BAB XIV

1080 Kata
Sorenya William mengajak Hana mengelilingi taman. Kediaman William memiliki taman yang luas. Karena letaknya di pinggir laut, jadi hanya tanaman yang tahan cuaca panas saja yang ditanam. Ada tukang kebun yang merawat taman ini secara teratur. Di belakang rumah juga ada taman labirin yang besar. William suka bermain disitu saat masih kecil. “Paman, aku mau mencoba labirinnya.”, teriak Hana bersemangat. “Tapi ini hampir malam.”, bujuk William. “Aku mau sekarang, paman temani ya.” Hana merengek ambil bergelayut pada lengan William. Sedikit khawatir karena tidak begitu ingat lagi jalan-jalannya, William menjawab, “Baiklah, ayo.” Semakin memasuki labirin, hari semakin gelap. William mulai kebingungan, karena dia sudah bertahun-tahun tidak pernah memasuki labirin itu. “Hana, keluarkan gawaimu. Kita butuh senter.”, pinta William pada Hana. “Maaf paman, baterainya habis. Tadi aku terlalu banyak mengambil foto.” Hana menekan beberapa kali tapi tidak menyala. Sekarang William menyesal meninggalkan gawainya di kamar, dia pikir tidak mau diganggu saat liburan bersama Hana. Sigap William menggandeng Hana, dalam gelap mereka mencoba meraba-raba sekeliling. Merayap disepanjang labirin. “Ayolah, ingat-ingat lagi, kanan atau kiri.”, batin William. Kilat mulai menyambar, cuaca cepat berubah di daerah itu. Sepertinya akan hujan. Hana mulai ketakutan, dia takut pada petir sejak kecil. Setelah kecelakaan Albert dan Abi yang terjadi saat hujan badai dan petir, Hana jadi trauma pada petir. William yang menyadari tangan Abi yang gemetar langsung memeluk Abi. “Jangan takut sayang, aku disini. Ada aku yang melindungimu.” William mendekap erat Hana. Hujan mulai turun, baju mereka mulai basah. Dalam kedinginan mereka saling berpelukan. Hujan tidak menunjukkan akan berhenti. Hana memejamkan matanya sambil duduk di atas rumput basah dan William juga duduk di sebelahnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia benar-benar lupa jalan keluarnya. Hana mulai menunjukkan tanda-tanda hipotermia, segera William melepaskan kaos yang dia kenakan, menyelimuti tubuh Hana. “Paman, nanti kau sakit.” Hana membuka matanya saat merasakan sentuhan di bahunya. “Aku tidak apa-apa. Kau yang terpenting, jangan sampai kamu sakit. Bersabarlah, seharusnya para pelayan dan pengawal mencari kita sekarang. Mereka pasti menyadari ketidakberadaan kita.” William terus mencoba menenangkan Hana. Rumput semakin tergenang air. William mengangkat Hana dan menaruhnya dalam pangkuan William. Memeluknya dan membiarkan kepala Hana bersandar pada dadanya. Lama mereka berpelukan, mereka bisa merasakan degup jantung masing-masing. “Paman…kau tahu. Aku menyayangimu. Kau yang menguatkan aku saat papa dan mama pergi, begitu juga saat kakek dan nenek pergi. Terima kasih karena selalu ada untukku.” Sambil berbicara Hana melihat ke arah William. William harus menunduk melihat Hana karena tubuh Hana sangat mungil bila dibandingkan dengan dirinya. Mata Hana sulit dibuka terkena tetesan hujan, tapi William bisa melihat wajah Hana dengan jarak sedekat itu. Dari matanya, hidung mancungnya dan bibinya yang penuh. William mulai merasakan sesuatu dalam dirinya. Nafasnya mulai memburu dan bagian tertentu mulai menegang. “Will, jangan macam-macam. Dia keponakanmu. Bukan dia tidak ada hubungan darah denganku. Dia masih kecil, Will. Dia sudah dewasa, umurnya sudah 20 tahun, dia sudah cukup umur. Cukup umur untuk apa? Kau harusnya melindunginya. Aku sedang melindunginya, tapi aku tidak bisa menahannya. Aku sudah menahan sejak lama. Maafkan aku Abi." Batin William bergejolak. William mengelus pipi Hana, memegang dagunya dan saat akan mencium bibir Hana tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara memanggil-manggil. “Tuan William…Nona Hana…” William tersadar, hampir saja dia tidak bisa menguasai diri. “Kami disini…” William menggendong Hana ke kamarnya. Hana lemas dalam pelukan William, badannya mulai demam. Dia memerintahkan pelayan membawa handuk dan air hangat untuk Hana, juga meminta baju bersih untuknya. Will memerintahkan para pelayan untuk keluar, dia mau merawat Hana sendiri, begitu yang selalu dia lakukan sejak Hana masih kecil. Segera dia berganti baju dengan baju bersih terlebih dahulu lalu William mulai dengan hati-hati mengeringkan rambut dan tubuh Hana yang basah. Membuka baju Hana yang basah, dari menurunkan tali bajunya, melepas baju luarnya. Kini tersisa bra dan celana dalam Hana. Dia mengelap setiap inci tubuh Hana, memperhatikan dan menyayanginya. Tapi sungguh sulit menahan gejolak dalam dirinya. Serasa ingin menggila. Tapi rasa sayangnya terlalu besar untuk mencoba menyakiti Hana. William akhirnya terpaksa harus membuka bra dengan model strapless, seketika Will menahan nafas karena melihat pemandangan didepannya. Cobaan luar biasa bagi William, sambil mengelap d**a Hana, jantungnya berdetak kencang. Dan terakhir dia membuka celana dalam Hana, otomatis bagian bawah William menegang. Lama pria itu memejamkan mata untuk mengembalikan kewarasannya yang tak bisa dia kontrol. “Oh Tuhan…Aku sudah berjanji pada semua orang untuk menjaga Hana. Cobaan macam apa ini. Aku mencintainya, jangan sampai aku melakukan sebelum waktunya. Sampai dia menyadari perasaanku, aku harus menahannya.” William memakaikan baju untuk Hana. Membaringkannya di ranjang dan menyelimutinya. Untungnya malam itu demam Hana tidak terlalu tinggi, tapi William tidak meninggalkan Hana. Dia memeluk Hana, mendekapnya erat di atas ranjang. Sekarang mereka tidur di ranjang yang sama, bersebelahan. William kembali terkenang masa-masa kecil Hana. Bagaimana Hana selalu bermanja-manja padanya. Merasakan perubahan bentuk tubuh Hana dalam pelukannya dari kecil sampai sekarang. Walaupun ada perawat tapi kadang Hana hanya ingin dimandikan oleh William. William yang tidak pernah melihat tubuh wanita sebelumnya, bahkan para kekasihnya sekalipun, dibuat berdebar. Dia pikir dia mengalami kelainan karena saat melihat tubuh telanjang Hana sedari kecil, tubuhnya merasakan sesuatu yang aneh. William melihat wajah Hana yang tertidur di sebelahnya. Melihat bibir yang sebelumnya hampir dia cium saat di taman labirin tadi. Dengan sadar, perlahan Will mendekatkan wajahnya pada Hana, dan dia mencium gadis itu. Menciumnya perlahan, merasakan kelembutan dan manisnya bibir Hana, ada rasa strawberry tersisa dari lip balm Hana. Dari sekedar kecupan dan ciuman biasa, William mulai memainkan lidahnya, mencoba menerobos masuk. Tidak ada reaksi, itu yang membuat William berani melakukan lebih. Tiba-tiba Hana membalas ciuman William dengan menghisap lidah William, William yang dari tadi mencium Hana sambil memejamkan mata langsung membelalakkan matanya. Dia melihat Hana masih tertidur tapi hisapan Hana semakin kencang, seolah merespon ciuman itu. Pria dewasa yang bermain api menjadi lupa diri, dia merubah posisi menjadi di atas tubuh Hana sambil memperdalam ciumannya. Tangannya mulai meraba tubuh Hana, mengelus d**a Hana yang ditutupi kaos tanpa bra. Tiba-tiba terdengar suara Hana, “Ughhh….” William seketika menghentikan kegiatannya, dia tersadar dan menjauh dari Hana sambil terus mengutuki kebodohannya. Akhirnya William hanya tidur di sebelah Hana tanpa berani menyentuhnya. Tapi sungguh Will tidak beruntung, tengah malam saat dia sudah tertidur, d**a dan perutnya terasa geli. Dia terbangun karena Hana dalam tidurnya memeluk William, tangan Hana meraba kemana-mana. Jadi lah William terjaga sampai pagi tiba. “Sial! Lagi-lagi aku harus menderita.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN