Hari yang ditunggu pun datang. Berita bersatunya keluarga Franklin dan Valerin telah tercium media lokal maupun internasional.
Hotel tempat lamaran dilaksanakan sudah dipenuhi wartawan.
Hanya orang-orang penting dan keluarga inti saja yang diundang. Bahkan beberapa stasiun televisi mengadakan siaran langsung dan beritanya sudah dicetak di koran-koran beberapa minggu sebelumnya.
Pengawal dari kedua keluarga dan kepolisian sudah mengamankan dalam radius 1 km.
Telah tiba lebih dulu Franklin dalam 1 mobil anti peluru. Dengan dikelilingi pengawal, Hans dan Lilian masuk ke dalam gedung hotel. Disusul Albert dengan tuxedo formal berwarna biru navy.
Beberapa helikopter kepolisian menyorot sekitar gedung. Benar-benar acara yang luar biasa diabad ini.
Tidak lama tiba 1 mobil. Harry menggandeng Abigail turun dari mobil tersebut. Disusul beberapa mobil yang juga ikut datang, William dan orang tuanya, beberapa pejabat daerah dan kolega bisnis.
Abi mengenakan gaun berwarna pink lembut model mermaid yang ujung gaunnya sedikit menjuntai dengan potongan bahu rendah. Sepasang sepatu berwarna senada dengan taburan permata menambah kecantikan dan keanggunan calon mempelai wanita.
Kilatan lampu pencari berita mengabadikan setiap moment berharga. Tanpa diduga seorang Albert yang digilai semua wanita melamar Abigail, gadis low profile yang tidak diketahui identitas sebelumnya oleh teman-teman kuliahnya.
Di dalam gedung acara dimulai, beberapa tamu undangan sangat penasaran siapa sebenarnya sosok calon istri seorang Albert Franklin.
Albert menggandeng Abigail naik ke podium sambil MC memperkenalkan Albert dan Abigail kepada seluruh tamu undangan dan juga membacakan barang-barang lamaran. Dari ratusan baju dan perhiasan dari brand ternama, sepatu, tas, makeup mobil mewah sampai beberapa saham perusahaan Franklin diberikan untuk melamar Abigail.
"Selamat malam untuk seluruh tamu undangan, terima kasih telah datang pada saat hari bahagia ini. Saya, Albert Frankli bermaksud melamar Abigail Valerin sebagai calon istri saya. Abi, maukah kau menerima lamaranku dan menjadi calon istri seorang Albert Franklin?"
Mereka saling bertatapan. Ratusan lampu blitz berkelap kelip mengabadikan momen itu
Sambil tersenyum Abi menjawab, "Aku menerimanya Albert."
Lalu Albert menyematkan sebuah cincin berlian berwarna pink ke jari manis Abi.
Saking besarnya berlian itu sampai salah satu tamu undangan berkata, "Ya Tuhan, aku sampai bisa melihat kilauan berlian itu dari jarak sejauh ini."
Acara berakhir dengan pengumumam tanggal pernikahan yang akan diadakan akhir tahun ini.
Esok hari semua media masa membicarakan acara semalam, meliput Abigail dan silsilah keluarganya.
Beberapa wartawan memenuhi pintu gerbang kediaman Abi. Ada juga yang mengikuti kegiatan orang-orang di kediaman itu hanya untuk mengorek informasi.
Privasi Abi mulai terganggu, untung Harry menambah beberapa pengawal lagi untuknya.
Dan bisa diduga mahasiswa di kampus mendekati Abigail untuk mencoba berteman dengannya. Tapi Abi adalah seorang pemilih dalam berteman, dia tahu maksud orang lain dalam setiap tindakan dan dia menjaga diri dan nama baik keluarganya. Apalagi dia sekarang calon keluarga Franklin.
Beberapa minggu mendekati hari pernikahan semua orang sibuk di kediaman Franklin karena acara pernikahan diadakan di sana. Mulai dari dekorasi kastil hingga taman, katering, kamar pengantin, beberapa barang-barang Abi yang dipindahkan ke kediaman Albert; benar-benar kegilaan terjadi.
Abi mulai mempelajari keluarga besar Franklin, kerabat dan tamu undangan Albert agar saat acara dia tidak salah mengenali orang. Perawatan salon pun sudah dimulai 1 bulan sebelumnya.
Harry jadi lebih sering pulang awal hanya untuk memantau kegiatan di rumahnya karena kediaman Valerin juga tidak kalah sibuk. Mereka juga mendekorasi rumah untuk persiapan mempelai pria menjemput mempelai wanita.
"Aku tidak menyangka kau akan meninggalkan aku, Bi. Aku akan kesepian.", rengek William.
"Ooo ayolah...kita akan bisa bertemu setiap hari Will, kita masih bisa makan siang bersama."
Abi tertawa kecil melihat William merajuk seperti seorang adik.
"Tapi apa Albert tidak akan marah?"
Mereka berbicara di kamar Abi sambil melihat orang-orang hilir mudik memindahkan barang-barang Abi.
"Tidak, dia tidak akan marah, aku sudah menceritakan siapa kamu pada Albert. Bahkan akhir minggu ini dia mau mengajakmu makan malam bersama."
"Wah aku jadi takut, jangan-jangan dia mau melarang aku menemuimu lagi selamanya."
"Tidak akan. Albert akan mengerti."
"Lalu jika kau menikah, siapa lagi teman aku makan siang?"
Abi menggeleng-gelengkan kepala. Ulah kekanak-kanakan William memang kadang diluar batas.
Sabtu itu mereka bertiga sudah berkumpul di restoran kesukaan Abi, setelah memesan menu Albert memulai pembicaraan.
"Saya belum memperkenalkan diri sebelumnya, saya Albert. Tujuan saya mengajakmu untuk bertemu adalah untuk lebih mengenal sahabat calon istri saya." Albert mengulurkan tangan kepada William yang juga disambut olehnya.
Karena Albert jauh lebih tua dari Wiiliam jadi pembicaraan mereka terkesan formal.
"Saya William. Saya sahabat Abi dari kecil. Kami teman dari kecil tapi saya lebih muda 2 tahun dari Abi. Kami berteman karena orang tua kami juga bersahabat."
Sambil menikmati makan malam mereka bertukar cerita dan tertawa, saling menceritakan masa lalu masing-masing dan suasana menjadi cair.
Saat Abi berumur 2 tahun, orang tua William mengajak William yang baru lahir ke kediaman Valerin. Persahabat kedua orang tua itu dimulai saat mereka mulai merintis usaha masing-masing.
Saling mendukung dalam setiap kesulitan dalam membangun kerajaan bisnis.
Bahkan ibu William ikut membantu Harry mengurus Abi saat baru lahir. Walaupun ada perawat bayi tapi kasih seorang ibu tidak bisa digantikan. Jadi Abi sampai sekarang menganggap orang tua William juga sebagai orang tuanya.
Saat Abi sakit pun, ibu William datang hanya untuk menghibur Abi, menemaninya minum obat, bahkan menginap untuk menemani Abi kecil tidur.
"Jangan menangis. Abi cantik pasti akan cepat sembuh jika mau minum obat."
"Tapi obat itu tidak enak, Bibi."
"Lalu apa kamu mau sakit terus?"
Abi kecil menggeleng
"Kalau begitu kamu harus minum obat dulu lalu makan yang banyak. Saat sembuh nanti Abi bisa bermain dengan William lagi. Mengerti?"
"Iya. Abi mau main bersama William."
Ibu William tulus menyayangi Abi. Mengaggapnya seperti putri kandungnya sendiri.
"William orang yang menyenangkan, pantas saja kalian berteman.", Albert mengatakan pada Abi dalam perjalanan setelah makan malam.
"Aku tahu kau akan menyukainya. Dia spontan dan lucu. Benar-benar seperti anak-anak."
Abi melihat ke arah Albert. Kali ini mereka lebih banyak menggunakan supir selama berpergian.
"Dia yang menemaniku melewati masa-masa aku merindukan ibu, karena itu aku percaya dia orang yang baik dan bisa dipercaya. Paman dan bibi juga sudah menganggap aku anaknya."
Albert memegang tangan calon istrinya untuk memberi kekuatan, dia tahu gadis itu masih merasakan kesedihan yang sama walaupun kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya.