aku membawa nampan, diatasnya mangkok berisi sup sayur yang lunak, baik untuk kesehatan Diki yang masih terbaring sakit.
"kau sudah bangun?", tanya ku pada Diki yang sedang duduk diatas kasur dan menyandarkan tubuhnya ke papan ranjang
Diki mengangguk, "kakak membawa apa?" tanya Diki sambil melirik pada nampan yang aku bawa ke depannya
"ah ini aku memasak sedikit sup sayur, walau kamu tidak suka sayur tapi kau harus coba memakannya agar kembali menjadi jagoan", ucapku setengah bercanda, yang justru di sambut tawa oleh Diki, "aku akan menyuapi mu"
aku mengambil sedikit makanan lalu menyuapinya dengan pelan, dia terlihat sangat imut membuat ku tidak berhenti tersenyum
"kakak?" sapa diki sembari bertanya
"iya, kenapa?", aku masih terus menyuapi nya
"apa wanita akan menyukai ku jika aku dewasa nanti?", tanya Diki dengan tatapan sedih, membuat ku juga menjadi pilu
"tentu, wanita mana yang tidak akan menyukai mu jika kau dewasa nanti? kau itu tampan, ramah dan mampu melindungi wanita mu kelak", jawabku sambil mengusap wajah nya yang imut dengan kedua tangan ku
"apa kakak juga akan menyukai ku?", pertanyaan Diki membuatku ragu dan ambigu, aku melepaskan tanganku dari wajahnya yang aku usap tapi dia menahannya dengan kedua tangannya pula, "apa kakak juga akan menyukai ku?" Diki mengulang pertanyaan yang sama menekanku agar langsung menjawab nya
apa boleh buat, aku mengangguk meng iya kan pertanyaan bodohnya, aku tidak ingin membuat nya sedih, dia hanya adik kecil bagi ku
"kalau begitu, apa kakak akan menunggu ku?", tanya Diki masih dengan tatapan pilu
aku mengangguk, "iya aku akan menunggu mu, aku ingin melihat mu menjadi pria gagah dan tampan", seketika ucapan ku bisa merubah senyum nya menjadi ceria seperti seharusnya
****
****
"kak Bima tidak datang kesini?" tanya Diki yang masih berbaring
"tidak, dia tadi pagi mengirimi ku pesan, dia mengatakan kalau ingin menyiapkan sesuatu yang penting jadi dia akan kesini sore hari"
"sesuatu yang penting?" gumam Diki mengulangi perkataanku tanpa harus ku jawab, "kakak, aku ingin pergi jalan jalan sebelum pulang, apa kakak mau menemani ku?" tanya Diki langsung bangkit dari tidurnya
aku khawatir dengan kesehatannya tapi setelah aku lihat lihat, dia sudah segar sepeti semula "baiklah, aku akan menemani mu"
****
aku berjalan jalan dengan Diki, suasana di pagi hari tidak seramai pada malam hari apalagi ini musim dingin
melihat sebuah pameran lukisan ternyata menjadi kesukaan nya, "kau suka seni lukis?" tanya pada Diki yang berdiri disampingku menatap lukisan penuh kagum
Diki mengangguk sambil tersenyum, "aku menyukai seni, sangat suka bahkan aku bisa memainkan beberapa alat musik" jawab Diki penuh bangga
"wahh kau memang keren", ucapku memuji
"aku akan memainkan Biola untuk kakak tapi itu nanti saat aku tumbuh dewasa, aku akan berlari kearah kakak", kata katanya penuh dengan harapan tapi aku juga tidak mengerti maksud nya
mungkinkah ingin memainkan Biola saat dirinya sudah terlihat sangat keren dan membanggakan nya kepadaku?? anak tengil
"baiklah, aku akan menunggu hari itu tiba", jawabku dingin ingin memberi tantangan atas kesombongannya, dia hanya membalasku dengan senyuman terlihat dia menahan tawa
****
aku melihat Diki berdiri didepan toko menatap tepat didepan sebuah Biola yang terpajang, dan ditutupi oleh kaca.
"kau suka? kenapa tidak membelinya saja?", tanyaku kepada Diki yang tetap memandangi sebuah Biola yang dipajang
"sudah aku katakan, aku akan memainkannya saat dewasa dan menunjukkan nya kepada kakak", jawab Diki lalu mengalihkan pandangan nya kepadaku
Nggg kenapa begitu??? kata kata nya tidak bisa aku cerna
Diki mendekati Kaca penghalang tersebut lalu menghembuskan nafasnya yang hangat sehingga membuat embun di kaca, dia mengukir sesuatu bentuk yang familiar menggunakan jemarinya yang lembut, "kak, kau teruskan!"
entah kenapa aku mengikutinya dan menyempurnakan ukiran tersebut menjadi berbentuk hati
****
kita pulang menggunakan taksi dan setiba nya di depan rumah aku melihat Bima sedang berdiri menunggu ku
aku berlari kearahnya, "Bima, kau sudah daritadi?" tanya ku sambil mendekati nya
"tidak kok, aku juga baru saja sampai", jawab Bima memberikan senyum padaku lalu menoleh kearah Diki yang berjalan mengikuti ku, "kalian berdua darimana saja"
"kita...", aku ingin menjawab tapi terpotong oleh Diki
"kau tidak perlu tahu!", sahut Diki ketus lalu masuk sendiri ke dalam dan menutup pintu
apa dia masih tidak enak badan??
"maaf, adik ku sedang tidak enak badan jadi dia begitu!" ucapku meminta maaf karena kelakuan adik ku yang tidak sopan
"tidak apa apa kok, Bela, yukk kita langsung pergi saja!" ucap Bima langsung memegang tanganku dan menuntunku masuk ke dalam mobil nya yang mewah dan seperti biasa, dia terlihat tampan
"kita akan kemana?", tanyaku penasaran
"aku akan membawamu ke suatu tempat, ya semoga kau menyukainya", jawab Bima tersenyum sambil membelai rambutku
mobil pun melaju cukup jauh sehingga sampai pada malam hari, kita berhenti di sebuah taman hiburan untuk menikmati pemandangan kereta gantung
sangat indah jika menyukai ketinggian dan melihat pemandangan kota yang dipenuhi dengan cahaya lampu
"kau mau kopi?" tanya Bima menawariku, karena malam ini cuacanya dingin sekali sehingga tidak bisa aku tolak
kita pun menaiki kereta gantung tapi anehnya kita hanya berdua, "kenapa disini sangat sepi?" tanyaku penasaran yang justru dibalas gelak tawa oleh nya
"aku memesannya, Bela" jawab Bima dengan lembut
ah aku lupa, tempat ini kan salah satu milik keluarga nya, Bima kan penerus perusahaan pemilik beberapa pusat pembelanjaan, taman hiburan serta pengiklanan
"apa kau kedinginan", tanya Bima yang tanpa ku jawab langsung memelukku dari belakang, mendekap ku dalam kehangatan, "apa sekarang sudah merasa baikan?"
aku mengangguk, "hangat" tidak ingin lepas dari pelukannya
"Bela, aku ingin bertanya sekali lagi, apa kau mau menjadi kekasih ku?", tanya nya lembut setengah berbisik di telingaku
aku membalikkan tubuhku dan menatapnya dalam, mamandanginya, mencari sesuatu di wajahnya yang tampan
ada apa denganku ini, kenapa hatiku menolak nya?
tidak tidak, ini tidak boleh terjadi, seharusnya tidak seperti ini
"iya aku mau", jawabku menentang ke inginan hatiku karena aku yakin, Bima yang aku mau
Bima langsung memeluk erat dan mengecup keningku, "terimakasih Bela, aku mencintai mu, aku berjanji akan membuat mu bahagia"
setelah mendengar janji Bima, hatiku terasa semakin sesak, ada apa lagi dengan ku??
aku melingkarkan lenganku di leher bima, kemudian aku melayangkan ciumanku kepada nya, seperti biasanya dia membalas ciumanku dan seperti tanpa beban dia terus menempel dengan tubuhku
aku harus memastikan nya
****
"tadi sehabis pulang dari supermarket, ada dua orang pria jahat sedang mengikutiku", aku duduk menyeruput kopi dan memulai menceritakan kejadian yang aku alami semalam
"tapi kau tidak kenapa napa kan?", tanya Bima kemudian dengan panik dan memutar tubuhku memastikan sesuatu
"aku tidak apa apa, hanya saja Diki yang terluka karena terkena senjata tajam", Bima mengerutkan keningnya dan kaget
aku langsung menjawab, seolah aku tahu pertanyaan nya, "mereka sudah aman dikantor polisi kok"
wajah Bima mulai tenang kembali, "sukurlah" gumam Bima tenang
"tapi ada yang aneh", ucapku menyipitkan mata
"aneh kenapa?", tanya Bima penasaran
"sepertinya mereka memang sengaja mengejarku, karena mereka sempat mengatakan demikian setelah mereka menemukan ku", ucapku sambil mengingat
"apa?? b******k! pasti ada seseorang yang mengerjai mu, aku akan mengurusnya", Bima emosi, terlihat merah padam di wajahnya, aku tahu dia sangat peduli padaku dan tidak terjadi apa apa dengan ku tapi
"sudahlah sayang, bukan kah ini hari bahagia kita, yang terpenting aku tidak apa apa?", kataku sambil mengusap d**a Bima yang berdetak tak beraturan lalu memeluk nya
Bima membalas pelukanku lalu mengecup bibirku, "iya sayang, maafkan aku karena terlalu emosi, aku sanyang mencintaimu"
"aku juga"
****
Hari sudah hampir larut malam, Bima mengantar ku pulang, sebelum keluar dari mobil, aku memberinya sebuah kecupan di bibir manis nya
hati kita berbunga bunga
aku melambaikan tangan ku kearah mobil Bima yang sedang melaju pergi, aku pun berjalan masuk ke dalam rumah
aku melihat Diki sedang duduk terpaku, menopangkan wajahnya dengan satu tangan, "kenapa kau belum tidur?", tanyaku sambil melemparkan badanku ke ranjang
Diki tidak menjawabku dan masih pada posisi nya
dia masih marah ya? aku akan meminta maaf nanti tapi apa? ah dasarrr
karena pergi seharian dengan Diki lalu Bima, membuat tubuh ku terasa lengket, kemudian aku bergegas pergi ke kamar mandi dan mengatur suhu shower, air hangat mengalir membasuh tubuhku membuang kotoran yang menempel di kulit ku.
aku memejamkan mata merasakan tetesan air hangat di tubuhku dan terasa segar sambil mengingat Bima, dia selalu romantis
tapi seketika aku kaget dan mataku membelalak, sebuah tangan meraba perutku dan melingkar. sontak aku kaget dan menjauh hingga tak sengaja membenturkan tubuhku yang telanjang ke kaca tebal, dinding kamar mandi agar air bercakan dari shower tidak keluar kemana mana "awww" terasa sakit
aku membelalak kaget Melihat Diki berdiri didepan ku tanpa pakaian sehelai pun, "ka...kau, apa yang kau lakukan?" tanya ku dengan nada tinggi namun gugup
Diki tersenyum menyeringai, "aku hanya ingin mandi bersama"
"Kau Gila"
****
Wanita bahagia bukan ketika mereka bersama pria yang mereka cintai tapi bersama pria yang mencintai mereka
****