BAB XV

1001 Kata
Semalam Hana bermimpi aneh, mimpi dewasa dimana dia bergelut di atas ranjang dengan seorang pria. Pipi putih Hana memerah saat mengingat mimpi itu, pria itu adalah pamannya sendiri. Dalam mimpi pamannya menciumnya, bahkan mereka sama-sama telanjang, saat ingin melakukan hal lebih jauh tiba-tiba dia terbangun. Dia melihat sekeliling ruangan dan pandangannya terhenti pada sarapan yang diletakkan di atas meja. Mencoba keluar dari selimut dia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, dia melihat dadanya menyembul karena tidak memakai bra, hanya kaos kebesaran milik pamannya dan dia tidak memakai celana. Hana menutup wajahnya karena malu, “Ooohhh…paman yang mengganti bajuku semalam.” Dia teringat kejadian semalam, sepertinya paman akan menciumnya kalau saja para pelayan tidak datang. “Paman, sebenarnya kau anggap apa aku ini di matamu? Aku harus bagaimana terhadapmu? Kau bukan paman kandungku, tapi apa boleh rasaku ini padamu?” Hatinya berkecamuk, antara rasa yang tumbuh sedari dia dewasa dengan kesadaran bahwa William adalah pamannya. Sahabat ibunya. Lagi pula bisa jadi William tidak punya perasaan yang sama dengannya? Bisa jadi dia hanya memperlakukan Hana seperti anaknya sendiri. Apa ini rasa cinta atau hanya sekedar kenyamanan dari sosok ayah yang sudah tiada? “Paman….lihat ada banyak kerang.” Suara teriakan Hana tersapu debur ombak saat bermain air di tepi pantai “Jangan terlalu jauh, bahaya Hana.” William memperhatikan Hana yang asik bermain sendiri. William menggunakan kaos putih dan celana pendek hitam, dengan sandal pantai dan kaca mata hitamnya. Sedangkan Hana menggunakan long dress tali satu dengan belahan dress sampai ke paha atas. Topi besar dari bahan jerami, dengan sandal flat. Sambil menenteng sendalnya Hana bermain pasir pantai. William melihat pola laku Hana di balik kacamata hitamnya. Gadis yang dia cintai sejak dari kecil. Bersinar lebih terang dari matahari. Dari kejauhan ada suara yang memanggil William. William dan Hana sama-sama melihat ke arah suara itu berasal. Terlihat sosok wanita yang melambaikan tangannya pada William. “Halo Will, kebetulan kita bertemu disini.”, sapa wanita itu pada William yang sedari tadi duduk bersandar pada long lounge dari bahan kayu itu. “Oh ya? Bukankah ini pantai pribadi milik Darson? Bagaimana itu sebuah kebetulan Clara?", jawab William saat wanita itu sudah berdiri di sebelahnya. Clara yang ketahuan berbohong jadi salah tingkah. "Aku tidak tahu ini pantai pribadi, aku hanya melihatmu dari jauh dan ingin menyapamu. Jika aku tahu kalau tidak boleh kemari maka aku tidak akan berani.” Hana melihat dari kejauhan dan menjadi penasaran. Akhirnya dia memutuskan menyudahi permainannya dan menghampiri William. William tidak menjawab dan kembali melihat ke arah Hana yang berjalan mendekati mereka. “Itukah keponakanmu? Aku ingin berkenalan dengannya.” Clara berpikir akan mengambil hati keponakannya terlebih dahulu untuk mendapatkan pria kaya raya ini Saat Hana sampai di sebelah William dan duduk di long lounge yang kosong di sebelah William, Clara ingin menyalami Hana. Tapi William melarang Clara. “Jangan kau berani menyentuhnya.” Pengawal William yang sedari tadi berjaga dari kejauhan mendatangi William dan Hana. “Apa perintah anda, Tuan?” “Bawa Nona ini keluar dari kawasan Darson. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, mulai sekarang kawasan ini tidak boleh dimasuki siapapun.” William berkata tanpa melihat ke arah Clara. Clara yang kesal dengan kata-kata William hanya bisa pergi dari sana. Dia sudah mengincar William sejak lama. Masih muda dan kaya raya. Siapa wanita yang tidak mau. Tapi menurut rumor, William sulit didekati. Setelah bertemu dan sangat dekat dengan keponakannya, William playboy sudah bertobat. “Siapa itu paman?”, tanya Hana pada William yang masih memasang wajah marah. “Tidak perlu kau pedulikan. Kamu sudah puas main? Mau makan? Ayo kembali ke vila, aku sudah meminta pelayan menyiapkan makanan kesukaanmu.” Wajah William seketika berubah, dia tersenyum hangat pada Hana. "Apa paman tidak mau bermain di pantai? Sayang sekali jika kita hanya duduk sambil menatap air tak berujung ini." "Lalu kau ingin bermain apa?" Hana menarik William dan mereka sama-sama menyusuri tepi pantai. Kaki telanjang mereka terkena deburan air yang merambat pasang dan surut. "Temani aku berjalan-jalan dan melihat matahari terbenam. Itu saja." William melihat wajah Hana sambil tetap menggandeng tangannya. Tidak terasa matahari mulai masuk ke peraduan. Cahayanya berpendar, pecah seperti tertelan kumpulan air. Suara deburan ombak terdengar menderu seperti hati kedua insan itu. "Aku mencintaimu Hana." Hana melihat ke arah William dengan wajah keheranan, rasanya dia mendengar pamannya berbicara padanya. "Apa yang kau katakan paman? Aku tidak dengar." "Aku tidak mengatakan apa-apa." Mulut William menyangkalnya tapi tidak dengan perbuatannya. Dia memeluk Hana dari belakang, merengkuhnya dalam-dalam, mencium ujung kepalanya dan bernafas di antara helai-helai rambut. Mereka menikmati senja itu dalam diam. Sama-sama merasakan kehangatan tubuh masing-masing. "Aku mencintaimu Will." Hana berbisik sekecil mungkin agar pamannya tidak bisa mendengar. Selesai makan, malam hari William mengajak Hana pergi. Dia ingin memberikan kejutan yang pasti disukai Hana. “Kita mau kemana paman?” Mata Hana ditutup dengan kain oleh William. “Sabar, jangan mengintip, ini kejutan untukmu. Paman sudah menyiapkan ini sebelum kamu datang dan paman tahu kamu pasti suka.” William menuntun Hana menaiki lantai demi lantai. Semakin ke atas, dari tangga lebar sampai tangga kecil yang hanya bisa dinaiki 1 orang bergantian. William meminta Hana naik terlebih dulu baru William naik menyusul. Namun dari bawah William bisa melihat celana dalam Hana saat menaiki tangga karena dress yang dikenakannya. Sesampainya di atas Will mengajak Hana berdiri di tengah. “Siap-siap aku buka ya.” William memperingati sambil menarik tali penutup mata itu. Saat penutup mata Hana dibuka, Hana melihat jutaan bintang menghiasi langit malam. “Kamu suka? Kita ada di atas Vila. Aku meminta orang untuk membuat atap vila terbuka jadi kita bisa menikmati malam hari di ruang terbuka. Lebih aman dari pada di taman labirin.” William tersenyum melihat Hana yang masih terkagum dengan pemandangan langit yang indah. "Suka. Ini sangat indah. Paman, kau sungguh-sungguh pria paling luar biasa yang aku tahu.” Hana melompat ke pelukan William. William yang tidak siap menerima berat badan Hana pun jatuh terlentang bersama Hana dalam pelukannya. Tapi tetap William melindungi kepala Hana, malah kepala William sendiri yang terbentur lantai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN