/
/
hendra
hendra duduk disamping teras dan memandangi anggrek yang dirawat istrinya. bermacam macam bentuk anggrek yang menambah keindahan taman kecil disamping rumahnya.
kalau soal permintaan papi laras tentang rumah, dia masih punya rumah yang kebetulan dekat dengan rumah yuni. tapi kalau soal uang yang diminta rian tentu tidak cukup. dia harus mencari jalan agar pernikahan dimas bisa terlaksana. karena dia tau gimana harus memperjuangkan cinta
lusi melihat hendra lagi termenung lalu dia menghampiri suaminya
"yah, ibu mau jual perhiasan ibu" lusi mengeluarkan kotak persegi dan mengeluarkan beberapa perhiasan yang ada dikotak tersebut
"ah ga perlu, kita jual saja mobil kita bu" sepertinya menjual mobil bisa mencukupi sedikit uang tabungan mereka
" jangan yah, itu mobil baru dibeli kok langsung dijual" lusi merasa keberatan
"ga apa apa bu, nanti kalo ada rejeki, kita beli lagi" dimas mencoba menenangkan istrinya
" trus nanti ayah kerja naik apa?" tanya lusi lagi
"naik motor tenang aja" hendra tersenyum
"kenapa ayah menyetujui permintaan rian yang tidak masuk akal itu" lusi terpancing emosi saat mengingat cara rian yang dianggap sedikit sombong
"ayah mengenal rian cukup lama bu, dia sebenarnya tak berniat seperti itu. dia mengajarkanku arti dari pengorbanan cinta" hendra tak sadar, kalau kata katanya menyakitkan lusi
"jadi ayah dulu menyesal ga berjuang menggapai cinta yuni?" lusi merendahkan nada suaranya lalu wajahnya tertunduk sedih
hendra tersadar lalu mendekati lusi "bukan begitu bu, justru ayah sudah terlalu lama mengabaikan cinta tulus ibu. seharusnya ayah mendapat hukuman dari ibu karena ayah sudah mengabaikan pengorbanan ibu" lusi menatap kedua mata hendra,
"apa ayah sekarang mencintai ibu?" tanya lusi penuh harap
hendra mengangguk tapi lusi tampak kesal "jawab bukan mengangguk"
"iya sayang, ayah cinta ibu" lusi memeluk hendra. saat hendra menutup matanya justru wajah yuni yang terlintas dipikirannya. astagaa...... hendra langsung membuka matanya takut dia mengucapkan nama yuni dihadapan lusi
lusi mendorong tubuh hendra "kita harus segera menjual mobil kita biar dimas bahagia"
"ibu bisa menerima laras menjadi menantu ibu?" pertanyaan hendra membuat lusi terkejut lalu tersenyum
"ibu sebenarnya sudah terlanjur sayang sama laras, tapi ibu takut kalo laras masuk di keluarga kita, ayah dan maminya laras akan menumbuhkan cinta kalian yang pernah mati" lusi mengungkapkan perasaan yang selama ini menyesakkan hatinya
sekarang hendra mengerti kenapa dulu lusi bersikap demikian
"baiklah, ayah akan menjaga hati ibu. sebisa mungkin tak akan berhubungan dengan perempuan itu" sengaja hendra tak menyebut nama yuni karena ada getaran setiap nama itu terlontar dimulutnya
lusi tersenyum menatap suaminya dengan penuh cinta "ayah janji ya" hendra mengangguk lalu memegang dagu lusi dan mengecup bibirnya
"aiss.... pagi pagi sudah dapat tontonan kayak gini, apa mau nikah lagi kayak mas dimas" adik dimas sudah berdiri di depan pintu teras
lusi dan hendra melihat anak kedua mereka dan tersenyum "kenapa mengganggu kesenangan kami bocah nakal" lusi menghampiri dan merangkul anaknya
"hari ini vika ujian akhir bu, bantu doa biar cepat wisuda" vika adik dimas akan menyelesaikan kuliahnya
lusi menepuk jidatnya karena lupa "ya Allah kenapa ibu bisa lupa, ayooo.... sarapan dulu nak" lusi menarik putri kesayangannya
hendra melihat kedua perempuan yang harus dijaga selama hidupnya. terima kasih buat cintamu lusi....
hendra beranjak menuju kamarnya dan mengambil surat surat mobil yang akan dijual. lalu keluar menuju meja makan, sarapan bersama istri dan anak anak tercintanya
dimas
hampir tiap pagi sebelum matahari terbit, dimas sudah ke rumah laras karena dia tau dari tante yuni yang tidak lain calon mertuanya kalo setiap pagi laras muntah muntah dan pernah sampai memuntahkan sebercak darah. walaupun kata dokter kadang hal itu bisa terjadi pada ibu hamil jadi pengawasan dari pasangan sangat diharapkan. jadi dimas sudah siap siaga membantu laras setidaknya bisa memapah laras ke kamar mandi dan membuat teh anget juga mengurut pelan leher blakang laras. awalnya laras tak sudi tapi tante yuni menjelaskan terkadang kedekatan ayah dengan ibu akan memberi kenyaman bagi anak dalam kandungan, akhirnya laras menyerah.
pengorbanan dimas belum meluluhkan hati rian, saat rian masuk ke kamar laras mau melihat keadaan putrinya, rian selalu mengabaikan dimas seolah olah dimas tidak ada disana, tapi yuni tetap menyemangati dimas demi anak mereka, cucu rian
"gimana dek, udah baikan?" dimas masih mengurut belakang leher laras, akhirnya laras mengangguk
"makan bubur dulu ya" dimas menyendokan bubur dan mengarahkan ke mulut laras tapi laras menggeleng
"bunda, dedek lapar" dimas bersuara seperti anak kecil seakan akan anak dalam perut laras sedang kelaparan
mendengar itu, laras tersenyum tipis, senyuman laras membuat dimas tak ingin jauh jauh dari laras
bubur yang disuapin dimas sedikit demi sedikit akhirnya habis ditelan laras lalu dimas memberi air mineral buat laras. tak lupa dimas membersihkan sekitar bibir laras sisa bubur yang masih menempel
"mas, sebaiknya sekarang pulang. laras tak apa apa" padahal laras pengen sekali dipeluk dimas, tapi perasaan benci masih menyelimuti hatinya mungkin itu bawaan sang janin pengen dipeluk ayahnya
dimas mengerti kalo keberadaannya membuat laras tak nyaman tapi dia tak mau mundur, harus terus mendapat hati laras kembali,
yang dulu telah dia rusak yaitu kepercayaan, menumbuhkan yang telah layu yaitu cinta, yang telah sirna yaitu ketulusan
"sebelum mas pulang bisakah mas peluk adek" dimas membiasakan diri menyebut laras dengan kata adek, karena dengan menyebut kata itu rasa melindungi laras semakin besar
mungkin benar kata maminya laras, hubungan anak dan ayah terikat satu dengan yang lain. saat laras pengen dipeluk, dimas menawarkan diri untuk memeluk laras. akhirnya laras mengangguk. pelukan dimas terasa nyaman. mual yang tadi dirasa laras hilang begitu saja
dimas melepaskan pelukannya. lalu memandang perut laras. "lusa bunda dan ayah akan mengikat janji. dedek jangan rewel di perut bunda ya biar semua lancar" tanpa disadari laras menjawab "oke yah"
seketika itu pandangan mereka beradu, laras lalu mengalihkan pandangannya tapi dimas tersenyum
"terima kasih" kalimat singkat dimas membuat laras terharu
yuni
laras harus tau sebenarnya dimas tak bermaksud jahat hanya saja caranya yang kurang baik. seandainya kami sebagai orang tua bisa memahami apa yang dulu terjadi menjadi pelajaran buat anak cucu kami.
yuni memandang tanaman di belakang rumahnya. dia senang dengan tanaman herbal, jadi halaman belakang penuh dengan jahe, kunyit, temulawak, serai dan masih banyak lagi
"mi, papi berangkat dulu ya" rian mengejutkan yuni
"loh lagi mikirin apa?" tanya rian, yuni menggeleng dan tersenyum
"masih mikirin pernikahan laras?" tanya rian lagi "udah papi serahkan ke WO jadi kita tinggal menunggu hasilnya, tenang aja, rian memeluk pinggang yuni dan mengecup keningnya
"papi harus bisa menerima dimas, gimanapun mereka saling mencintai, hanya karena kita maka kejadian itu terjadi" yuni berharap rian mau sedikit tersenyum pada dimas
"apa, kita? jangan asal bicara mi, ibunya dimas yang tidak menerima laras. udahlah jangan dibahas lagi.papi harus berangkat. siang ini ada sidang lapangan jadi papi ga mau telat. i love u" yuni tersenyum tapi rian tak beranjak
yuni jadi bingung "loh pi, ayoo pergi katanya nanti terlambat"
"balas dong lovu u too" ujar rian
"hehehehe.... i love u so much" yuni memeluk rian tapi kehangatan pelukan itu dirasakan yuni seperti hendra memeluknya. yuni tersadar langsung mendorong rian, rian bingung
takut rian bertanya kenapa mendorong pelukan rian, yuni mendorong rian " ayooo.... cepat berangkat sayang"
terima kasih buatmu cintamu rian, yuni tersenyum memandang mobil rian sampai tak terlihat lagi dibalik tembok gerbang rumah mereka yang menjulang tinggi