(“Mama kepingin ketemu kamu. Mama kritis.”) Tunggu. Mama kritis? Mama kepingin ketemu aku? Barisan kata yang terlontar dari seberang telepon sana membuat Amanda sempat terhenyak. Sepertinya otak kecil dara itu masih memerlukan waktu untuk mencerna semua kata yang ia dengar. Mengapa orang di seberang sana menyebut sosok perempuan yang begitu familiar dengan mama? Akan tetapi, sayang sekali. Amanda belum juga menemukan jawaban. Meski sudah sekian waktu ia habiskan untuk berpikir. Hingga akhirnya suara bariton di telepon itu meminta ketegasannya. "Jadi gimana, Mand? Kamu bisa ke sini 'kan?" harap seseorang di sana. Astaga. Amanda dibuat pusing dengan desakan halus dari pemilik suara bariton itu. Yang memaksa labiumnya mengkhianati isi pikirannya. Mengiyakan permohonan meski hati belum

