“Apa yang kamu lakukan, Affandi? Kamu bodoh! Anak macam apa kamu?” Berbagai bisikan bernada menyalahkan kini sesuka hati berkelabat dalam benak putra pemilik rumah sakit itu.. Mendistraksi konsentrasinya mengemudikan SUV berwarna putih itu. Yah, rasa sesal kini melingkupi diri lelaki berparas rupawan itu. Pikirannya kini mengembara dalam peristiwa yang telah berlalu. Masih teringat jelas bagaimana dia kukuhnya mempertahankan kepentingannya. Sementara, ia cukup paham bahwa yang diinginkan Aninda begitu sederhana. Dirawat oleh Amanda; perawat kesayangan mamanya. "Aargh! Kamu sungguh payah, Fandi!" rutuknya seraya memukul kemudi yang tak berdosa. Rasa kesal pada dirinya sendiri semakin memuncak tatkala ia kembali menerima panggilan suara dari kontak yang ia namai mama. Mengabarkan jika kond

