Badanku terasa melayang, dan hm … aroma ini? wangi sekali. Aku seperti pernah menciumnya…. Kucoba keras membuka kedua mata. "Mas Arik …," lirihku setelah berhasil membuka kelopak mata yang berat dan yang terlihat adalah wajahnya yang begitu dekat. "Kamu sadar?" tanyanya terkejut. Sadar? Maksudnya? Aku tidak mengerti, tapi aku mengeratkan rangkulan tanganku di lehernya setelah menyadari telah berada dalam gendongannya. Dengan mata terpejam kuhirup tajam aroma maskulin yang menguar dari badannya. Jadi, wangi yang kucium tadi, dari sini? Pantas baunya familiar. Gerak langkahnya semakin cepat hingga akhirnya kurasakan badanku direbahkan dengan sangat pelan di atas tempat tidur. "Syukurlah sudah sadar. Kamu membuatku takut." Dengan napas terengah ia mengatakannya. Takut? Kenapa? Ing

