"Iya. Ini lagi di jalan mau pulang." Akhirnya Pak Arik mengangkat telepon yang sedari tadi terus berdering dari ponselnya. Itu pasti Alisa. Bisa ditebak dari cara Pak Arik menjawabnya. Aku diam menyimak. "Iya, dia baik-baik saja." Pak Arik melirikku sekilas, dan kutatap balik juga. "Lemas mungkin karena telat makan," sambungnya kemudian. Pasti ngomongin aku. Kupejamkan mata berpura tidur agar dikira tidak menguping pembicaraannya dengan Alisa. "Mungkin …, Iya." "Belum, dia menolak, tapi sudah kubelikan makanan." "Bukan begitu. Memang sepertinya yang dibutuhkannya itu makan. Nanti pas sampai rumah, aku akan panggil dokter lagi buat memastikan keadaannya." "Hm … aku memastikan dulu keadaannya. Kalau sempat, akan pulang. Nggak pa-pa' 'kan? Apa kamu mau nyusul ke sini?" "Oh, be

