Seperti Pernah Mengenalnya

736 Kata
Arfa menepuk lembut lengan perempuan yang tergolek diranjang ,” Dibersihkan dulu lukanya ya Bu … lalu perawat akan membawa ibu ke radiologi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jangan khawatir, hanya untuk memastikan saja.” Setelah memberikan beberapa petunjuk pada perawat dan asistennya, ia menghampiri perempuan yang berdiri di ujung ruangan ,” Keluarganya ?” Perempuan dengan cardigan pink pucat itu menggeleng ,” Saya hanya kebetulan di tempat kejadian. Tapi sebentar lagi keluarganya datang, tadi sudah dihubungi. Kebetulan ada yang mengenal beliau.” Arfa menatap intens sampai perempuan itu gelisah. Rasanya ia pernah bertemu dengannya, tapi kapan dan dimana …. “ Apa ada yang bisa saya lakukan untuk nenek itu ?” “ Periksalah, dia tadi terpelanting juga saat menolong nenek Omi dari sambaran mobil, dok.” ujar seorang perempuan yang baru saja memasuki IGD “ Bu ….” Anin mengangguk pada perempuan parobaya yang nampaknya menyusul setelah memberitahu keluarga korban. “ Periksalah dia Dok …” sergahnya melihat Arfa hanya diam. “ Saya nggak apa apa, bu … Kalau sudah ada yang menemani nenek, saya permisi dulu.” Diulurkannya tas yang dibawanya ,” Ini punya beliau.” “ Tunggu, setidaknya biar saya periksa luka dan memarmu nona.” “ Cuma luka kecil, gak apa apa.” “ Biar saya yang memutuskan.” Tersenyum tipis saat gadis itu mendesah tidak sabar ketika digiring ke ranjang periksa ,” Siapa namamu ?” “ Anin.” Sahutnya sambil kembali melirik jam tangan, sudah terlambat untuk jadwal kereta yang dimaksud. Tapi kalau bergegas masih bisa mengejar kereta terakhir. “ Bagaimana tadi kamu terjatuh ?” Perempuan itu mengangkat bahunya ,” Tidak ingat. Aaww….” “ Tidak apa apa, hah ? Tolong bukalah jaketmu, udah bolong juga.” Mata coklat itu membulat dan melepas cardigan rajutnya, cemberut saat mendapati bagian belakang cardigan kesayangannya koyak. Untung saja ada kaos cadangan didalam tasnya. “ Terseret ?” Arfa menatap luka parut memanjang dan memar yang cukup parah di bahu kanan Anin ,” Coba gerakkan lenganmu.” Anin menggerakkan lengannya, ,” Sedikit ngilu … tapi gak sakit. Sudahlah Dok, beberapa hari juga sembuh.” “ Biar dibersihkan dan diberi obat, kalau merasa gerakanmu terganggu, segera bawa kesini.” Tersenyum mendengar nada tidak sabar perempuan didepannya. Dilambaikannya tangan memanggil perawat dan memberinya intruksi ,” Jangan lupa periksakan kembali kalau mengganggu.” Ujarnya sebelum berlalu saat namanya dipanggil untuk menangani pasien lain. Anin hanya mengulas senyum. Membiarkan perawat mengobati lukanya. Sesegera mungkin menyelesaikan administrasi dan meninggalkan rumah sakit ketika rombongan yang kelihatannya keluarga nenek itu datang dengan panik. Arfa melirik perempuan yang diam diam pergi itu sambil memeriksa pasien yang baru masuk. Masih berpikir dimana ia mengenalnya … “ Kemana gadis kecil itu ?” Perempuan parobaya yang masih terlihat cantik itu celingukan. “ Sudah pergi, Ma.” Arfa menarik mamanya untuk duduk. “ Kok dibiarkan pergi ?” “ Memangnya kenapa ? Dia yang nabrak ?” “ Ish ….” Ditepuknya lutut Arfa ,” Keluarga nenek Rumi mau mengucapkan terima kasih. Kalau gadis itu sedikit saja terlambat meraih nenek, mobil itu pasti sudah menabrak mereka.” “ Kok bisa ?” “ Bisalah …. gadis itu kebetulan sedang menunggu taksi. Sebenarnya tidak terlalu dekat juga sama nenek Omi, mama lebih dekat. Tapi mama tertegun dan dia berlari mendekat untuk menarik nenek Omi.” “ Mabuk ?” “ Kelihatannya pasangan itu bertengkar dijalan. Sampai mobilnya sudah menabrak pembatas jalanpun mereka berdua masih saling menyalahkan.” Digelengkannya kepala ,”Sekarang paling bertengkar dikantor polisi. Dan kamu …..” “ Apa ?” merasa tatapan mata mamanya sudah berubah. “ Kamu gak tanya nama gadis itu ?” “ Anin.” “ Rumahnya ? No teleponnya ?” “ Kalau perlu mungkin ada datanya disana.” Menunjuk arah meja administrasi ,” Apa lagi, ma ….. ?” tanyanya melihat mamanya mengulum senyum. “ Dia lumayan cantik. “ Hmmm …” “ Kelihatannya anak baik. Dia langsung menolong nenek Omi tanpa memperdulikan dirinya.” “ Hmmm …. “ “ Kamu tadi ngapain sampai terpana gitu ?” Arfa mendesah ,” Cuma seperti pernah melihatnya, tapi lupa kapan dan dimana.” “ Akhirnya, ada juga perempuan yang nyangkut dikepalamu.” Arfa merengut ,” Anakmu masih normal, ma …. Sudah malam, pulanglah ma. Nanti papa marah marah lagi kalau makan malam sendirian di rumah.” Tersenyum ditepuknya bahu Arfa dan beranjak keluar dari IGD yang gaduh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN