BAB IV

1012 Kata
Di lain tempat pintu ruang kerja Harry Valerin diketuk. "Pagi Pak, ada Tuan Hans Franklin dan Nyonya Lilian Franklin ingin menemui Bapak." "Franklin yang 'itu'? Apa saya ada janji dengan mereka?", dengan terkejut Harry bertanya. "Benar, Pak. Bahkan pengawalnya sudah memenuhi gedung ini. Dan anda tidak ada janji sebelumnya dengan mereka." Harry merapikan jasnya dan berpindah menuju sofa di tengah ruangan. "Persilahkan mereka masuk dan siapkan kopi terbaik untuk mereka." Setelah mempersilahkan mereka duduk dan menyediakan kopi di meja, dengan sedikit was-was Harry bertanya, " Selamat pagi Tuan dan Nyonya Franklin, ada keperluan apa hari ini datang kemari? Apa ada berita spesial untuk dipublikasikan?" "Maaf kami datang tanpa membuat janji sebelumnya dan menyita waktu anda yang berharga. Langsung saja pada intinya, kedatangan kami perihal putri anda Abigail." "Ada apa dengan anak saya?" Wajah Harry terlihat serius, apa yang sudah dilakukan putrinya? "Kami ingin melamar putri anda untuk putra kami, Albert.", Lilian berkata sambil tersenyum. Sekarang dia lebih terkejut dari sebelumnya. "Mendadak sekali. Apa mereka sudah kenal sebelumnya? Abi tidak pernah bercerita mempunyai hubungan spesial dengan siapa pun." "Mereka sudah saling mengenal di kampus. Bagaimana jika akhir minggu ini kami akan melamar putri anda secara resmi?" Hans berkata dengan antusias. Harry tertawa senang. Begitu juga dengan sepasang suami istri itu. Pembicaraan mereka akhirnya berlanjut ke arah bisnis dan penggabungan kekuasaan sebagai bentuk dukungan calon keluarga. Albert dan Abigail terus berkomunikasi secara intens baik secara langsung maupun melalui gawai. Di kampus pun mereka tampak bertemu dan berjalan bersama. Hal ini tak pelak membuat semua orang iri. Namun sulit untuk menyangkal bahwa mereka berdua sangat serasi, seperti diciptakan untuk satu sama lain. Mereka selalu datang dan pulang bersama, Abi menunggu Albert selesai mengajar dan juga sebaliknya, Al menunggu Abi menyelesaikan mata kuliahnya setiap hari. Untuk urusan pernikahan, Abi menyerahkan pada calon mertuanya. Ibu Al menikmati kesibukannya dalam menyiapkan semua keperluan pernikahan itu. Sedangkan Al dan Abi, mereka perlu mengenal satu sama lain dan setiap harinya mereka menemukan berjuta alasan untuk saling jatuh cinta. “Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu. Aku benar-benar mengumpulkan seluruh keberanian saat mengajak kamu menikah, aku sudah bersiap untuk kemungkinan yang terburuk jika kamu menolak aku waktu itu. Aku pikir kamu sudah punya kekasih karena aku pernah melihatmu dijemput William waktu itu." Mereka sedang menikmati makan malam setelah pulang dari kediaman Al. “Haha…tapi kan itu tidak terjadi. Lagipula aku terkejut waktu kamu mengajak aku pergi pertama kali. Aku pikir aku sudah melakukan kesalahan pada keluarga Franklin. Tapi sesungguhnya aku juga sudah tertarik denganmu saat kita bertemu di lift, hanya aku pikir seorang Franklin tidak mungkin tidak punya kekasih. Pastinya kamu dikelilingi wanita yang jauh lebih cantik dari aku.”, kenang Abi akan saat-saat itu. “Hanya kamu yang paling cantik di mataku, tidak pernah ada wanita lain dari awal sampai akhir aku bersamamu. Sayang, aku tidak sembarangan mencari istri. Harus ada yang lebih dari sekedar yang terlihat diluar. Seorang Franklin tidak main-main dengan yang diucapkannya.” “O ya? Apa itu?” “Hanya harus kamu. Aku tidak mau yang lain. Aku hanya melihatmu. Aku tidak perduli dengan yang lain. Aku hanya perlu kamu.”, Albert mengatakan sambil menggenggam tangan Abi. Abi tersipu saat mendengar pengakuan Albert. Menurutnya itu pengakuan yang benar-benar manis dan tulus dari seorang pria. “Aku juga mencintaimu Al, hanya kamu.”, senyum manis Abi menghiasi malam itu. Hati yang sudah terpaut. Cinta yang kekal dan tidak berakhir. "Halo Abi, kau sudah tidur? Aku dengar dari ayah kalau kau akan menikah. Apa itu benar?" William menghubungi Abi untuk menanyakan kabarnya, dia mendengar berita pernikahan itu dari sang ayah. "Halo Will. Iya benar. Albert akan melamar aku minggu ini. Maaf aku belum memberitahumu." "Wow...Albert Franklin? Luar biasa...selamat, Bi. Aku berharap kau bahagia.", ucap Will setulus hati "Terima kasih sahabatku. Sabtu ini dia akan melamarku secara resmi. Kau harus datang ya. Undangannya akan aku kirim besok." "Jadi bagaimana kalian bisa saling mengenal? Aku tidak pernah tahu kau sedang berhubungan dengan pria lain selain aku." "Kata-katamu terdengar ambigu." Will tertawa, dia hanya menggoda Abi. "Dia dosenku. Aku bertemu dengannya beberapa kali." "Jadi kau menerima cinta dari pria yang baru kau temui beberapa kali? Sekarang kau sama seperti aku, Abi." "Tidak. Kita berbeda. Aku bertujuan untuk menikah dengan Albert, tapi kau, tidak jelas apa tujuanmu." Bukan tersinggung tapi William tertawa terbahak-bahak. "Tujuanku sama, Abi. Aku juga mau menikah tapi belum waktunya. Tidak sekarang dan tidak dengan mereka." "Ya...ya...itu yang selalu aku dengar dari mulutmu." Malam sebelum acara Abi tidak bisa tidur. Entah dia terlalu tegang atau memang ada sesuatu. Akhirnya Abi beranjak menuju kamar ayahnya. Saat ingin mengetuk pintu, Abi melihat pintu kamar ayahnya tidak tertutup rapat, sayup-sayup dia mendengar ayahnya berbicara dengan seseorang. Abi mengintip sedikit, dilihatnya sang ayah berdiri sambil menatap foto pernikahannya dengan ibu yang terpajang di dinding kamar. "Sayang, anak kita akan segera menikah. Calon menantu kita adalah orang hebat. Aku sudah membesarkannya dengan baik kan? Kau pasti bangga. Aku berharap kau ada disini menyaksikan kebahagian ini. Bayi cantik kita sudah besar. Aku akan sendirian di rumah kita saat Abi menikah. Tugasku sudah selesai sayangku, aku berharap dapat bertemu lagi denganmu." Tak terasa air mata Abi menetes mendengar ayahnya berbicara seperti itu. Sadar karena ada yang memperhatikan, Harry melihat ke arah pintu, putri kecilnya sedang menangis. "Ada apa anakku? Apa kau bertengkar dengan Albert?", tanya Harry khawatir. Abi berlari menuju ke arah Harry dan langsung memeluknya sambil menangis semakin keras. "Ayah...aku menyayangimu. Maaf aku harus meninggalkan ayah. Aku belum berbakti kepada ayah. Aku akan mengundurkan pernikahanku dengan Albert beberapa tahun lagi, aku ingin menemani ayah lebih lama." Abi menangis di pelukan sang ayah. "Tidak Abi. Apa yang kau katakan? Albert adalah orang yang baik. Kau akan bahagia bersamanya, ayah yakin itu. Ayah tidak apa-apa. Ayah hanya merindukan ibumu. Jadilah istri yang membanggakan dan menantu yang menghormati mertuamu. Jangan mempermalukan dirimu sendiri." Harry mengelus-elus kepala Abi, menepuk-nepuk punggungnya seperti menimang bayi. "Terima kasih karena telah membesarkan aku. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikan ayah. "Tidak perlu. Kau adalah segalanya untuk ayah dan itu sudah cukup." "Tuhan jagalah anakku.", batin Harry
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN