Curiga Amanda

1159 Kata

Amanda gegas mengambil langkah lebar, mengekor lelaki berjas putih yang berjalan begitu cepat di depannya. Hatinya kesal karena merasa seolah dipermainkan. Enak saja main pergi begitu saja, meninggalkan informasi yang tak utuh. Apalagi berkaitan dengan kondisi Afida. Gadis itu kian mempercepat jalannya, seiring radar sepasang netra hitamnya menangkap pergerakan sang dokter yang semakin cepat. Ia tak mau pintu kaca di depannya menjadi penghambat utama rasa penasarannya tertuntaskan. "Tolong jangan ditutup dulu," monolog Amanda seraya berlari kecil, berpacu dengan waktu dan kecepatan sesosok pria di dalam sana. Sayang, di saat Amanda berdiri tepat di depan pintu kaca, tangan kekar pria berpakaian khas nakes itu serta merta menggenggam daun pintu, bersiap menutupnya. "No! Jangan menyerah,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN