"Maafin Fandi, Ma. Tapi Fandi gak tahu dengan apa yang mama maksud,” tutur Affandi dengan nada bicara setenang mungkin. Sama sekali tidak menyiratkan bagaimana cukup kelabakannya dia sekarang. Mendengar barisan kata yang terucap dari putra kesayangannya, Aninda hanya menyunggingkan senyum kecut. Perempuan lewat paruh baya itu merasa begitu prihatin dan juga kecewa. Yah, satu-satunya anak lelaki yang ia gadang-gadang sebagai pria baik-baik, nyatanya tega mencederai kepercayaannya. Beralasan mencari ketenangan diri, lelaki itu justru memperturutkan nafsu liarnya kepada seorang perempuan yang jauh lebih hina daripada Amanda. “Seberapa jauh hubunganmu dengan wanita itu? Sudah berapa kali kamu bersenang-senang dengannya? Menikmati setiap jengkal indah raganya, hem?” “Dia rupanya lebih hebat

