BAB XX

1059 Kata
“Aku ingin tahu.” Hana menantang. “Anak ini, habis sudah pertahananku.”, geram William dalam hati. "Jangan menyesalinya. William mencium bibir Hana. Menciumnya dalam sambil lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut Hana. Hana tidak bisa mengimbangi William yang nafsunya sudah sampai ke ubun-ubun. Hana kesulitan bernafas, William yang menyadarinya, menghentikan ciumannya sebentar. Setelah Hana menarik udara sebanyak-banyaknya, kembali William menciuminya lagi. Ciumannya pun turun ke leher Hana. Bulu kuduk Hana langsung meremang, tangannya mencengkram punggung William. “Jadi disini titik rangsangannya.”, batin William mendapat pencerahan. Tangan William juga ikut bermain, tangan kirinya menarik tengkuk Hana agar lebih mudah menjilat dan menghisap leher Hana dan tangan kirinya meraba perut Hana. Menerobos masuk ke dalam kaos Hana. Mencari kancing bra-nya dan membukanya. Entah bagaimana keduanya sudah telanjang bulat. Wajah Hana memerah, dia melihat tubuh polos William dalam remangnya cahaya bulan yang menerobos lewat jendela kamar namun samar karena kelambu. “Hana…aku sudah berjanji pada paman untuk tidak menyentuhmu sebelum kita menikah. Aku tidak bisa menyakitimu. Aku menghormatimu dan juga tubuhmu. Sabarlah, sabar sampai aku menikahimu.” Suara William terdengar dalam, mencoba menahan bagian tubuhnya yang sudah menegang siap untuk menerobos masuk. Hana menangis mendengar ketulusan William. “Maafkan aku.” William mengatur nafasnya, mencoba meredam semua. Tapi setelah beberapa lama kedua insan itu tidak juga tertidur. "Will...apa kau pernah melakukannya dengan wanita lain? Suara jangkrik dan binatang malam di luar sama saling bersahutan menyemarakkan suasana. "Tidak." "Kenapa?" "Itu adalah hal yang sakral. Lagi pula hatiku belum siap. Aku belum menemukan wanita yang tepat." "Kalau sekarang? Apa aku orang yang tepat?" Kilat binar mata Hana dapat terlihat dalam jarak sedekat ini. "Kau adalah orang yang tepat tapi saatnya yang belum tepat." Suasana hening kembali. "Will." "Emmm." Wiliam sudah memejamkan matanya sedari tadi. Dia harus tidur atau pembicaraan ini akan semakin panjang dan berujung pada segala kemungkinan tergila. "Aku pernah membaca buku tentang itu. Katanya akan sangat sakit jika dilakukan pertama kali tapi ada kenikmatan setelahnya." William membuka mata. Dia tidak habis pikir dengan cobaan ini. "Lalu?" "Tidak apa. Aku hanya bicara saja." "Kau mau mencobanya?" Hana menggeleng. "Sungguh? Aku bisa membuatnya tidak sakit. Hanya ada kenikmatan yang akan kau rasakan." William mulai menciumi Hana, membiarkan tubuhnya rileks dengan sentuhan. Lalu dia mulai menjilati ujung d**a Hana. Hana seketika menegang. Ada rasa nikmat yang asing, sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. "Uhh...Will.." William terus memainkan lidahnya, menghisap dan penjilatnya. " Aku suka dadamu. Cantik dan menantang." Hana tidak menjawab. Dia terus mendesah dengan tindakan William. "Nikmat?" "Iyahhh..." "Yang lebih nikmat lagi belum datang sayang." Tubuh William turun ke bawah. Ke antara dua paha Hana. Dibukanya kedua kaki indah yang sedari tadi tertutup menahan geli dan nikmat. Terpampang jelas hal yang belum pernah tersentuh pria manapun. "Kau masih suci sayang. Aku tidak tahan merasakanmu." "Will, apa yang kau lakukan? Aku malu." Dalam remangnya malam mereka mencoba sesuatu yang terlarang. Perlahan William mendekat, dia menyentuh milik Hana yang masih tersegel. Menyentuh dengan ujung lidahnya, menjilat, menghisap... "Will.....ahh...William....uhh...ini...ahh..." William seperti kesetanan. Dia menyukai suara seksi Hana, dia menikmati saat tubuh gadis itu bergetar hebat. "Aku...merasakan sesuatu...tunggu..Will...stop..." Seperti tuli dia terus menjilat dan menghisap. Tak lama teriakan panjang Hana membelah malam. "AHHHHHHHH....William...." Puncak kenikmatan dunia telah disentuhnya. Apakah cukup hanya sekali dimana dia tidak akan kesana lagi sampai waktu pernikahan? "Bagaimana sayang? Kau suka?" Nafas Hana masih tersenggal-senggal, tubuhnya masih sedikit bergetar. "Kau bohong jika tidak pernah melakukannya. Bagaimana kau bisa tahu?" "Aku tidak bohong. Aku belajar dari internet." William berdiri di pinggir ranjang dengan Hana masih tidur terlentang di atas ranjang. "Sekarang giliran aku. Aku juga mau merasakan kenikmatan itu." William menarik Hana untuk mendekat padanya. "Kau lihat ini? Ini adalah milikku yang sudah siap. Sekarang jilat seperti yang aku lakukan tadi." William mengarahkan tangan Hana untuk menyentuhnya. Awalnya Hana ragu dan takut tapi demi William dia rela melakukannya. Perlahan Hana menyentuh dengan ujung jari, ada rasa hangat, kenyal dan menggemaskan. Will melihatnya dari atas dan membiarkan Hana mengambil inisiatif. Sejenak Hana menengadah untuk melihat William, pria yang ditatap itu terdiam menunggu. Matanya menyiratkan gairah dan juga keinginan untuk mendominasi, menunjukkan kekuasaan pada lawannya. "Tidak apa jika itu sulit bagimu. Aku bisa menunggu." Hana tidak ingin melewatkan hal ini, dia menggenggam sepenuhnya dan memasukkannya ke dalam mulut. "Uhh...ya...ternyata benar enak...lanjutkan Hana. Aku mohon..." Hana semakin liar, dia mulai menguasai permainan, genggamannya semakin ketat dan gerakannya cepat. "Ahh...Hana...aku mau keluar...telan sayang..." Will memegang kepala Hana dan gantian dia memaju mundurkan pinggulnya. "Ohhh...yessss..." Cairan itu sebagian tertelan dan sebagian lagi tumpah membasahi tubuh Hana. "Ohookk...ohook..." Hana berkali-kali tersedak. "Sekarang kau adalah milikku dan aku milikmu. Terima kasih baby." William menggendong Hana menuju kamar mandi untuk sama-sama membersihkan tubuhnya. Setelahnya mereka tidur sambil berpelukan. "Aku sayang kamu, Hana." William mengecup Hana dan mereka berdua akhirnya tertidur lelap setelah tadi mencapai klimaks. Keesokan paginya, saat mereka masih tertidur, pintu rumah itu dibuka paksa oleh segerombolan orang. Dua sejoli yang saling berpelukan tidak menyadari adanya malaikat maut yang menghampiri. Pintu kamar mereka terbuka. “Apa yang sudah kalian lakukan?!!!?”, bentak Harry di ambang pintu kamar. William dan Hana terkejut dan langsung terbangun. Mereka melihat Harry dan orang tua William berdiri di depan pintu kamar. “William aku akan membunuhmu karena berani menyentuh cucuku!!!”, lanjut Harry dalam kemarahannya. Hana segera menutup tubuhnya dengan selimut, sedangkan William berlutut di atas ranjang sambil memegang kedua kupingnya. “Aku tidak melakukannya paman, aku bersumpah.” William menjawab dengan kesadaran yang belum sepenuhnya karena baru bangun dari tidur. “Sumpah?!?” Ayah William melempar William dengan vas bunga yang kebetulan ada disampingnya. Karena William takut vas itu mengenai Hana maka dia berbalik untuk melindungi kekasihnya. Jadilah tubuh William tidak tertutup selimut dan mereka bisa melihat bagian belakang William. “Oh ini benar-benar memalukan. Entah bagaimana lagi harus mendidik anak ini.” Ibu William memejamkan mata melihat anaknya. “Benar kakek, William tidak melakukannya. Aku tidak apa-apa kakek. Percayalah padaku.” Hana terisak. Setelah mendengar perkataan Hana barulah mereka berhenti. “Hal ini tidak boleh dibiarkan, kita harus menikahkan mereka segera. Aku tidak mau Hana hamil sebelum menikah.” Harry memberi perintah pada semua orang yang berkumpul di kamar itu. Setelah William dan Hana berpakaian, mereka keluar kamar, di sana semua orang sudah menunggu. “Sekarang juga kita kembali, kalian dilarang pergi kemana-mana mulai sekarang. Dan kau Will, lebih baik kau kembali ke kediamanmu.” Harry menyeret tangan Hana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN