Aku duduk tepat menghadap kedua orang tua Pak Arik yang merupakan mertuaku juga. Ada rasa gugup menjalar membuat kedua telapak tangan basah dan dingin. Tanganku saling bertaut berusaha meredamkan rasa yang menimbulkan degupan kencang. Hawanya jadi terasa panas meski AC sentral telah menyejukkan ruangan ini. Di sampingku sebelah kiri, duduk Axel dan sebelah kanan ada Pak Arik. aku diapit dua kakak-beradik yang menyebalkan. Sedang Alisa memilih berada di samping ibu mertua dan menatapku dengan awas. "Siapa namamu tadi?" Ibu mertua kembali bertanya. Ia tidak berhenti menatapku. Entah kenapa, aku merasa tatapan yang diberikannya adalah tatapan tidak suka. Masih kuingat jelas bagaimana ekspresi wajahnya saat mendengar Axel mengenalkanku sebagai calon istrinya. *** "Ini Luna, calon istriku."

