kenapa? Keliatan kaku ya? Emang kaku bos saya," balas perempuan itu. Bos gue juga kaku, tapi kalau dibandingin sama bos mbaknya... ya jauh. Gue jadi mikir sendiri dengan hubungan gue dan bos. Katanya kami profesional, tapi kami ciuman, sekamar, suap-suapan, bahkan tadi dia menyanderkan tubuh gue ke badannya. Apa itu wajar? Gue jadi pengen nanya sama mbak ini jadinya. "Mbak? Pernah tidur sekamar sama bosnya karena kekurangan budget nggak?" Perempuan itu terdiam dan mengerutkan alisnya. "Sekurang-kurangnya budget dari kantor, bos saya pasti nyewa dua kamar meskipun bukan kelas VIP. Karena kami profesional. Nggak ada hubungan profesional yang satu kamar bukan? Yang ada itu bakal terjadi yang enggak-enggak kedepannya." Ada Mbak... contohnya saya. "Eh, itu suaminya udah balik lagi. Saya pergi dulu ya, semoga cepet dapet momongan!" ucapnya seraya beranjak. "Mbak, ini minyak anginnya!" "Itu buat kamu aja. Kayaknya kamu lebih butuh.” Bos datang dengan chocolate ice di tangan kirinya, sementara di tangan kanannya ada ice coffee yang sudah habis separuhnya. "Ini buat kamu," ucapnya seraya menyerahkan chocolate ice. "Makasih, Bos." Dan selama perjalanan ke Paris gue tenggelam dalam pemikiran tentang hubungan kami yang tidak bisa disebut profesional lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN