TINGGALKAN DIA

1035 Kata
akhirnya santi ketemu dimas. "ada hal yang penting san?" santi masuk ke dalam mobilnya lalu disusul dimas disamping santi "knapa san?" dimas makin penasaran. "aku ga mau ada teman teman  laras melihatku bersama dengan mu" dimas semakin bingung "kau benar benar mencintai laras?" tanya santi, dimas mengangguk. "ada apa dengan laras san? tolong jangan buat aku makin penasaran. apa telah terjadi sesuatu dengannya" dimas semakin cemas "seandainya orang tua kalian tak ada titik temu buat merestui kalian, apa yang akan kau lakukan?" santi menoleh pada dimas, menggenggam erat stir seakan akan ada perasaan yang berkecambuk di dalam hati santi "aku akan membawa lari laras, bila dia menolak. aku akan membiusnya lalu membawanya jauh dari mreka yang tak merestui kami" dimas berkata dengan sungguh sungguh dalam pikiran dimas, kalo laras akan dijodohkan dengan anak teman orang tuanya seperti critanya tempo hari, ingatan itu membuat dimas semakin takut tadi pagi laras muntah muntah di rumahnya, lalu tante yuni mengatakan mungkin laras masuk angin tapi aku curiga dim, lalu aku katakan pada tante kalo laras harus diperiksa tapi tante menolak, sepertinya kecurigaanku juga menjadi kecurigaan tante. tapi tante yuni malu kalau sampai pemikiran kami tentang laras adalah benar. saat dalam perjalanan ke tempat kerja, aku sengaja singgah ke apotek lalu sampai di kantor, aku mengajak laras ke toilet, bicara baik baik pada laras untuk memakai tes pack "lalu" alis dimas menyatu, sepertinya dimas sdh tau apa akhir ceritaku "laras hamil dim" ucapan santi membuat  ujung bibir dimas terangkat, wajah bahagia terpampang jelas "alhamdullilah" dimas mengusap wajahnya dengan kedua tangannya "akhirnya laras jadi milikku" dimas merasa sangat senang "tapi laras tak menginginkan anak itu dim" ujar santi dibalas pelototan mata dimas "APA??" dimas terkejut "di toilet dia menangis sesegukkan, dia takut kalo papinya semakin marah sampai aku bingung harus berbuat apa, akhirnya aku hubungi tante yuni utk menjemput laras "kalian segera menikah, jangan sampai sesuatu terjadi pada anakmu dim" santi akhirnya mendukung dimas demi anak di dalam rahim laras dimas mengangguk "terima kasih san, terima kasih atas infonya. aku segera membawa org tuaku menemui org tua laras" dimas memeluk santi tanda persahabata, santi tersenyum "semangat ya dimas" dimas membalas senyuman santi dan mengangguk  ..... yuni masih memapah laras keluar dari mobil mereka dan menuju kamar laras. laras msh menangis. lalu mendudukkan laras di ranjang milik laras "sudah lah nak, jangan menangis terus" yuni coba menghibur laras "papi akan menamparku lagi mi. aku takut" laras gemertan "mami akan bicara baik baik pada papi" "sebenarnya waktu itu....." belum selesai kalimat laras "jangan ingat masa lalu tapi mari kita hadapi masa depan, ini masa depanmu nak" yuni mengelus perut laras yang masih rata "bagaimana kalau ibunya dimas tak merestui kami?" "kita laporkan dimas" yuni tampak marah "trus anak ini akan menjadi anak haram mi" "tak ada anak haram sayang, ingat itu. mami tetap menyayanginya sekalipun tanpa kasih sayang ayah" yuni memberikan kekuatan pada putrinya 'sekarang istirahat ya, mami bentar ke supermarket beli s**u untuk calon cucu mami" yuni merebahkan yuni dan menyelimuti putrinya "apa mami menerima anak ini?" tanya laras lagi "iyalah, dia darah daging putri kesayangan mami" yuni menegaskan kalau dia akan menyayangi anak laras "tapi dia juga darah daging pemerkosa putri mami" "sttt..... jangan diteruskan sayang. lagian dimas janji akan membawa orang tuanya. jadi semoga semua berjalan lancar" yuni merebahkan laras di tempat tidurnya dan menarik selimut  "kau masih mencintainya" tanya yuni laras menggeleng lalu yuni mencium kening laras seharusnya ini tak terjadi. seandainya dulu kami telah menyelesaikan semuanya mungkin hubungan laras dan dimas tidak seperti ini, batin yuni menyelimuti laras dan meninggalkan kamar laras. setelah menutup pintu kamar laras, yuni meneteskan air mata, tak jauh dari dia berdiri, rian melihat yuni dengan linangan air mata, sakit terasa hati rian /// ayah dan ibu dimas sudah menunggu dimas. akhirnya yang ditunggu datang, dimas datang menyalim kedua orang tuanya. dimas duduk berhadapan dengan Hendra dan lusi di ruang keluarga 'ayah ibu, dimas mau bicara" dimas bingung mau memulai dri mana "kalau tentang hubunganmu dengan perempuan itu sebaiknya mama pergi" lusi hendak melangkahkan kakinya "tapi ibu harus mendengarnya" dimas mulai memohon "sampai kapanpun ibu tak akan sudi menjadi ibu mertuanya' lusi dengan pendiriannya "knapa kau sekarang berubah lusi" hendra menatap lusi heran "ini semua gara gara ayah, ayah tak menyelesaikan semuanya hingga terimbas pada mreka" "menyelsaikan apa lagi lusi, kau semakin membingungkan" hendra mulai marah "ayah tak memberi sedikitpun hati ayah pada....." lusi menangis "ah....kau ini crita yang lalu lau slalu kau ungkit" hendra memutar bola mata mulai jengah dengan sikap lusi "yang pasti jangan jadi anak durhaka dim" lusi menoleh pada dimas "ta-tapi dia sedang mengandung anakku" dimas menurunkan suaranya tertunduk karena tau akan mendapat amukan dari kedua orang tuanya Hendra dan lusi menoleh pada dimas "apa kau sungguh sungguh nak?" ujar Hendra, dimas mengangguk "gugurkan" seketika itu juga ayah dan dimas terkejut dan sama sama menoleh ke arah ibu, karena kata kata itu keluar dari mulut lusi  "APA???" dimas dan Hendra meninggikan suara mreka "lusi apa kau sedang sakit? kau dan laras sama sama wanita. apa yang kau ucapkan sangat tidak pantas" ayah mulai marah "brarti dulupun kata kata itu tak pantas ayah ucapkan padaku...masih ingat dulupun ayah berkata hal sama saat aku mengandung dimas" kini dimas menoleh pd ayahnya dalam keterkejutan, tak percaya kalo dulu ayahnya tak menginginkan dimas "dulu kejadiannya beda lusi, aku melakukannya dalam keadaan tak sadar tapi kini mreka melakukannya karena sama sama mau bertanggung jawab" Hendra membela dirinya. dia tak perduli kalo akhirnya dimas tau masa lalunya "ta-tapi aku memperkosanya ayah" dimas mengatakan terbata bata hendra menoleh pada dimas, tangannya terkepal karena amarah plak.... plak.... "APA?? kau lebih buruk dari ayahmu dimas" Hendra memuluki dimas tanpa ampun lusi  yang melihat hendra memukuli tanpa ampun langsung berlari memeluk dimas sambil menangis, "stop... stop.. stop.. jgn teruskan, kw akan membunuhnya" Hendra menghentikan karena lusi sudah memeluk dimas yang berlumuran darah Hendra duduk sambil meletakkan kedua tangannya di keningnya dgn kedua siku d pahanya. kacau, itulah yg ada dipikrannya yuni akan semakin membenciku, ah,,,, knapa semua ini terjadi, batin hendra "besok kita ke rumah orang tua laras. tak ada penolakan" Hendra berdiri dan menatap tajam pada dimas lalu ke lusi Hendra beranjak ke kamar. "apa kau lakukan ini supaya ibu merestui kalian nak" lusi menebak hati dimas dimas mengangguk dan membalas pelukan ibunya tak kuasa dimas juga meneteskan air mata begitu dulu yang terjadi nak, karena aku sangat mencintai ayahmu, akupun mengikat ayahmu... lusi terus menangis tanpa mreka sadari sedari tadi kedua adik dimas sudah mendengar dan melihat apa yang terjadi. mereka mengeluarkan air mata, mendatangi ibu mreka dan memeluknya dimas dipeluk oelh ibu dan adik2nya sambil menangis makasi udah sabar menunggu kelanjutannya. semoga bisa menghibur kita semua, amin *10.06.20
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN