Tantangan Sinar

1312 Kata
Dinda berhenti, menolak untuk terlihat lemah. "Ada apa, Mas Arjun?" sapa Dinda tenang. "Kenalkan, Sinar, pacarku. Cantik, seksi, menarik, kan?" Arjun memperkenalkan Sinar dengan nada sombong. "Hai, salam kenal. Saya Dinda, calon istri Mas Arjun," sapa Dinda, hati berdebar, namun suaranya tetap tenang. "Oh, calon istri pilihan Romo? Kasihan sekali, Arjun," gumam Sinar, tersenyum sinis. "Silakan nikmati hari indah kalian. Assalamu'alaikum," pamit Dinda, pergi dengan anggun. Arjun kesal. Rencananya agar Dinda minder dan membatalkan pernikahan gagal. "Sinar, aku kejar dia! Aku harus membuatnya membatalkan pernikahan!" kata Arjun. Sinar mengangguk. Arjun menarik tangan Dinda. "Lepaskan! Jangan sentuh aku!" Dinda menepis tangan Arjun dengan tatapan tajam. "Loh? Aku calon suamimu! Bukankah kau ingin menikah denganku?" tantang Arjun. "Aku bilang lepaskan! Aku kasihan pada orang tuamu, punya anak seperti kamu yang tak tahu sopan santun!" Dinda membalas dengan sindiran pedas. "Belum jadi istri saja sudah berani?" gertak Arjun. "Bicara baik-baik, kenapa harus menarik tanganku?" Dinda tetap tenang. "Oke, aku lepaskan. Kau sudah lihat pacarku? Cantik dan seksi, kan? Masih mau menikah denganku?" Arjun menantang dengan nada meremehkan. "Aku menikah karena menghormati Romo dan orang tuamu. Jika kamu tak mau, katakan saja pada mereka. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Itu tak akan mempengaruhiku," jawab Dinda tegas. "Sialan! Aku akan membuatmu menyesal!" Arjun mengancam, menunjuk wajah Dinda. Tiba-tiba, Geger datang, menahan jari Arjun. "Dinda, ada apa ini?" tanya Geger. "Tidak penting, Pak Geger. Kenapa sendirian?" tanya Dinda, suaranya lebih lembut. "Pesan kue ulang tahun Vina, sekalian beli hadiah," jawab Geger. "Sama, Pak. Aku juga beli kado Vina. Permisi," pamit Dinda. "Dinda, tunggu! Ada yang ingin kutanyakan," Geger mencegah. "Sambil duduk di sana, Pak. Aku haus," ajak Dinda. Mereka pergi, meninggalkan Arjun yang semakin dendam. Setelah memesan minuman dan cemilan, mereka duduk berbincang. "Pak Geger, ada yang ingin Anda tanyakan?" "Begini, Dinda. Tadi saya tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan pemuda itu. Maaf jika saya lancang, tapi apakah kamu akan menikah dengannya?" tanya Pak Geger. "Iya, Pak Geger," jawab Dinda jujur. Pak Geger baginya seperti kakak sendiri. Dinda pun menjelaskan tentang perjodohan yang dialaminya, air matanya berlinang. "Ya Allah, Dinda. Sabar ya. Mintalah petunjuk Allah, semoga diberikan jalan terbaik. Saya sudah lama menganggapmu seperti adik sendiri. Jika ada apa-apa, ceritakan padaku. Sebisa mungkin, saya akan membantumu," ujar Pak Geger, ikut bersedih. "Terima kasih, Pak Geger," jawab Dinda, lega setelah menceritakan isi hatinya. "Minumlah ini agar tenang. Kue ini juga enak, lho. Biasanya kalau Vina sedih, saya belikan ini," hibur Pak Geger. Dinda tertawa. Sejujurnya, jika boleh memilih, suami idamannya seperti Pak Geger santun, lembut, dan rajin beribadah. Namun, itu hanya kekaguman. Ia tahu Pak Geger hanya menganggapnya sebagai adik. Apalagi, ia tak bisa menghindari pernikahannya dengan Arjun. Saat Dinda menoleh, ia melihat Arjun menatapnya tajam. "Hah, sejak kapan dia di sana? Apa dia melihatku? Ah, mana mungkin. Toh, aku bersama laki-laki lain, apa urusannya? Dia juga tak tertarik padaku," batin Dinda. .... Dinda mengenakan gamis syar'i dan niqab. Di depan cermin, ia merenung. Anugerah Allah telah memberinya kecantikan yang luar biasa, warisan darah Arab dari ibunya mata indah, hidung mancung, bibir dan dagu yang menarik. Tingginya memang hanya sekitar 160 cm, namun cukup ideal untuk ukuran perempuan Indonesia. Meski cantik, ia tak sombong, berkat didikan orang tuanya. Baginya, keindahan sejati akan tetap bersinar, meski tersembunyi di balik kerudung. Ia tiba di perumahan mewah Pak Geger, sengaja datang lebih awal untuk bertemu Vina sebelum teman-temannya datang. "Tante…," sapa Vina setengah berteriak. "Vina, kita kan sudah bicara, ucap salam dulu," tegur Dinda lembut. "Oh iya, maaf, Tante. Assalamu'alaikum, Tante Dinda yang cantik," sapa Vina. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu juga cantik, Vina," balas Dinda. "Tapi Tante Dinda memang cantik! Dulu, saat menyelamatkan saya, cadarnya terlepas. Tante cantik sekali!" puji Vina antusias. Dinda tertawa, mengelus kepala Vina. Selain orang tuanya, hanya Vina yang pernah melihat wajahnya. Dulu, ia buru-buru menutup wajahnya karena terluka. "Dinda, silakan masuk. Maaf, masih berantakan," kata Pak Geger. "Iya, Pak Geger," jawab Dinda. Setelah duduk, Dinda memberikan kado untuk Vina. "Selamat ulang tahun, keponakanku sayang. Semoga selalu berkah, tambah cantik dan pintar," ucap Dinda penuh kasih sayang. "Terima kasih, Tante Dinda. Bolehkah aku membukanya sekarang?" tanya Vina. "Boleh, dong," jawab Dinda. Vina bersemangat. Ia terpana melihat boneka beruang besar itu. "Wah, besar sekali! Ada pitanya juga, Tante Dinda," pekik Vina. "Suka?" tanya Dinda. "Suka sekali, Tante…" Vina memeluk Dinda erat. "Terima kasih banyak, Tante. Tante Dinda baik banget." "Sama-sama. Boneka ini untuk menemanimu tidur," kata Dinda. Vina mengangguk senang, memeluk boneka beruangnya. Tiba-tiba, Windi datang, membuat suasana gaduh. "Dasar pelakor! Sudah kubilang, jangan datang!" teriak Windi. "Mami, aku yang mengundang Tante Dinda," sela Vina, matanya berkaca-kaca. "Kamu anak kecil, tidak tahu apa-apa! Dinda itu tidak baik! Dia pura-pura peduli padamu untuk mendekati Papimu!" bentak Windi. "Astaghfirullahalazim, Mbak Windi, jangan memfitnah! Saya baik pada Vina karena tulus menganggapnya keponakanku," bantah Dinda. "Jangan sok suci! Kalau bukan karena kamu, keluargaku masih utuh!" bentak Windi. Vina ketakutan, memeluk Dinda, bukan Windi. Pak Geger keluar, menatap tajam Windi. "Windi, kalau kamu hanya mau ribut, lebih baik pergi! Hidupku dan Vina jauh lebih baik tanpamu!" bentak Pak Geger. "Mas, dulu kamu tidak seperti ini. Setelah bertemu perempuan ini, kamu berubah, tidak mau kembali padaku," rengek Windi, suaranya lebih lembut. "Dengar baik-baik! Kita cerai sebelum aku kenal Dinda. Kamu yang minta cerai! Kehidupan aku dan Vina membaik, lalu apa alasanmu kembali? Kalau bukan karena Dinda, aku juga tak sudi kembali padamu!" balas Pak Geger. "Aku ingin mengambil Vina, dia anakku juga," sela Windi. "Tidak bisa! Dulu kamu meninggalkannya! Saat Vina sakit, menangis memanggilmu, kamu di mana? Karena aku bangkrut, kamu pergi dengan laki-laki lain!" bentak Pak Geger, menggendong Vina. Vina menangis. Pertengkaran orang tua selalu menyakiti anak. "Sudah, jangan bertengkar lagi. Kasihan Vina, ini hari ulang tahunnya. Teman-temannya akan datang," bujuk Dinda. "Aku akan berhenti kalau kamu pergi!" kata Windi. "Baiklah, aku pamit. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," kata Dinda, mengalah. "Tante Dinda, aku tidak mau Mami! Aku mau Tante Dinda saja!" teriak Vina histeris. "Windi, lihat! Anak kecil saja tahu siapa yang baik," sindir Pak Geger. Dinda ingin pergi, tapi melihat Vina menangis, ia tak tega. "Sebentar lagi aku menikah, mungkin setelah itu aku tak bisa sering bertemu Vina lagi," batin Dinda. Dinda tetap tinggal, mengabaikan Windi. "Dasar perempuan tak tahu malu!" gumam Windi. Dinda menghela napas. Ia mengerti mengapa Pak Geger tak tahan dengan Windi. "Windi, hormati putrimu! Kalau tidak bisa menjaga sikap, pergi saja! Jangan buat dia malu, teman-temannya akan datang," tegur Pak Geger tegas. "Iya, Mas…" jawab Windi terpaksa. Vina menangis hingga penampilannya berantakan. Dinda merapikannya. "Vina, biar Mami saja, ya?" tawar Windi. Vina menggeleng, takut pada Windi yang terlihat menyeramkan. Dinda menatap Windi tanpa gentar. "Mbak Windi, buang pikiran negatif itu. Saya tak berniat mendekati Pak Geger. Saya akan menikah, dan punya calon suami!" kata Dinda tenang. Windi bungkam, tapi hatinya tetap kotor. Teman-teman Vina datang meriah. Saat pemotongan kue, Geger menyuapi Vina pertama, lalu Dinda, terakhir Windi. Windi kesal dan iri. Geger melotot, memperingatkan Windi agar tidak membuat ulah. Setelah acara selesai, Dinda pamit pulang. "Tante Dinda, tidak mau bantu buka kado?" tanya Vina. "Maaf, Vina. Tante harus pulang. Nanti malam Tante telepon, ya. Ceritakan hadiahnya," tolak Dinda halus. "Vina, kan ada Mami. Kamu tidak rindu Mami?" sela Windi. "Mi, aku tidak mau bersama Mami," tolak Vina polos. "Sayang, Tante Dinda sibuk. Biar Papi saja, ya?" kata Pak Geger. "Baiklah, Tante hati-hati di jalan," kata Vina. "Iya, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Dinda. "Wa'alaikumussalam…" Hanya Geger dan Vina yang menjawab. Dinda tak peduli, Windi memang membencinya. Windi menyusul. "Dinda, sudah kubilang berkali-kali, jangan dekat-dekat Geger dan Vina! Jangan main-main denganku!" ancam Windi. "Mbak Windi, saya akan menikah. Jangan salah paham. Kami hanya teman dan rekan kerja," jelas Dinda. "Alasan! Siapa yang mau menikahimu? Kamu pakai cadar karena jelek dan takut diejek, kan?" sindir Windi. "Terserah Mbak Windi percaya atau tidak. Saya tak berniat mendekati Pak Geger. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," kata Dinda, masuk mobil dan pergi. "Dasar munafik, wanita ular!" umpat Windi keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN