LARAS

1345 Kata
rian bergegas menuju kamar laras, laras masih belum sadar betul karena terbangun dari jeritan papinya. mengucek ucek matanya dan menyibak selimutnya.belum sempat laras memijakkan kaki k lantai. PLAAKK...... pipi laras memerah krn tamparan rian "papi....." laras terkejut dan mengelus pipinya "knapa kau tak bilang kalo dimas sudah merusak masa depanmu?" rian hendak menampar kedua kalinya, yuni langsung memeluk laras seketika itu juga laras menangis dan terus menangis, yuni mengelus elus punggung laras untuk memenangkannya "jawab laras!!! knapa kau rusak kepercayaan kami?" rian mulai frustasi. alva, adik laras sudah di depan pintu kamar laras dan menyaksikan kemarahan papi mreka. mreka belum pernah melihat papinya sekejam ini sampai main tangan, yang mreka tau papinya sosok pria penyabar apalagi menghadapi mami yang sering jutek. "maafkan laras pi, laras takut memberitahu papi karena....." laras blm menyelesaikan kalimatnya. rian menarik laras dari pelukan yuni lalu mencengkeram kedua lengan laras "pi, sakit...." laras meras kesakitan "kapan dia melakukannya ras?" tanya rian dgn geramnya laras terus menangis, "sudah, papi membuatnya semakin takut" yuni membela laras "DIAM!!!" seketika itu juga yuni terkejut dan tak menyangka kalo rian bisa marah besar "kau harus menikah dengannya" jari rian mengarah pada laras. lalu meninggalkan kamar laras, melewati alva di depan pintu kamar rian terduduk di sofa, meletakkan kedua siku dipahanya. meremas kedua tangannya dan terlihat termenung "pi, mau teh?" ujar alva, rian menoleh pada alva dan mengangguk. alva ke dapur dan menyiapkan teh anget buat rian. menyerahkan ke tangan rian dan duduk dsamping rian, mreka berdua diam "al, seandainya kau mencintai seorang gadis beri dia kasih sayang dan jagalah kehormatannya, sehingga wanita itu memang pantas bersanding dengan mu" rian mulai tenang "maaf pi, sebenarnya alva sudah tau sejak kak laras crita dengan kak santi d kamar kak laras" alva mulai bercerita. rian terkejut "alva coba menghubungi dimas tapi sepertiny nomornya sudah ganti, mencari alamat rumah dan ktr dimas untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tapi tak ketemu. alva sudah berfikir akan membujuk kak laras untuk melaporkan mreka. sampai suatu saat alva melihat dimas dan kk laras ngobrol tapi sepertinya kak laras begitu marah tapi dimas seperti memohon jadi alva yakin kalo kak laras bisa mengatasinya"  "alva fikir kak laras akan menceritakannya pada mami" "kak laras dijebak oleh dino dan dimas pi" "apa???" lalu alva menceritakan semua yg dia dengar. rian semakin kacau, jd dinolah biang dari semua ini, pikirnya ..... "ras, apa ada yg mau laras jelaskan?" tanya yuni yg masih bertahan di samping laras, laras menoleh pada mami dan terus menangis "baiklah, sebaiknya laras istirahat. kapan kapan  kita bisa ngobrol lagi" yuni memeluk dan mencium kening putri kesayangannya "mi, maafkan laras" yuni mengangguk lalu beranjak ke pintu dan menutup pintu kamar laras. perasaan laras mulai ga enak, pusing dan mual menghampirinya seketika itu juga laras lari ke kamar mandi dan muntah. setelha mengeluarkan isi perutnya laras mencuci mulutnya. lalu naik ke tempat tidur. dia tak bisa tidur, lalu dia mengambil ponselnya dan menelepon santi "hmmm... iya ras" santi masih menutup matanya karena hampir terlelap, diganggu dengan suara deringan ponselnya "san, papi mami aku sdh tw kejadian itu" "apa?? trus mreka bilang apa" santi lgsg bangun dari ranjangnya dan menyibak selimutnya utk duduk d tepi ranjangnya "papi marah besar" laras mulai menangis "tenang ras, skrg istrahat dan besok pagi aku lgsg cauuu k rmh mu. ok" "san, aku takut" "ga perlu takut. seharusnya yg takut itu dimas dan dino. kw hanya korban" santi menenangkan laras "skrg tidur ya" laras menutup pembicaraannya mreka, merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya memejamkan matanya utk segera tidur ..... "brengsek...." rian menganti bajunya dgn kaos tidurnya yuni hanya diam tak brani berkomentar, lalu mengambil baju yg dilepas rian meletakkan d ranjang pakaian kotor. "bisa bisanya anak ingusan itu mengusik putri kesayanganku" rian duduk d tepi ranjang yg diikuti yuni dsampingnya "mgkn ini sdh takdirnya laras pi" rian menatap yuni  "apa??? knapa mami seperti membela anak itu, apa krn dia anaknya Hendra?"  "papi!!!!" yuni melotot pd rian. "betulkan? seandainya itu bukan anak Hendra, pasti mami buru buru akan melaporkan k polisi. sedangkan dulu ponsel mami tercecer d rumah aja mami lgsg panik mw lapor polisi pdhl mami yg lupa meletakkannya. tp ini yg hilang masa dpn laras knapa mami bilang ini takdir laras?' rian tak terima sikap yuni  yuni terdiam... "tp ini beda pi" "bedanya dimana? laras lbh berharga dr ponsel mami" "ini mengenai perasaan" "justru krn mengenai perasaan, hati papi sgt hancur" yuni memeluk rian, "sama pi, mami jg hancur tp apa bisa kita kembalikan kejadian yg menimpa laras? kan ga, jd kita hrs memikirkan kedepan yg terbaik buat laras" rian menatap yuni dan mengerti kalo yuni jg merasa hancur. rian membalas pelukan istri tercintanya lalu menangis. yuni semakin mengeratkan pelukannya agar rian merasa hangatnya  pelukan yuni "knapa laras bisa dijebak seorang dino utk bertemu dimas"  "maksudnya?" rian menceritakan apa yg dia dengar dari alva. yuni menangis "kasian laras" hanya itu yg terucap dari yuni "sebaiknya qta tidur dan besok kta bicarakan lg, papi hrs tenangkan pikiran papi" ..... cahaya sdh menampakkan dirinya dari balik gorden kamar laras. laras terbangun, pusing dan mual menghampirinya, lari k kamar mandi dan muntah astagaa ada apa dgnku, stlh mulai tenang, laras pergi mandi. stlh selesai dgn pakaian kerjanya, laras menuju meja makan ada papi, mami dan alva "mari duduk nak" yuni menghampiri laras dan mengajaknya duduk. papi tetap fokus pd sarapannya ting...tong... bi ijah menuju ruang tamu untuk membuka pintu, tak berapa lama, bi ijah disusul gadis manis menghampiri kel rian prayoga, "pagi tante, om, alva" santi dtg mencium punggung tangan papi dan mami "hai laras" mreka tersenyum tipis membuat santi sedikit bergetar, benar kata dino, kalo papinya laras marah akan sgt berbahaya, batin santi "mw sarapan nak santi, roti atau nasi gorang?" tanya mami memecah kekakuan mreka  "apa aja boleh tan" jawab santi, lalu yuni memberi piring berisikan nasi goreng "hari ini kerja san?" rian mulai membuka suara "I-iya om" santi gugup "lgsg k kampus?" tanya rian lagi, santi mengangguk dan tersenyum "knapa santi tak cerita ttg yg terjadi pd laras" rian menoleh pd santi "laras takut krn dia sdh berjanji pd om spy tak bertemu dimas'  "santi menganjurkan utk lapor polisi om tp laras mw menjaga nama baik keluarga ini" "apa arti nama baik kalo sampai menghancurkan masa depannya"  nama rian datar tp sosok matanya menggambarkan api kemarahan "seharusnya bukan santi yg cerita pi tp laras" laras membuka suara membela santi "santi cukup mendengar crita laras" laras mulai menangis. yuni lgsg menghampiri laras, "sudah sudah, kita sarapan dulu jgn membahasny dsini" yuni menghentikan pembicaraan mreka rian menghela nafas panjang dan selesai sarapan,  "tolong jaga laras spy tak ktemu lg dgn laki2 itu" santi tw betul siapa yg dimaksud om rian, santi mengangguk. saat rian meninggalkan meja makan, tiba2 laras merasa mual dan berlari k kmr mandi. wueeh.... wuehh... terdengar suara dari kamar mandi yuni, rian dan santi saling melirik, berperang dlm pikiran masing masing, jangan jangan...... "laras...." yuni menitikkan air mata ...... saat dimas membukakan matanya, dimas masih menatap langit kamarnya. meletakkan kedua tangannya d bawah kepalanya. hati dan pikirannya kacau, gimana kalo ibunya tak mw bertemu keluarga laras. lalu dimas bangkit memakai celana pendek dan menuju kamar mandi selesai mandi, dimas mencari nama seseorang d ponselnya "yah, dimas mw bicara" "...." "dimas sdh jumpai org tua laras, mreka minta ayah dan ibu bersama dimas k rumah laras" ".....' "dimas sdh merusak laras yah, maaf...." "......" "tolong bantu dimas buat yakinkan ibu yah" "......" stlh menutup pembicraan mreka, dimas menuju dapur menyiapkan sarapan ala kadarnya. duduk d sofa menghidupkan tv, tak melihat apa yg ditayangkan tv malah melamun ceklek.... "dim, kok dr kmrn ga terima telponku? dino masuk dan duduk d samping dimas, melihat mie dimas blm tersentuh, dino menyambar dan memakannya "ah loe, gue blm makan" dimas protes "udah masak lg gih...."dino tetap fokus pd mie buatan dimas dimas pergi k dapur dan membuat mie utk dirinya stlh kandas punya dino, dino k dapur membersihkan mangkuk bekas sarapannya "din gue udah ktemu org tua laras" "lu ga bawa2 nama gue kan?" dino mulai gemetar "ga lah, gue menceritakan semua yg terjadi dan siap menikah dgn laras" jawab dimas mantap "loe ditabok papinya laras?" dino penasaran "ga lah, suara om rian justru sgt datar tp sikapnya menunjukkan kalo beliau marah besar, gue diusir" "ga ngerti gue, gmana cara om rian ngusir loe?" "om rian menuju pintu kluar membuka dan mempersilakan gue kluar sambil berkata spy membawa org tua gue jumpai mreka" hahahahahah....., sikap om rian gue acungi jempol, dino terbahak bahak dimas tampak kesal drrtttt....drrtttt... dimas melihat tertera nama santi "iya san" "......" "baiklah dimana?" "....." din, gue mw ktemu santi, ada hal penting dimas meninggalkan dino, dino msh terdiam saat dimas sampai d tempat mreka janjian, dimas mencari dan melihat wanita yg sedang menunggunya "santi....." santi menoleh *08.06.20
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN