dimas memberitahu yuni kalau malam nanti keluarga mereka akan ke rumah laras.
hati yuni semakin kacau bagaimana dia akan menghadapi hendra di depan rian, dia takut akan terjadi kesalahpahaman diantara mereka
ting.... tong.....
lalu seorang wanita paruh baya pergi menuju daun pintu dan membukanya
"bi ada mami papi laras?" tanya dimas yang dibelakangnya ada yuni dan hendra
"ooo den dimas, ada masuk dulu biar bibi panggil mereka sedang diruang kerja tuan" jawab bibi lalu mempersilakan mreka duduk lalu pergi ke dalam
ruang tamu yang luas hiasi lampu kristal, gorden yang menjulang dari lantai 2 berwarna hijau, 1 set kursi jepara, ada meja kecil disudut ruangan diisi bingkai bingkai poto seluruh anggota keluarga dan disamping meja tersebut ada lemari hias diisi dengan pernak pernik dan miniatur rumah adat dari berbagai daerah. menunjukkan kalau orang tua laras sudah menjelajahi sebagian besar daerah di indonesia
akhirnya mami papi keluar, yuni tersenyum dan memulai menyalami mreka satu persatu tapi rian langsung duduk tanpa menoleh kepada mereka, yuni duduk disamping rian.
"om saya membawa kedua orang tua saya datang ingin melamar laras menjadi istri saya. maaf atas kesalahan saya terhadap laras. sesungguhnya dari dasar hati saya, saya tak berniat melakukan hal yang tidak terpuji tapi cinta membuat saya buta" awal pembukaan dari dimas
"apa kedua orang tuamu bisa menerima putri saya?" tanya rian dengan suara datar
tampak amarah dari raut wajah lusi, "rian, kalo kami tak menerimanya tak mungkin kami datang kemari" ujarnya ketus.ucapan lusi sontak membuat dimas terkejut. panggilan nama yang keliatan begitu akrab menambah kecurigaan dimas tentang masa lalu mereka
dimas berfikir mungkin dulu ada asmara antara ibunya dan papi laras, semakin terbuka semua, batin dimas
rian hanya tersenyum "maaf bu, jangan kasar. ini rumah saya. sebaiknya ibu bersikap lebih baik"
perkataan rian sontak membuat hendra memanas "tapi perkataan istri saya benar pak rian"
seketika itu keadaan semakin menegang. tak ada suara beberapa detik
yuni langsung menggengam tangan suaminya, hendra merangkul bahu istrinya. perbuatan mreka dilakukan secara bersamaan membuat dimas melihat perlakuan mreka kepada pasangan masing masing secara bergantian
"maaf kalau perkataan suami saya menyinggung perasaan mbak dan mas" yuni melerai dengan kata katanya yang lembut
"kita disini karena sudah sama sama setuju dengan niat baik dimas untuk melamar laras putri kami. terima kasih" lanjut yuni
" tapi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, kami mengajukan beberapa syarat sebagai mahar. apa bisa?" tanya rian
"semampu kami akan kami penuhi" jawab hendra
"mahar sebesar Rp.5678***..,- dan sebuah rumah untuk tempat tinggal laras"
"APA?????" sebesar itu? mahar macam apa itu" teriak lusi
"angka itu merupakan angka kelahiran istri saya. karena saya sangat mencintainya, saya mau nilainya segitu" rian merangkul bahu istrinya dan tersenyum, ekor mata rian melihat kalau hendra memandang kemesraan mreka dengan raut yang tak terbaca. lusi menatap hendra karena hendra tak mengedipkan matanya melihat 2 insan yang saling melempar senyum
"bagaimana?" tanya rian menoleh pada hendra
"dari mana kami mendapat uang segitu? ada ada saja permintaannya" lusi mulai asal bicara
"trus dimas ada apartemen knapa harus beli rumah lagi?" ujar lusi lagi
"lagian tak nyaman kalau bayi tinggal di apartemen, laras dan bayinya harus merasa nyaman" jawab rian
"bagaimana, apa kalian setuju?" tanya rian lagi
"nggak" jawab lusi asal
"baiklah karena semua sudah jelas, kalian bisa pulang" rian berdiri, yuni menarik tangan rian
"lagian putri kami juga tak mencintai anak kalian lagi, besok akan ada surat panggilan buat dimas. soal anak diperut laras tak perlu dibahas karena kami bisa membesarkan dengan kasih sayang kami" rian melangkahkan kakinya menuju kamarnya
" kami sanggup, jadi dua minggu lagi kita resmikan pernikahan mreka. anak kami sangat mencintai putri bapak" tiba tiba hendra menjawab dengan suara bass nya
rian tersenyum, baiklah saya setuju
semua pembicaraan mereka jelas terdengar oleh laras yang masih berdiri diujung tangga lantai 2, dipandanginya mereka satu persatu dan pandangannya jatuh pada dimas yang mulai merasakan kasian bercampur benci.
ya Allah, ampunilah hambaMU ini, doa laras
....
pintu mobil dihempas lusi lalu secepat mungkin masuk ke dalam rumah, dimas dan hendra mengikuti langkah lusi, mereka duduk disamping lusi
"itu semua gara gara perlakuanmu dimas, kau sudah menyusahkan orang tuamu" lusi membentak dimas saat mereka sudah sampai di rumah hendra
dimas menunduk dan pasrah karena belum bisa membahagiakan orang tua malah makin menysahkan mereka "maaf....." hanya kata itu yang keluar dari mulut dimas
hendra menepuk punggung anaknya, tak perlu minta maaf, semua sudah terjadi. sebaiknya pikirkan bagaimana caramu supaya laras bisa mencintaimu kembali. dimas mengdongakkan kepala melihat yahnya tersenyum padanya, dimas membalas senyuman ayahnya
"terima kasih yah, dimas akan menumbuhkan cinta laras lagi yah" hendra memeluk anaknya dan mengelus punggungnya, terasa kehangatan dari pelukan seoranga ayah
lusi yang melihat gerakan mereka pun meneteskan air matanya, sebenarnya dia tau kebahagian dimas ada pada laras tapi kenapa dia harus jadi anak yuni, itulah yang tak bisa diterima lusi. padahal dia ingin mengubur masa lalunya dan suaminya
.....
"mi, apa papi masih marah?" tanya laras saat yuni mengantarkan s**u bumil, yuni tersenyum dan menggeleng
"laras tau kan gimana papi, dia sosok yang patut menjadi contoh buatmu dan anak cucumu kelak"
"papi tau apa yang akan dilakukannya demi istri dan anak cucunya" lanjut yuni
"2 minggu lagi laras menikah dengan dimas?
"apa???? secepat itu mi?" mata laras terbelalak
"he eh, kalian harus menumbuhkan lagi cinta yang sempat layu" yuni mengingatkan kalau laras pernah mencinta dimas
laras menunduk tak lama kemudian meneteskan air mata, yuni langsung memeluk laras
"jangan menangis kesayangan mami, mami melahirkanmu bukan untuk melihatmu menangis terus menerus, masa depan sudah menantimu" laras mengangguk dipelukan yuni, yuni menahan air matanya agar tak terlihat lemah didepan putri kesayangannya
"sekarang laras tidur, banyak istirahat karena pernikahanmu sudah dekat" yuni tersenyum pada laras
"mi, apa laras bisa bahagia?"
"jawabannya ada padamu dan dimas, kalian harus memperbaiki salah dan menguatkan yang benar" nasehat yuni membuat laras sedikit tenang
yuni melangkahkan kakinya ke kamarnya, membuka pintu kamar tapi tak ada suaminya dsana. lalu dia ke ruang kerja, suaminya sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang diletakkan diatas meja
"pi, kalo capek yok istirahat di kamar" yuni membujuk rian
"apa papi orangnya tegaan ya mi?" rian tampak menyesal dengan permintaannya kepada keluarga dimas
"tidak pi, apa yang papi minta masih belum bisa dibandingkan dengan cara dimas merampas mahkota laras" yuni menenangkan rian
"percayalah semua akan baik baik saja pi" yuni mengelus pipi rian lalu membungkukkan badannya mengecup bibir suaminya, kehangatan mengalir dari kecupan yang diberi yuni.
yuni memundurkan tubuhnya, "ayoo kita ke kamar, laras sudah mami tidurkan sekarang giliran papinya yang mami tidurkan" senyum menggoda yuni membuat rian dengan langkah seribu menuju kamar mereka.
rian menggenggam tangan yuni melangkah ke kamar mereka tak lepas senyum yang merekah di bibir rian dan yuni. merasa beruntung menjadikan yuni istrinya karena selalu bisa menenangkan segala kegundahannya