Setelah perjalanan panjang akhirnya gue sampai di hotel tempat kami menginap. Gue tidak menyangka akan menginjakkan kaki di tempat yang dinobatkan sebagai salah satu tempat paling romantis di dunia, bahkan menara eiffel kelihatan dari jendela kamar dengan begitu jelasnya.
Gue masih memandang ke sekitar untuk melihat pemandangan yang belum tentu akan gue temui lagi nanti. "Suka sama pemandangannya?" tanya bos yang gue angguki dengan semangat, sebelum gue sadar sepertinya pertanyaan bos bukanlah pertanyaan yang wajar bagi seorang bos kepada asistennya.
Semenjak mengobrol sama perempuan di Dubai tadi, gue jadi menganggap banyak hal yang ada antara gue dan bos tidaklah wajar, terutama sikapnya selama ini.
"Mau keliling hotel atau istirahat?" Pertanyaan bos membuat gue tersadar dari lamunan. Meskipun lelah, gue memilih untuk berkeliling. Karena kalau mau tidur ya lebih baik di rumah, bukan di Paris gini.
"Keliling hotel Bos," jawab gue.
Dia pun jalan keluar kamar yang gue ikuti dari belakang, tidak lupa gue mensejajarkan langkah dengannya agar tidak diomeli lagi.
"Kalau mau ke mana-mana kamu bilang sama saya, ini bukan Bali yang bahasa kamu bisa dimengerti sama semua penduduknya. Kalau kamu hilang saya yang repot," ucap bos saat kami berjalan di lorong hotel.
"Iya Bos," balas gue patuh.
Setelah naik lift kami sampai ke rooftop, dan menara eiffel kelihatan jauh lebih jelas dari sini. Wajar saja kalau budget-nya mahal, pemandangannya saja seperti ini. Mungkin kalau di hotel biasa budget-nya tidak akan semahal ini dan kami bisa sewa dua kamar.
Hotel yang kami tempati memang termasuk yang paling luxury di sini. Gue tidak berani meliat tagihannya karena takut sakit hati.
"Nanti siang kita makan di sini, malamnya baru kita ketemu klien."
"Di mana Bos?"
Saat tangan bos gue menunjuk menara eiffel, gue tau malem ini bukanlah pengalaman makan malam biasa.
***
Entah mengapa gue deg-degan sekarang. Ayolah siapa yang nggak deg-degan dibawa ke tempat seromantis menara Eiffel? Meskipun gue ke sini hanya untuk urusan bisnis. Antriannya di luar banyak banget, tapi bos sama sekali tidak mengantri seperti yang lainnya, dia bilang orang yang mau kami temui mempunyai VIP akses.
Tangan gue dikaitkan oleh bos di tangannya untuk bergandengan. Saat menghadiri undangan kami juga sudah biasa melakukan hal ini. Tapi semakin ke sini gue semakin sadar kalau ini aneh.
Setelah naik lift akhirnya kami sampai ke restoran di menara Eiffel itu. Gue bisa melihat lampu-lampu cantik Kota Paris dari atas sini. Benar-benar pemandangan yang tiada duanya. Kami berjalan menuju kursi yang tertata dengan rapi, dan bos melangkah ke dua buah kursi dengan pemandangan terbaik di sini.
Ini tempat makan dua orang doang? Lah klien bos di mana dong?!
"Tempatnya bukan di situ," kata bos yang membuat gue menghela napas. Ternyata kami hanya melewatinya saja. Yah, gue udah pede aja jalan ke tempat yang paling bagus pemandangannya tadi.
"Kursi itu biasanya dipesan khusus buat orang yang mau tunangan," jelas bos.
"Wajar sih, soalnya bagus banget pemandangannya," timpal gue sambil menganggukkan kepala pelan dan kikuk.
"Kursi kita di sini," kata bos gue sambil menunjuk meja untuk empat orang di sisi lain.
Setelah kami duduk, ada pelayan datang memberikan air putih dan juga wine. Kemudian ada pasangan bule datang menghampiri meja kami. Di saat bos gue berdiri dan mengulurkan tangannya, gue tau kalau mereka adalah klien yang si bos maksud.
Setelahnya bos terlibat percakapan dengan bule itu sementara gue mencatat di tablet. Oke, gue pernah kursus Bahasa Inggris, dan mengambil kelas toefl juga. Tapi english accent french people tuh... susah dimengerti, hhhh.
Gue hanya senyam-senyum jika mereka mencoba melibatkan gue dalam obrolan. Gue harus kembali menanyakan poin-poin yang gue catat agar tidak salah. Dia sepertinya tidak bermasalah sama sekali dengan aksen bicara rekan bisnisnya ini, atau mungkin memang sudah terbiasa.
Setelah percakapan yang cukup panjang, kedua pasangan bule itu pamit pergi bahkan tanpa memesan makanan terlebih dulu.
"Bos, mereka nggak makan dulu?" tanya gue dengan heran.
Bos menggelengkan kepalanya. "Mereka masih ada urusan dan lebih milih makan malam di rumah sama keluarganya, soalnya anaknya yang kuliah di Amerika pulang."
"Loh? Tadi bukan asistennya?" tanya gue bingung. Soalnya bule cewek tadi melakukan tugas yang kurang lebih sama dengan gue.
"Asistennya, tapi istrinya juga," jawab bos gue.
Gue pun kembali menganggukkan kepala dengan kikuk. Seorang bos dan asistennya bisa berakhir dengan menikah juga ternyata.
"Karena kita udah sampai sini, kita makan di sini aja ya?" ajak bos yang gue respon dengan anggukan. Kapan lagi gue bisa makan di sini? Kesempatan ini nggak boleh terlewat gitu aja.
Bos akhirnya memanggil pelayan untuk membawakan menu, dan pelayan itu memberikannya tidak lama kemudian. Melihat tulisan yang ada membuat gue panik. Gue sama sekali tidak mengerti bahasa Perancis.
Bos sudah memesan, sementara gue masih mencerna tulisan-tulisan yang ada di sana dengan pandangan bingung. Bos memperhatikan dengan sudut matanya yang membuat gue semakin salah tingkah.
"Bos, saya nggak ngerti sama menunya," ucap gue jujur yang membuat sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Gue merasa malu sekaligus bodoh. Tapi dia terkesan biasa saja dan membantu gue memesankan makanan setelahnya.
"Maaf ya Bos ngerepotin," ucap gue tidak enak.
"Nggak apa-apa," timpalnya.
Setelahnya kami terdiam, bingung mau ngapain. Ngobrol juga bingung topik apa yang harus diangkat. Gue udah salting duluan karena bos yang tidak berhenti menatap gue, jantung gue jadi bekerja dengan tidak normal.
Gue pun mengambil Wine yang disediakan dan menyesapnya sedikit. Gue tidak mau minum banyak karena takut mabuk. Apalagi sekarang gue lagi sekamar sama si bos. Kalau gue mabuk dan berkelakuan aneh, bisa bahaya.
Toleransi alkohol gue berbanding terbalik dengannya. Bos gue sudah dengan gelas ketiganya, sedangkan gue masih dengan gelas pertama. Untungnya tidak lama kemudian makanan yang kami pesan pun datang, membunuh kecanggungan yang terjadi di antara kami.
Memang tidak salah gue mempercayakan pilihan sama si bos. Makanan yang dipesan sepertinya enak. Ia langsung mengambil piring yang ada di depan gue dan memotong-motong steak yang disajikan.
Setelah selesai memotong bos gue pun mengembalikan piring gue ke depan gue lagi. "Makasih bos," ucap gue yang dia angguki. Setelahnya kami makan dengan tenang sampai...
"Kamu mau nyoba?" tanya bos gue sambil melirik ke arah menunya. Menu gue dan bos berbeda, gue dipesankan steak sedangkan menu bos adalah ikan.
Gue menggeleng sebagai jawaban, tapi bos sudah memotong ikan miliknya dan mengarahkan garpunya ke depan mulut gue. Gue membuka mulut dengan ragu, dan bos langsung menyuapkannya, ikan enak itu berakhir di dalam mulut gue.
Gue pun melakukan hal yang sama kepadanya, gue menyodorkan daging ke depan mulutnya yang dia terima tanpa ragu.
Setelah selesai makan, bos bertanya, "mau langsung ke hotel atau jalan-jalan di sekitar sini?"
Kapan lagi gue jalan-jalan di kawasan menara eiffel malam hari gini? "Jalan-jalan Bos!" jawab gue tanpa ragu.
Melihat menara Eiffel dari jarak sedekat ini benar-benar membuat gue takjub. Gimana bikinnya adalah pertanyaan yang paling pertama keluar di otak gue.
Ternyata di luar sini cukup ramai, banyak orang dan pasangan yang duduk untuk menikmati pemandangan menara Eiffel di malam hari, meskipun saat tidak ada pertunjukan lampu yang ada hanya kegelapan malam yang menemani, hal itu tidak menyurutkan minat orang-orang untuk mengunjungi salah satu keajaiban dunia ini.
“Mau nunggu pertunjukan lampunya nyala atau gimana?”
“Boleh Bos?” tanya gue penuh harap.
Bos melihat ke arah tangannya yang dihiasi oleh jam dari salah satu merek ternama sebelum kembali memandang gue. “Sepuluh menit lagi, ayo nunggu.”
“Yeay!” Gue tidak segan untuk melompat sebagai ungkapan rasa kebahagiaan, sementara bos hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis.
Bos pun mencari spot yang masih kosong dan kami menunggu lampu untuk menyala. Lampu di Menara Eiffel akan menyala selama lima menit di setiap jam, mulai dari petang hingga pukul satu pagi. Mungkin gue tidak akan bisa melihat pemandangan ini untuk yang kedua kalinya, jadi gue begitu bersemangat menantikannya.
“Seneng banget,” ucap bos yang membuat gue mengulum senyum.
“Saya nggak tau kapan akan menginjakkan kaki lagi di sini untuk melihat kemegahan salah satu keajaiban dunia ini, Bos,” ungkap gue jujur.
Angin malam yang berhembus kencang tidak menyurutkan semangat gue untuk menantikan pertunjukan cahaya itu. Gue masih sibuk melihat sekitar sampai merasakan sebuah mantel tersampir di bahu.
“B-Bos?”
“Anginnya dingin, baju kamu terlalu tipis,” ucapnya seraya membenarkan posisi mantel agar tidak terjatuh, tangannya kini seperti melingkupi tubuh gue.
Suasana yang berubah menjadi terang tiba-tiba tidak membuat gue mengalihkan atensi dari wajah bos yang kini tersenyum saat menikmati pertunjukan lampu. Gue tidak tau yang mana yang lebih indah saat ini, pertunjukan lampu di Menara Eiffel, atau wajah bos yang sedang tersenyum.
***
Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk menyusuri jalanan di kota Paris saat malam hari, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke hotel.
Bos hanya membuka dasi dan kaos kakinya, lalu menaruhnya dengan sembarangan dan langsung membaringkan diri di kasur.
Gue pun mengambil dasi dan menggantung mantelnya yang masih menempel di tubuh, tidak lupa menaruh dasinya di gantungan. Siapa tau bisa dipakai lagi.
"Nggak cuci muka sama sikat gigi Bos? Bajunya juga belum ganti," tegur gue yang kini sedang membuka tas belanjaan kami.
Bos menggeleng di kasur, persis seperti anak kecil. Dia kelihatan lucu kalau tidak mengeluarkan sifat angkuhnya kayak gini.
"Nanti gerah Bos, Bos nggak bisa tidur. Lagian sayang piyama yang udah dibeli tadi," ucap gue menasihati.
"Iya saya ngalah deh, kamu cerewet ternyata," timpal bos seraya masuk ke kamar mandi dan mengambil piyamanya dari tangan gue.
Karena persiapan yang mendadak, gue tidak membawa piyama. Akhirnya tadi kami membeli piyama. Bos juga hanya membawa celana training sama kaos polos, dan katanya dia mau pakai itu buat menikmati fasilitas gym di sini, jadi mau tidak mau kami harus beli piyama baru.
Karena kebetulan piyama couple sedang diskon, jadi kami milih yang itu. Sebetulnya gue yang memilih karena bos sepertinya tidak memikirkan budget. Hanya saja toko yang kami datangi tadi lebih banyak menyediakan baju tidur yang modelnya 'wow' dan sisanya lingerie.
Gue masih waras untuk tidak memakai itu di depan bos yang punya track record panjang sama perempuan. Jadi gue memilih model piyama couple yang menurut gue paling normal dibandingkan baju tidur lainnya.
Padahal bahan yang digunakan jauh lebih banyak dari lingerie, tapi harganya kenapa jauh lebih murah ini?
Tidak lama bos keluar dengan penampilan yang lebih segar, tapi dia tidak memakai piyama atasannya. Entah gue harus bersyukur karena dia tidak hanya menggunakan handuk atau mengumpat karena ia memamerkan tubuh bagian atasnya yang berbentuk sempurna.
"Gantian sana kamu yang mandi," titahnya yang gue jawab dengan anggukan gugup. Waktunya begitu tepat karena gue lagi butuh air dingin setelah melihatnya yang bertelanjang d**a.
Setelah gue selesai mandi, bos masih terjaga dan sedang bersandar di kepala ranjang. Dia sudah memakai piyamanya, tapi kancing bajunya dibuka. Otot perutnya mengintip dari balik piyama. Ya Tuhan, inikah godaan setan?
Gue pun duduk di ranjang dengan sedikit malu-malu. Apa begini rasanya malam pertama? Canggung dan kikuk.
"Besok jadwal kita free karna Mr. Mathews sama istrinya ada jadwal sama keluarganya. Kita baru ketemu sama mereka lagi lusa."
Gue hanya menganggukan kepala sebagai jawaban mengiyakan, gue bingung juga harus jawab apa.
"Mau wisata di daerah sini?" tawarnya.
Kesempatan emas bukan?
"Boleh Bos, asal Bos nggak keberatan,"
"Saya juga nggak mungkin menghabiskan waktu di hotel dan nggak ngapa-ngapain," ucap bos yang membuat gue berpikir keras. Emangnya biasanya Bos ngapa-ngapain kalau di hotel?
"Ayo tidur," ajaknya.
"Oh ya, Bos," sela gue yang membuat pergerakan bos yang bersiap untuk tidur terhenti.
"Ya?" tanyanya menunggu ucapan gue lebih jauh.
"Jangan buka kaitan bra saya lagi pas saya lagi tidur," pinta gue dengan kikuk. Gue jadi ingat waktu pertama kali tidur satu ranjang dengan dia di apartemennya. Wajah bos memerah sekarang.
"Kalau kamu mau lepas juga gapapa,"
Enak aja, menang banyak dong lo!
"Nggak bos, makasih."
***
Besoknya saat pagi bos mengajak gue ke tempat penyewaan sepeda, dan kami menyusuri jalanan kota dengan bersepeda. Bos kembali mengajak gue pergi ke Menara Eiffel di pagi hari. Di pagi hari kami bebas untuk memotret sepuasnya, tidak seperti malam hari.
Udara yang cukup dingin meresap ke dalam pori-pori, pagi yang dimaksud oleh bos memang benar-benar pagi. Setelah lelah bersepeda kami membeli jajanan di kawasan sekitar menara eiffel untuk sarapan.
Setelah cukup lepek bersepeda akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan ganti baju. Setelah istirahat sebentar, bos mengajak gue ke sungai Seine. Katanya di sana ada kapal, dan di dalam kapal itu ada restoran, jadi kami bisa makan sambil meliat pemandangan di sekitar sungai. Bos bilang kalau kami akan makan siang di sana, hal itu membuat gue sangat antusias.
Bagian atas kapal terdapat kursi-kursi untuk memotret pemandangan sekitar, sedangkan di bagian bawah ada restoran. Kami bisa makan sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang di pinggir sungai. Gue tidak bisa mendeskripsikan hari ini dengan kata lain selain indah.