Setelah 100 hari

464 Kata
Para tamu dan tetangga yang membantu acara kirim doa sudah pulang. Tinggal Ayu yang masih membuat minuman sambil menunggu Anin memindahkan Tara ke kamar. Lelaki kecil itu tadi tertidur ditengah acara doa tadi. “ Tara sudah makan malam kan tadi ?” “ Sudah, kak. “ diselonjorkannya kaki diatas karpet, bersandar ke sofa , “ Terima kasih. Jadi kak Ayu yang bikin minum. “ Ayu tersenyum mengatur nafas dan menenangkan diri sebelum meraih tas nya , “ Bagaimana kamu mengasuh Tara beberapa bulan ini ?“ Anin tersenyum , “ Biasa aja … . Hanya perlu sedikit pembiasaan dan penyesuaian jadwal. Mungkin untuk beberapa kesempatan terpaksa aku mengantarnya ke penitipan anak. “ #Flashback Setelah melakukan pemeriksaan rutin, dr Ayu duduk memperhatikan perempuan dihadapannya ,” Kamu benar benar akan menyembunyikannya dari Tania ?” “ Selama aku masih sanggup bertahan. Anin sudah melakukan terlalu banyak untuk aku dan Tara, bahkan nyaris melupakan dirinya sendiri." " Apa yang terjadi padanya... dan padamu membuat Anin kehilangan rasa percaya pada hubungan antar laki laki dan perempuan. " Tania menghela nafas berat, " Sementara dia gadis yang sangat mudah dicintai. " disorongkannya sebuah amplop besar. " Ini apa? “ de Ayu mengerutkan kening. " Aku akan bertahan sekuat mungkin melawan penyakit ini... tidak akan menyerah sampai akhir. " Tania tersenyum sedih, " Tapi aku juga harus mempersiapkan mereka... Tara dan Anin. Tara berhak tahu darah siapa yang mengalir ditubuhnya. " " Lalu? “ " Berikan ini pada Anin... setelah seratus hari kepergianku, kapanpun itu. " " Tan.... " " Kamu dokter Yu... kamu tahu pasti kondisiku. Berikan pada Anin, aku yakin dia tahu apa yang harus dilakukannya.. dan aku yakin keputusan apapun yang diambil Anin nantinya semua untuk kebaikan Tara. Seratus hari, waktu yang cukup buat mereka beradaptasi dengan apapun yang akan mereka hadapi. ".Flashback# Ayu mengeluarkan dua amplop dari dalam tasnya , “ Anin … Tania pernah berpesan untuk memberikan ini padamu setelah 100 hari kepergiannya.” Diulurkannya satu ,” Ini untukmu. “ Anin terdiam sejenak sebelum membuka amplop putih dan membaca tulisan rapi milik Tania. Hening untuk waktu yang lama mencoba memahami apa yang dipesankan Tania padanya. Tangisnya lolos perlahan, menatap dari jauh tubuh kecil yang terlelap di atas pembaringan , “ Itu ? “ “ Ini semua hal yang menyangkut Tara … . Dan ayahnya.” Ayu menepuk bahu Anin, “ Ada kemungkinan penolakan, tapi artinya Tara akan jadi milikmu.” Anin mendesah , “ Anak laki laki seperti Tara … . Kemungkinan diterima juga ada, yang artinya aku harus kehilangannya. “ dihembuskannya nafas kasar ,” Aku akan mencari tahu dulu, seandainya harus melepaskan Tara … aku harus memastikan ia diperlakukan dengan baik. “ Keduanya berpelukan dan kali ini membiarkan diri mereka menangis setelah bertahun tahun berusaha kuat untuk menguatkan Tania dan Tara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN