“Mama, benar-benar ya!” geram Amanda seraya meremas-remas kertas yang sama sekali tak berdosa itu. Entahlah, rasa haru dan prihatin yang sempat muncul, kini mendadak hilang begitu saja. Seiring ia selesai membaca surat dari Sang Mama.Tergantikan dengan rasa kesal karena di saat-saat tersulit seperti itu, masih saja getol mempertahankan argumennya. “Apa ini firasatku agar menyerah pada keadaan? Bagaimana kalau sakit mama bukanlah menjadi penghalangku untuk tetap bersama dengan Yogi?” tanya Amanda dalam hati seraya memandang langit yang tak pernah mengkhianati Sang Pencipta. Sayang seribu sayang, lamunan Amanda harus terhenti seiring gawainya mulai berbuat ulah. Yang sontak mengutus ekor mata Manda melihat layar gadget itu. “Mas Affandi,” Amanda mengeja nama putra kesayangan Aninda begit
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


