aku membelalak kaget Melihat Diki berdiri didepan ku tanpa pakaian sehelai pun, "ka...kau, apa yang kau lakukan?" tanya ku dengan nada tinggi namun gugup
Diki tersenyum menyeringai, "aku hanya ingin mandi bersama"
"Kau Gila"
segera aku bangun keluar berlari mengambil handuk untuk menutup tubuhku yang telanjang dan basah, aku mengelap tubuh ku yang basah dan cepat cepat mengambil piyama hitam di lemari dan segera aku pakai dengan tergesa gesa, mengikat tali pinggang piyama dengan tangan gemetar tak tertahan,
mataku membelalak kaget melihat Diki dengan entengnya keluar dari kamar mandi, tengah berbalut handuk dan menampilkan dadanya yang masih remaja belum berbentuk dengan sempurna, sementara ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk yang lainnya,
aku melangkah mundur hingga tak sengaja menabrak ujung meja dan hampir terjatuh, aku menjauh malah dia semakin dekat
Diki menangkapku yang hampir terjatuh, memelukku dan tersenyum menyeringai membuat ku semakin meringis
Bagaimana dia setenang itu seperti tidak melakukan apa apa kepadaku?
"kenapa kakak keluar?", tanya Diki karena aku keluar dari membersihkan diri
"kau..kenapa kau tiba tiba masuk?", tanya ku gugup yang masih tidak mengerti jalan pikirannya
Diki hanya menjawab ku dengan senyum jahat nya, membuka handuk yang membalut di tubunya membuat ku segera menutup mata menggunakan ke dua tangan,
entah berapa lama Diki kemudian menggerakkan jemarinya yang lembut untuk menyingkirkan kedua tanganku yang menutupi wajah serta penglihatanku
Dia sudah memakai pakaian lengkap, dan mendekatkan wajah nya didepanku lalu tersenyum manis tanpa dosa, berlawanan denganku yang ketakutan
tanpa permisi dia langsung mengecup keningku, "kakak tidak perlu malu, karena nanti kakak akan datang sendiri kepadaku memohon perlindungan ku dan ingin aku puaskan", ucap santai dengan senyum sumbing tergambar di bibir nya, tatapan nya tajam penuh dengan nada sombong
"kau..apa maksudmu, kita ini keluarga?" jawabku gugup, mataku membelalak tidak percaya apa yang baru saja ia ucapkan
ia menjauhkan diri dan mengambil tas serta mantelnya bergegas untuk pergi, "baiklah kalau begitu, aku akan datang lagi setelah aku tumbuh dewasa dan saat itu, kita bukan keluarga lagi",
aku hanya bisa terdiam, mulutku membeku tak bisa mengeluarkan kata kata, aku hanya bisa menelan ludah
sebelum pergi dia mendekatkan bibirnya kesisi pipiku, "aku akan menghancurkan siapapun yang menghalangi kita", ucapnya berbisik dengan nada ancaman serta menyeringai kemudian pergi meninggalkan ku yang mematung dan pucat.
badan ku langsung lemas dan terjatuh ke lantai, aku menyandarkan tubuhku yang lemah ke meja yang ada di sampingku.
apa arti dari ancaman nya barusan? dia bukan lagi adik ku yang polos dan murah senyum, dia menakutkan!
aku mengambil ponselku untuk meminta bantuan, tapi kepada siapa?
langsung aku pencet saja tanpa sengaja,
Yogi? Gila, kenapa pula aku memanggil nya
"hallo", jawab Yogi di seberang, tapi aku mendengar suara wanita di dekat nya,
tanpa menjawab, langsung aku matikan panggilan ku. Bodoh Bodoh Bodoh, aku memaki diri ku sendiri, jelas jelas Yogi tidak akan lagi datang kepada ku tapi kenapa hanya ada dia di pikiran ku
Bukankah seharusnya Bima yang aku mintai pertolongan? kenapa begitu sakit saat mendengar suara perempuan didekat nya
aku menangis tidak tahu harus berbuat apa, kenapa semua nya kacau, begitu kacau.
kebetulan ponsel ku berdering, aku melihat layar ponsel ku, Bima memanggil, lalu segera ku jawab
"Hallo", jawab ku dengan suara serak
"Bela, apa kau menangis?", tanya Bima karena suara ku serak khas orang yang sedang menangis, "kau ada dimana sekarang?"
"aku dirumah", jawabku sesegukan
"baiklah, aku akan segera kesana!", Bima langsung mematikan sambungan ponsel nya
aku masih saja menangis, kemudian aku beranjak pergi ke wastafel untuk membasuh wajah ku menggunakan air dingin agar panas di wajah ku kembali normal
aku menatap cermin, melihat mata ku sembab merah dan agak bengkak. aku kembali membercakkan butiran air ke wajah ku dengan kasar guna mengembalikan kondisi wajah ku dan juga pikiranku yang tengah kacau, tak terasa percikan air yang ku lempar di wajahku hingga mengenai rambutku yang semula setengah kering menjadi basah kuyup lagi hingga ke piyama.
aku benar benar kacau
ku ambil handuk untuk mengusap wajah dan rambutku hingga terasa sedikit kering, aku duduk didepan cermin dengan tatapan kosong, memaku kedua tanganku dan tenggelam didalamnya
"sayang", ucap seseorang dimana suaranya sangat aku kenal, jemarinya memegang bahuku dari belakang.
seketika aku menoleh dan melebarkan mataku, bangkit dari ketenggelaman, "Yogi?" ucapku tak percaya, "kenapa kau bisa kesini?"
Yogi hanya membalas tersenyum, sementara aku hanya duduk memaku didepan cermin, "kau kan tadi melakukan panggilan telfon kepadaku jadi aku segera datang kesini menemui mu, ingin melihat keadaan mu", jawab Yogi tenang dan masih saja lemah lembut
lalu diambil nya hair dryer, menyalakan dan mengarahkan nya kepada rambut ku satu persatu, "jangan tidur dengan rambut basah, apalagi hari ini cuacanya sangat dingin sekali, nanti kau bisa sakit", ucapnya penuh perhatian
entah kenapa melihat nya membuat ku sakit, aku sakit mengingat dia mencium wanita lain didepan mata ku, juga suara wanita barusan di telfon membuat d**a ku sesak
"apa peduli mu, jangan pura pura perhatian kepada ku, pergi sana bersama wanita uang barusan bersama mu", ucapku kesal
Yogi justru terkekeh mendengar ucapanku, membuatku semakin kesal di buat nya, "sayang, kau tidak boleh cemburu, nanti pacar mu bisa marah loh"
Nggg cemburu??
"apa apaan sih, siapa juga yang cemburu", jawabku terbata, pipiku terasa memerah
"baguslah jika begitu", Yogi menyisir rambutku yang sudah kering lalu menundukkan wajahnya, jelas terlihat saat aku menatap wajahnya dari cermin, matanya berkaca kaca tapi nada suara nya terdengar begitu tegar.
kemudian kedua tangannya memegang lengan ku dan membalikkan badan ku agar bertatapan dengannya
kali ini ekspresinya berubah lagi
"sayang, ceritakan lagi nanti apa yang sebenarnya terjadi kita bertemu kembali, aku harus segera pergi karena pacarmu akan segera datang!", ucap Yogi tersenyum kemudian pergi
Nggg dia tahu darimana? macam peramal saja
****
****
tak lama kemudian saat Yogi pergi, benar bahwa terdengar suara mobil Bima berhenti tepat di depan rumah ku dan sesegera aku membuka kan pintu rumah ku untuk nya
"Bela, ap yang terjadi?", tanya Bima sambil mengeluas wajah ku yang sudah kembali hangat dan tenang, "kenapa kau menangis?"
"aku tidak apa apa, hanya saja aku merindukan ibu ku", jawab ku berbohong, entah kenapa aku hanya ingin membagi kesedihan ku kepada Yogi seorang
Bima kemudian memelukku dan mengelus punggungku pelan, "kau tidak usah bersedih, masih ada aku disini yang akan menemani mu"
aku merasa bersalah karena sudah berbohong
kemudian terdengar bunyi di perutku, menandakan aku tengah lapar hingga mengundang gelak tawa oleh Bima, "apa kau lapar?", tanya nya sambil menatap lembut kepada ku
aku mengangguk, "Baiklah, tunggu disini sebentar aku akan menyiapkan makanan untukmu!", ucap Bima sambil mengambil celemek dan memasak di dapur
aku mengawasinya dari kejauhan, dia sungguh lelaki idaman
"kau terpesona?", cetusnya menebak pikiran ku, padahal dia tengah asik memasak
"kau gede rasa sekali ya, maaf ya selera ku ini tinggi!", sahut ku dengan provokasi
"ya aku tahu, lihat saja pacar mu itu, dia itu tinggi, tampan, kaya dan sempurna", kata Bima sambil mengangkat bahu nya menunjukkan diri nya dengan sombong
lelucon nya membuat ku tertawa walau memang benar adanya, segera setelah itu makanan tersaji didepan mata ku, "kau tidak makan juga?"
"aku tidak lapar, makanlah!", jawab Bima sambil menatapku dengan senyuman manis nya
****
ke esokan pagi nya seperti biasa aku pergi ke kampus dan lagi lagi aku berhadapan dengan wanita yang bernama Yuni
"hei perempuan penggoda!", ucapnya sinis sambil menghentikan langkah ku
aku menatap nya dengan dingin, aku sudah tidak peduli, "ada urusan apa lagi?" tanya ku ketus
"tidak, aku hanya pergi melihatmu saja dan ternyata kau baik baik saja, yasudah aku pergi dulu", jawabnya sinis sambil mengibaskan rambut nya lalu melewati ku pergi
dia menanyakan keadaanku? tahu darimana kalau aku baru saja mendapat masalah?
segera aku mengejarnya dari belakang dan langsung menjambak rambut nya yang panjang, hingga dia jatuh ketanah
"aww sakit, apa apaan kau? kenapa kau tiba tiba menjambak rambut ku?" tanya wanita itu marah, dan bangkit seakan ingin membalas perbuatanku
"ternyata kau yang menyuruh dua pria jahat itu untuk mengikuti ku", ku lihat mata Yuni membelalak kaget mendengar jawabanku sehingga aku tahu bahwa tebakan ku benar, "ku peringatkan, jika kau melakukan nya lagi, aku yang akan membunuh mu terlebih dahulu!" kini aku mengancam nya supaya dia takut
entah berhadapan dengan siapa aku sekarang tetapi aku harus lebih tegar dan terlihat lebih kuat, aku harus menghapus kelemahan ku didepan musuh
"maaf Bela, aku hanya bercanda, aku tidak akan melakukannya lagi?", ucap Yuni ketakutan
aku tidak perlu menjawab permintaan maaf nya, dan pergi begitu saja dengan wajah angkuh, begitu lega nya menjadi orang yang menang
****
Cinta bukanlah bertahan seberapa lama, Tetapi seberapa jelas dan ke arah mana
****