Ya, Gadis Itu Lagi

564 Kata
Arfa meletakkan ponselnya ,” Andro … apalagi ini ?” keluhnya sambil memejamkan mata. Setelah hampir empat tahun menghilang dari peredaran, ternyata masih saja ada yang mencari saudaranya itu. Tapi suara perempuan itu seperti tidak asing … Anin …. Mungkinkah gadis kecil yang waktu itu ? Lebih pada memenuhi rasa penasaran akan sosok itu daripada permasalahan yang menyangkut Andro, Arfa meraih ponsel dan kunci mobilnya “ Pulang dok ?” Arfa mengangguk dan melambai ringan. “ Arfa …. Pulang ?” sesosok tubuh ramping mendekatinya ,” Bareng dong, aku gak bawa kendaraan.” Leny, adik kelas yang kebetulan teman bermain Andro sejak kecil itu tersenyum kearahnya. “ Kamu naik taksi aja, aku masih ada perlu yang lain.” “ Ikuuut …. “ Rajuknya dan cemberut saat Arfa menatapnya tajam sebelum melepaskan tangan Leny yang memeluk lengannya. Arfa mendesah dan berjalan cepat ke tempat parkir. Gadis yang baik, tapi kolokannya minta ampun. Sikapnya seringkali membuat orang di menyalah artikan kedekatan mereka, tapi Arfa terlalu malas untuk meluruskan. Tiba di sebuah penginapan kecil yang cukup bersih, Arfa menghubungi seseorang melalui ponselnya. “ Sore, kak.” “ Sore. Aku di penginapanmu, turunlah.” “ Oh, baik. Tunggu sebentar.” “ Aku di café …” “ Bisa minta tolong cari meja yang didekat tempat bermain, yang di ujung itu.” Arfa mengedarkan pandangan ,” Baiklah.” Sahutnya menyudahi pembicaraan sambil duduk di sudut ruangan. “ Sore kak …. Ehm .. Arfa ?” Arfa mengangkat muka ,”Anin ?” Ya … ini perempuan di rumah sakit dulu, tapi anak ini …. Anin duduk dengan wajah sedikit tegang, terlebih saat lelaki dihadapannya itu menatap intens bergantian antara dirinya dan Tara. “ Terima kasih sudah datang.” Arfa mengangguk ,” Bahumu baik baik saja ?” Anin menatap bingung ,” Bahu ?” Arfa mengangguk ,” Setelah menolong nenek Omi … beberapa bulan yang lalu.” Anin mencoba mengingat ,” Oh .. maaf dok ….” Ditepuknya dahi ,” Apa kabar ? Bahu saya baik baik saja. Nenek Omi … nggak ada yang serius dari kecelakaan itu kan dok ?” Arfa menggeleng ,” Baik baik aja, sedikit terkilir, memar dan syok. Keluarga nenek Omi mencarimu waktu itu.” Anin tersenyum ,” Saya mengejar kereta terakhir untuk pulang.” “ Bua … main …..” Anin tersenyum dan menurunkan lelaki kecil dari pangkuannya ,” Tara main disitu ya …. Berani kan ?” “ Belani … Tala jagoan.” “ Sip, toss dulu …. Eh, toss juga sama om dok …. “ “ Om Dok … toss.” Arfa tersenyum menemukan telapak tangannya dengan tangan mungil yang ingin segera kabur itu ,” nanggung banget om dok.” “ Maaf … Tara agak takut sama dokter.” Matanya meredup. Ditariknya nafas, tersenyum saat pramusaji mengantarkan minumannya ,” Terima kasih ya mbak.” “ Anin … kamu dapat nomerku dari mana ?” “ Karena saya gak bisa menghubungi kak Andro, saya mencoba mencari informasi. Dan ketemu nama dokter yang katanya masih saudara kak Andro. Lalu dr Ayu mencoba mencari nomor dokter.” “ Ini tentang Andro ?”Arfa merasa saat Anin kembali menatap Tara dengan pandangan sedih. “ Ada titipan yang harus saya sampaikan secara pribadi ke kak Andro. Apa dokter bisa membantu saya untuk bertemu kak Andro ?” “ Berikan padaku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN