Selama dalam perjalanan mereka bercanda dan berbicara mengenai segala topik. Mulai dari yang serius seperti ekonomi dan politik sampai hal-hal tidak penting lainnya hanya untuk mengisi waktu.
"Paman, aku mau bertanya."
Hana menjejalkan perutnya dengan snack rumput laut kesukaannya.
"Hemm...apa?"
"Apa itu jatuh cinta? Bagaimana cara membedakan cinta dengan kekaguman?"
William mengalihkan pandangannya sepersekian detik untuk melihat wajah Hana.
"Kenapa kau bertanya hal seperti itu? Apa kau menyukai salah satu rekan kakek Harry?"
"No. Aku hanya ingin tahu."
"Tidak mungkin kau bertanya tanpa sebab. Jujur padaku. Siapa orang itu? Apakah paman mengenalnya?"
"Sekarang giliran aku yang bertanya, bukan paman. Jadi jawab saja."
Hana beberapa kali menghindari tatapan William.
Sebagai orang yang membesarkannya tentu William tahu ada yang gadis ini sembunyikan.
"Perbedaannya sangat tipis. Perlu waktu untuk membedakan kedua hal itu."
"Hanya itu?"
"Ya, hanya itu. Sekarang gantian paman yang bertanya. Siapa orang itu?"
"Rahasia. Sampai kapanpun aku tidak akan memberi tahu."
Hana lagi-lagi membuang muka. Dia melihat ke arah jendela, hamparan rumput dan pohon yang menjulang tinggi berjejer rapi.
"Jadi benar ada seseorang yang mencuri hati gadis kecil paman. Tenang saja, paman akan menemukannya cepat atau lambat."
"Terserah paman tapi aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah besar. Aku sudah memasuki masa menstruasi, itu artinya aku sudah dewasa."
Gadis itu memajukan bibirnya tanda dia tidak suka pada sikap Will.
William hanya tertawa tapi hatinya bertanya-tanya siapa bocah tengik yang berani merebut Hana kesayangannya.
Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Jadi mereka sampai di vila saat malam hari. Hana yang lelah karena perjalanan jauh sudah terlelap. William jadi tidak tega membangunkan Hana, maka dia menggendong Hana ke kamar yang akan ditempatinya.
“Selamat malam Tuan.”
Para pelayan menyambut William yang memasuki vila bersama Hana dalam pelukannya.
Bukan bangun karena suara para pelayan, Hana malah mengeratkan pelukannya. d**a Hana yang tumbuh sempurna menempel pada d**a William. William merasakannya sepanjang jalan menuju ke kamar. Tubuh mereka yang saling bergesekan menghangatkan hati Will.
Sekarang mereka hanya berdua saja di kamar Hana.
“Anak ini semakin berat saja.”
William menaruh Hana di atas ranjang. Melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Melepaskan juga jaket yang dia kenakan. Ternyata Hana mengenakan low cut top, jadi pinggang dan lekuk tubuh Hana terlihat jelas.
William sempat menahan nafas karena terus terang, dia laki-laki normal. Sangat amat normal apalagi di depan Hana.
Setelah mencoba mengembalikan kesadarannya, dia membetulkan posisi tidur Hana.
“Paman, kita sudah sampai?”
Hana tiba-tiba terbangun, matanya terbuka melihat sekeliling kamar.
Sambil menyelimuti Hana, William menjawab, “Sudah. Sekarang kamu sudah di kamar, lanjutkan tidurmu lagi.”
“Selamat malam Paman.”
Hana tersenyum dan tiba-tiba menarik leher William lalu mengecup bibir William. Setelah itu Hana tertidur kembali.
Memang Hana sering mencium William dari kecil tapi semakin lama Hana semakin dewasa dan itu menyulitkan William yang usianya sudah matang. Sentuhan kecil seperti itu sangat berbahaya, sekarang bahkan tubuhnya bereaksi.
Esoknya Hana bangun pagi-pagi sekali. Dia mengerjapkan matanya dan merasa asing dengan kamar yang dia tempati. Dia melihat kamar itu memang mirip dengan kediaman Franklin tapi berbau seperti William.
Hana keluar dari selimut dan turun dari ranjangnya, saat dia merasakan tubuhnya tiba-tiba dingin dia menyadari sudah tidak memakai jaket.
Dia jadi teringat, William pasti yang sudah membuka jaketnya. Pipi Hana merona karena malu.
Memakai baju seperti itu, dengan celana pendek dan telanjang kaki, rambut tergerai sedikit acak-acakan. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan muncullah sosok William yang sedang membawa sarapan.
Keduanya sama-sama terkejut, tapi William cepat menguasai diri. Dia segera menutup pintu kamar dengan kakinya, meletakkan nampan berisi makanan di meja di tengah ruangan.
William menghampiri Hana, mengambil jaket yang semalam diletakkan di bangku.
Sambil memakaikannya pada Hana, William berkata, “Hana, nanti kamu kedinginan. Lain kali jangan pakai baju seperti ini. Walaupun vila ini ada di tepi laut tapi sebagian besar bangunan ini dibangun dengan kayu dan batu alam. Jadi jauh lebih dingin dibandingkan di
luar.”
“Tapi kan kita ada di pinggir laut.”
Hana menjawab sambil melihat William yang menjulang tinggi di hadapannya.
“Belum sayang, kita belum akan ke pantai. Kamu harus menghabiskan sarapanmu dulu. Paman tidak mau kamu sakit.”
William mengancingkan satu persatu kancing jaket Hana.
Mereka duduk berdua di teras sekarang. Hana menikmati sarapannya sambil melihat laut lepas.
“Paman, apa ini dulu kamarmu?”
mulut Hana masih penuh saat bicara.”
“Hana, habiskan dulu makanan di mulutmu, baru kau bicara. Itu tidak sopan. Lihat jadi belepotan.”
William membersihkan sudut bibir Hana yang menempel sisa makanan.
Hana hanya tertawa melihat pamannya.
“Tiap paman ke sini, ini kamar yang selalu paman tempati. Pemandangan di kamar ini yang paling bagus. Kakekmu, ayah paman, membeli vila ini pada seseorang yang terjerat hutang. Jadi dia menjualnya dengan harga yang tidak terlalu mahal. Waktu itu tempat ini tidak terurus karena sepertinya vila ini ditelantarkan oleh pemilik sebelumnya. Nenekmu mendekorasi ulang segalanya. Jadilah seperti ini. Ayo cepat habiskan sarapanmu, paman akan mengajakmu keliling vila.”
William sedari tadi melihat kearah Hana yang sedang makan, sedangkan pandangan Hana terus melihat ke arah lautan.
Hana buru-buru menghabiskan sarapannya. Mandi dan mengganti bajunya, kali ini dengan summer dress bertali satu.
William setia menunggu Hana di teras kamar sambil memikirkan pemandangan saat tadi masuk ke kamar ini.
Hana sudah bersiap-siap untuk tour keliling vila.
“Paman ayo, aku sudah siap.”, panggil Hana yang berdiri di belakang William.
William yang berpaling karena Hana memanggilnya berkata dalam hati saat melihat Hana, “Hana, kau cantik.”
“Halo Hana, kau sudah sampai?”, tanya Harry di seberang sana.
“Sudah Kek, baru semalam. Hari ini aku ingin jalan-jalan di dalam vila dulu, karena villanya ternyata besar sekali.”
Hana baru menuruni tangga dari lantai 2.
“Baiklah, jaga diri. Jangan jauh-jauh dari William, mengerti?”, peringat Harry pada Hana.
“Ya kakek. Aku sayang kakek.”
“Kakek lebih menyayangimu.”
Harry mengakhiri panggilannya.
William pertama mengajak untuk mengelilingi villa, melihat setiap ruangan, dari kamar ke kamar, dapur, ruang keluarga setiap lantai, ruang bawah tanah yang berisi koleksi wine. Melihat koleksi lukisan di ruangan khusus galeri.
William memang menyukai lukisan sejak dulu jadi sebagai besar besar koleksi lukisan di situ adalah milik William
Saat sampai di dapur mereka beristirahat sambil memakan kue yang baru di panggang pelayan.