Percival menuangkan bir ke gelasnya dan meneguknya lagi. Dia duduk di bangku depan tungku perapian ruang tengah rumah Benjamin. Rasanya hening dan gelap. Rumah ini seakan mengerti kesedihan yang dia rasakan. Percival mengacak-acak rambutnya dan mulai mengisak. Bahkan minuman di tangannya tidak dapat membuat dia melupakan apa yang terjadi. Lebih baik dia merasakan kepalanya sakit dan rasa marah yang besar karena i.e.d nya daripada rasa sakit yang sekarang dia rasakan. Seakan ada pecahan kaca yang mendesak di dalam dadanya. Rongga paru-parunya sesak seperti akan membeludak. Dan kini dinding yang menahan air di matanya telah runtuh. Dia begitu merasa kacau. Benjamin berdiri melihat Percival yang mengisak dengan air mata mengalir sambil meminum bir. "Kau patah hati?" tanya Benjamin sa

