BAB XVI

1079 Kata
“Maaf…paman tidak apa-apa?”, tanya Hana yang masih berada di atas William. William menahan sakit, tapi dia melihat Hana sudah mulai ingin menangis. Air matanya sudah tampak di sudut mata. Tangan William memegang kepala Hana dan yang satunya memeluk pinggang kecilnya. Sedangkan kedua tangan Hana memegang d**a William. “Aku tidak apa-apa. Kamu tidak sakit?”, Will berkata sambil terus memperhatikan wajah Hana. Hana hanya menggeleng dan tiba-tiba mengecup William. William yang dikecup hanya terdiam, mencoba mengartikan arti kecupan itu. Lagi-lagi Hana mengecup William. Lagi, lagi dan lagi tapi yang terakhir bukan kecupan tapi ciuman yang lama dan dalam. William melihat Hana memejamkan matanya. Otaknya bekerja, mencoba memilah antara kesadaran dan hasrat yang sudah lama dipendam. William mengangkat tubuh Hana dan membalikkan keadaan. Kini William berada di atas. Karena terkejut Hana membuka mata dan menghentikan ciumannya. Dalam posisi masih di atas Hana, William berkata, “Kau tahu siapa aku? Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan dan dampak dari perbuatanmu?” Antara panik dan takut Hana menjawab. “Aku tahu kau bukan pamanku. Selamanya kau tidak pernah menjadi paman di mataku. Aku tahu yang aku lakukan dan aku siap menerima hukumannya.” William memiringkan kepalanya sambil tetap menatap Hana, mencari maksud perkataan Hana melalui matanya yang berbinar. “Apa maksudmu? Apa yang kau mau?”, tanya William lebih menyelidik. “Aku…” Saat Hana akan menjawab tiba-tiba William melumat bibir Hana, Hana kehabisan nafas saat ciuman itu tidak berhenti. William semakin mempererat pelukannya pada Hana. Hana hanya memejamkan matanya menerima nafsu pamannya yang sudah memuncak. “Oohh…Hana. Apa maumu? Tahu kah kau ini tidak boleh terjadi.”, William menghentikan ciumannya. Hana melihat tatapan nanar William, tatapan mengiba, menderita karena menahan diri. Sungguh William menahannya. Tapi Hana tidak bisa mengerti. “Aku tidak tahu, yang aku tahu aku melihatmu sebagai seorang pria. Bukan pamanku.”, jawab Hana dengan tatapan berkabut. Tubuhnya yang sudah dewasa pun merasakan gejolak yang sama. William terkejut dengan pernyataan Hana. Ini tidak boleh terjadi, jika perasaanya terbalas maka mereka bisa melakukan hal lain lebih jauh. “Lebih baik kita kembali.”, perintah William sambil berdiri. Dia membantu Hana untuk berdiri juga, membersihkan baju Hana yang sedikit kotor dan mengajak Hana meninggalkan atap vila itu. Hana dan William sudah kembali ke kamar masing-masing. William segera mandi untuk menyegarkan pikirannya. Dia menyusun rencana, bagaimana cara berbicara pada orang tuanya dan paman Harry. Dia tidak bisa lagi melepaskan Hana. Dia butuh Hana. Walau perbedaan umurnya sangat jauh, dia sadar dia mencintai Hana. Dan sekarang perasaannya bersambut. Sedangkan Hana, di kamarnya, dia menangis. Dia merasa ditolak oleh William. Dia malu sekali karena dia yang memulai ciuman itu. Hana menangis semalam-malaman. Entah sejak kapan dia tidak menganggap William pamannya. Dia sadari dirinya jatuh cinta pada William sejak masih kecil. Keesokan harinya Hana tidak keluar kamar, matanya bengkak karena menangis semalaman. William mengetuk pintu kamar Hana tapi tidak ada jawaban, akhirnya dia membuka pintu itu dan mendapati Hana tidur di balik selimutnya. Saat William mencoba membuka selimut, selimut itu tertahan. Berarti Hana sudah bangun tapi dia bersembunyi di balik selimut. “Hana, kau kenapa? Kau sakit? Ayo sarapan, sudah ada segelas s**u untukmu.”, bujuk William. “Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil. Aku sudah besar.” Suara Hana dari balik selimutnya terdengar sengau.. “Jika kau sudah besar, maka berlakulah seperti wanita dewasa. Katakan dengan jelas ada apa denganmu.” William masih setia duduk di ranjang, di samping Hana. Hana membuka selimutnya, dengan mata bengkaknya dan mulai menangis lagi dia berkata, “Aku tidak mau jadi keponakan paman, aku suka paman.” William terpanah. “Tunggu, tidak seharusnya begini.” Hana menangis makin keras karena terang-terangan William menolaknya. “Tunggu Hana, jangan menangis lagi. Bukan maksudku begitu.” William mengusap air mata serta ingus gadis cantiknya dan memegang kedua pipi Hana. “Aku yang seharusnya bicara terlebih dahulu. Aku jatuh cinta padamu. Entah sejak kapan rasa sayangku sebagai paman berubah menjadi cinta. Aku juga tidak bisa menganggapmu keponakanku lagi. Aku mencoba menahan selama bertahun-tahun ini, sampai kau menyadari perasaanku padamu. Melihatmu sedari baru lahir, saat kau semakin besar dan dewasa seperti sekarang ini, aku menahan segalanya sendiri. Aku menghormatimu dan ingin melindungimu, bahkan dari diriku sendiri.” Hana yang mendengar pengakuan William panjang dan lebar bukannya berhenti menangis malah menangis semakin keras. William membawa Hana ke dalam pelukannya. “ Aku akan bicara pada orang tuaku dan kakekmu. Dan juga mulai sekarang jangan memanggil aku paman. Aku calon suamimu.”, William mendeklarasikan posisinya. Siang itu mereka kembali ke kediaman Franklin. Sepanjang perjalanan William terus menggenggam tangan Hana. Dia tidak akan melepaskan Hana walaupun tantangan yang harus dilalui sungguh berat. Orang tuanya akan memarahinya seperti apa nantinya. Dan paman Harry… "Hana." Suara William selalu lembut pada Hana. Tidak pernah sekalipun dia marah atau membentaknya. "Ya?" "Aku sayang kamu." William mencium tangan Hana yang digenggamnya. Hana tersenyum dan menyandarkan tubuhnya di bahu William. "Jika aku tidak lagi boleh memanggipmu paman, lalu aku harus memanggilmu apa?" "Terserah padamu. Kau adalah gadis yang pintar. Carilah ide." Hana tampak berpikir. "Sayangku? Kekasihku? Cintaku? Suamiku?" Willam tertawa. "Memang kau mau menjadi istriku? Lalu bagaimana dengan pria yang kau kagumi itu?" Wajah Hana merengut, bibirnya sedikit maju. "Pria itu adalah kamu. Apa kau tidak tahu aku sudah menyukaimu sejak lama?" "Oh ya? Kapan itu?" Hana terdiam. Dia jadi malu saat mengingat kejadian itu. William sempat melihat ke arah Hana karena tidak ada jawaban dari gadis di sebelahnya. "Kenapa? Kau tidak mau mengatakannya?" "Aku malu." "Hemm...kenapa begitu? Aku rasa untuk memulai suatu hubungan harus ada kejujuran." Lagi-lagi Hana terdiam. "Aku mulai menyukaimu saat aku melihatmu mandi." Hana menarik tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya, dia memiringkan badannya membelakangi William. "Apa? Kau mengintip pria sedang mandi? Sungguh gadis liar." "Aku tidak begitu. Itu tidak sengaja. Kau saja yang tertidur di bathtub. Aku tidak tahu pintunya tidak dikunci." Pembelaan diri yang bodoh. Sekarang William tahu apa yang sudah Hana lihat. "Jadi kau melihat semua?" Hana kehabisan kata-kata. Dia terjebak oleh lidahnya sendiri. "Aku pria dewasa, Hana. Kata-katamu yang seperti itu sungguh berpengaruh padaku." Hana memucat. Dia tidak bermaksud memancing gairah William. "Maaf. Aku hanya bicara apa adanya." William menarik tubuh Hana dan mendekapnya. "Aku tidak sanggup menahannya. Malam ini juga bahkan aku bisa melakukannya. Pria bisa begitu b***t jika menyangkut ini." Mata William melihat ke bawah diikuti oleh mata Hana. "Tapi aku suka kejujuranmu. Terima kasih karena telah jatuh cinta pada tubuhku." Kata-kata terakhir William terdengar aneh, terlalu percaya diri sampai Hana tertawa terbahak-bahak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN