"kakak sudah pulang?" tanya Diki yang tengah asik tiduran di sofa sambil menonton siaran televisi
"iya, hari ini kelas kuliah ku sudah selesai", aku melemparkan badanku di rajang karena terasa lelah tengah menyelimuti ku, "apa kau sudah menghubungi ayah? ia mungkin khawatir kepadamu"
"tidak, ayah tidak peduli kepadaku!" jawab Diki ketus
"jangan berbicara begitu, dia menyayangi mu, tante juga pasti sangat sedih karena mu", aku mencoba untuk membujuk Diki agar mereka kembali akur dan pulang ke rumah, ayah memang tidak peduli kepada siapapun bahkan pada anak anaknya kecuali istri nya saat ini. hah cinta itu buta sayang
"aku sudah menghubungi mama, aku mengatakan ingin menenangkan diri sementara di rumah temanku", ucap Diki dengan entengnya, lalu merebahkan tubuhnya tepat di sampingku
"lalu bagaimana dengan sekolahmu?"
"hmm itu aku sudah memikirkannya, besok aku akan pulang!"
"baguslah jika begitu, kau jangan nakal lagi ya!" ucapku yang disambut senyum manis oleh Diki
aku berbaring melihat langit langit kamarku dengan tatapan gersang, sesak itu masih menyelimutiku
hah aku menghembuskan nafas kasar, pikiranku sedang kacau
"kakak kenapa, ada masalah?" tanya Diki kemudian karena melihatku begitu berantakan
aku menggelengkan kepala, lalu beranjak pergi dari rebahan ku, "aku tidak apa apa, aku mau pergi ke supermarket dulu untuk membeli makanan instan"
****
Yogi Yogi Yogi, argggghh kenapa dia masih terputar di otakku hingga ingin pecah rasanya
aku berjalan kaki sambil membawa kantung plastik berisi belanjaanku di dalamnya, malam ini susana nya mencekam, aku melewati jalan pintas yang biasa aku lewati jika siang hari untuk sampai lebih cepat ke rumah ku. Karena sudah malam hari jadi suasana nya benar benar menakutkan.
dalam langkah ku, aku mendengar suara hentakan kaki seperti mengikuti ku, merasa sedang di ikuti oleh segerombolan orang jahat
"he he he bukankah itu perempuan yang kita cari", kata seseorang di belakangan ku sehingga membuat tubuhku tegang dan kaget
benar, ada dua orang pria sedang mengikuti ku
dua orang pria itu dengan penampilan acak acakan khas pemabuk berat datang mendekatiku, aku langsung melangkah mundur
"kalian siapa dan mau apa?" tanyaku gemetar karena di dera rasa takut yang teramat
pertanyaan ku tidak mereka jawab, justru mereka menertawaiku dengan senyum jahatnya yang tersirat
"dia benar, kau memang wanita cantik jadi kita ingin memuaskan mu malam ini", ucapan jahat itu terlontar seakan puasa mereka sehingga tertawa begitu menakutkan nya, membuat tubuhku kaku gemetar di buat nya
tanpa pikir panjang aku berlari untuk mencari tempat untuk bersembunyi, aku melewati lorong lorong gelap agar mereka tidak menemukan ku
dan Begg!! aku menabrak seseorang hingga terjatuh ke tanah,
mungkinkah ini salah satu dari mereka?
"hei Nona manis, kau jangan lari lagi, aku tidak akan menyakitimu", dugaanku benar, dia salah satu pria jahat itu
tubuhku sejenak memaku karena di dera rasa takut yang amat dahsyat serta keringat dingin membasahi sekujur tubuhku, ia datang mendekat kepadaku dengan tatapan jahatnya sambil menjulurkan lidahnya membuat ku jijik
aku memejamkan mata karena ketakutan, dan Brakk!! pria itu jatuh tersungkur
mataku membelalak lebar, "Diki"
"kakak, mundurlah, biar aku yang menghadapinya!" ucap Diki sambil mengarahkan tubuhku untuk bergerak mundur di belakangnya
untunglah ada seseorang yang datang tapi pria jahat itu bertubuh tinggi besar serta menyeramkan, berbanding terbalik dengan adik ku Diki yang masih anak sekolah menengah
pria itu mengayuhkan tinjunya tetapi Diki mampu menghindar lalu menendangnya balik tepat di betisnya dengan keras sehingga ia jatuh duduk kemudian tanpa basa basi Diki meninjunya dengan keras hingga tubuhnya jatuh ke tanah
tapi tak berhenti disitu, pria itu mengambil sebuah pisau di saku nya dan mengarahkannya tepat kearah Diki
lagi lagi Diki menghindarinya dan mengayuhkan pukulan keras, membuat ia terjatuh lagi hingga tidak mampu bangun kembali
"Diki, kau sangat keren!" kataku senang tapi sesaat aku melihat bercak darah berceceran, tangannya luka terkena pisau yang tadi diarahkan pria jahat itu
"kesinikan tanganmu!" aku mengambil tangan Diki yang luka, untung aku membawa kain slayer dan membalut lukanya agar berhenti mengalir sementara, "ini pasti sangat sakit ya?"
"tidak kakak, ini hanya luka kecil", jawab Diki sambil memberikan senyuman ceria nya, membuat suasananya lebih baik dari sebelumnya
tapi hal itu hanya sekejab karena pria yang satunya datang tapi untunglah ada Diki dan polisi segera datang untuk memberi pertolongan kepada kami
aku kira Diki hanya lelaki polos, ceria dan tidak jago berkelahi, ternyata dugaan ku tidak benar, saat ia menghadapi dua pria jahat tadi. dia terlihat sangat keren, mampu mengalahkan mereka berdua yang memegang senjata dengan tangan kosong.
****
****
saat kita tiba dirumah, aku menyuruh Diki untuk duduk berdiam ditempat sementara aku mengambil kotak obat untuk mengganti kain slayer dengan kasa
"kakak?" sapa di Diki sembari bertanya padaku yang tengah fokus membalut lukanya
"iya, kau diam sebentar ya, sebentar lagi selesai!", jawabku menyuruh Diki tidak bergerak agar aku selesai dengan baik, "apa sangat sakit, maaf ya ini semua karena kau menolongku? tapi kau terlihat sangat keren" ucapku memuji dan memberikan senyum lebar ku karena memang untung ada Diki jika tidak, aku tidak bisa membayangkan nya
"apa kakak menyukaiku?", tanya Diki menatapku dengan lembut seolah pertanyaan itu penting bagi nya untuk di jawab
"ya tentu", sahutku tegas, "kau kan adikku"
"ah hanya adik", kata Diki bergumam tapi terdengar
Ngggg kenapa tiba tiba?
"sudah selesai, sekarang kau beristirahatlah karena besok pagi kau harus pulang!" , aku menarik selimut untuk menghangatkan tubuh Diki yang berbaring, "tidurlah disini, aku akan tidur di sofa", ucapku lalu melangkah kearah sofa yang tak jauh dari kamarku, dan di depannya terdapat televisi, sangat bagus untuk pemalas sepeti ku
"apa kakak tidak apa apa tidur di sofa?", tanya Diki ingin bangkit dari tidurnya karena tidak enak dengan ku, buru buru aku menghentikan nya
"tenanglah, aku sudah terbiasa tertidur disini jika tugasku menumpuk", jawabku tenang sembari merebahkan tubuhku dalam sofa besar yang hangat
bepp bepp ponselku berdering, Bima
"hallo Bim" sapa ku pada Bima yang jauh di seberang sana
"kau belum tidur, Bel?"
"ini aku baru saja ingin tidur, ada apa?"
"ah tidak apa, aku hanya ingin mendengar suaramu", aku tertawa mendengar jawaban Bima seperti sedang menggombalku saja, "besok aku akan ke rumah mu, ada hal yang ingin aku bicarakan" lanjut Bima berucap
"baiklah aku tunggu ya, aku juga ada hal yang ingin aku ceritakan kepada mu", aku ingin menceritakan soal kejadian tadi yang menimpa ku hingga penjahat itu melukai Diki, "sampai jumpa besok"
"selamat malam"
aku menutup panggilan telponku dan memejamkan mata, ah melegakan
"apa tadi itu kak, Bima?" tanya Diki dengan suara lemah terbatuk
"iya", jawabku setengah sadar masih dengan mata tertutup, aku mendengar Diki masih batuk batuk lalu tersedu. sontak aku bangun dari tidur yang hampir membawaku lebih dalam.
ku tempelkan telapak tanganku di dahi Diki untuk mengecek suhu tubuhnya, "panas! sepertinya dia demam", aku berlari kearah dapur mengambil mangkok dan sapu tangan untuk mengompres Diki agar suhu tubuhnya kembali stabil.
saat ini Diki terlihat lelap tertidur tapi keringat dingin masih membasahi tubuhnya dan menggigil, "peluk" celotehnya ingin dipeluk tanpa sadar, aku langsung memeluknya berbaring disampingnya yang sedang kedinginan,
aku menjaga mataku agar terbuka dan menahan kantuk, mengganti kompres yang aku tempelkan di dahi Diki yang sudah kering dengan yang basah sampai suhu tubuhnya stabil, "kau pasti sudah merasa tidak enak badan sebelumnya, tapi kau masih hebat dalam berkehali", aku bergumam dan tersenyum bangga mengingat kejadian tadi.
*"dia benar, kau memang wanita cantik jadi kita ingin memuaskan mu malam ini"*,kata pria jahat itu
DIA?? ada yang aneh
aku melihat Diki sudah terlelap tidur, ia sudah tidak menggigil lagi. kini aku menguap sangat hebat dan mencoba meng istirahat kan mata ku sebentar saja
bepp bepp, aku terbangun oleh suara dering ponselku menunjukkan ada sebuah pesan untukku, hari sudah pagi dan Diki masih terlelap tidur, aku menempelkan telapak tanganku lagi pada dahi Diki untuk memastikan
suhu tubuhnya sudah stabil
aku pergi kedapur untuk memasak sup sayur untuk Diki, aku mengupas, memotong dan memasak sama persis yang pernah di ajarakan Bima kepadaku
Dia akan memperlakukanku sama bahkan lebih baik jika diriku sakit, ah aku terlalu rapuh dan sering sakit
****
kau harus melakukan hal hal baik kedepannya , karena hari esok itu jauh lebih penting dari dari masalalu
****