MENJAUHIKU

1349 Kata
mataku berat, kepalaku masih terasa pening tapi aku mencoba untuk membuka mataku perlahan, aku menghirup bau khas rumah sakit, bau obat obatan dan terlihat selang infus menancap di punggung tangan kiriku. kenapa aku bisa berakhir disini? "kakak sudah bangun?" tanya seorang laki laki lebih muda dariku berambut pirang, Diki, anak dari ibu tiriku karena ayahku juga menikahi seorang janda beranak satu, "apa kakak sudah merasa baikan?" aku mengangguk "kenapa kau bisa ada disini?", tanyaku karena hubunganku dengan keluargaku tidak pernah sedekat semestinya, bahkan sejak ayah meninggalkanku dan menikah dengan ibu Diki, kita tidak pernah bertemu entah sudah berapa tahun lamanya, ia sudah tidak peduli padaku, tapi kenapa Diki bisa ada disampingku sekarang? terakhir aku mengingat kalau aku sedang berendam dikamar mandi dengan tubuh telanjang bulat dan sekarang berakhir di rumah sakit bahkan dengan Diki?? banyak sekali pertanyaan berputar diotakku "ah, aku kabur dari rumah karena ayah memarahiku" jawab Diki kesal, "aku tidak punya tujuan lain selain kakak, lalu saat aku tiba didepan rumah kakak, aku melihat seorang pria sedang membawa kakak yang tengah tidak sadarkan diri dan pergi kerumah sakit ini" ah ternyata benar, semalam aku tidak sedang bermimpi, Yogi disini, berada disampingku. "pasti ayah memarahimu karena kau nakal dan susah di atur", ucapku meledek dan menjitak kepalanya pelan "auww", jerit Diki seolah aku menjitak keras, dia masih saja menjadi anak yang manja semenjak ayah menikah lagi, hubungan kita memang renggang tetapi aku mengikat hubungan yang lainnya, yaitu dengan Diki anak dari ibu tiriku. dia ramah dan lucu, dia hanya anak kecil nan manja kepadaku, dia yang selalu membelaku saat ibu nya memarahi ku, aku menyayangi nya seperti adik kandungku sendiri. "ohya, apa Diki tahu kemana pergi nya kakak laki laki yang membawa kak Bela kerumah sakit ini?" tanyaku untuk memastikan Diki gelengkan kepalanya, "saat mengantar kak Bela, kakak laki laki itu langsung pergi begitu saja" "oh begitu", aku menghela nafas mencoba mengingat kejadian yang belum sepenuhnya aku ingat tapi aku yakin dia menangisiku disini aku ingat saat kesadaranku mulai sedikit pulih, aku terbangun mendengar tangisannya dan tangannya memegang tanganku dengan gemetar, walau samar samar aku melihat wajahnya tetapi sangat jelas di ingatanku bahwa dia menatapku pilu, penuh penyesalan. jemarinya mengusap wajahku yang dingin dan membelai rambutku, menatapku dengan mata nanar, bibirnya bergetar menahan tangis seakan pilunya sangat dalam "sayang, maafkan aku? maafkan ke egoisanku" ucapnya serak, "sungguh aku tidak ingin menyakitimu" kedua tangannya menggenggam erat tanganku, menciuminya dan sesekali menempelkannya pada matanya yang basah "sayang, aku tahu kamu, aku tahu jelas bagaimana sifatmu, bahwa aku tahu kalau kau menganggap dirimu kotor sehingga kau masih mempertahankan ku" suara Bima terdengar semakin serak mengikuti gejolak di jiwa nya, "sayang, sejak awal aku tahu bahwa dirimu menyukai Bima, karena ke egoisanku ingin memiliki mu, aku merantaimu dengan cara mengambil hal terpenting dalam hidupmu tetapi aku tidak menyesalinya karena aku hanya melakukan ini kepadamu seorang dan tak akan pernah kepada yang lainnya, aku tidak menyangka bahwa hal ini hanya menyakitimu saja" setelah mengucapkan ini suara tangisannya pun terdengar menembus jiwaku yang setengah sadar, lalu ia berhenti seolah jiwanya sudah tegar tangannya kembali mengusap rambutku dengan mata menahan tangis "sayang, Bima pasti akan menerimamu apa adanya, hal ini bukan masalah baginya yang juga mencintaimu, aku mohon jangan menganggap dirimu tidak pantas dan kotor karena kau wanita yang paling berharga dalam hidupku, aku akan membuang ke egoisanku dan akan melepasmu, ku harap Bima akan membahagiakan mu lebih dari diriku yang hanya bisa menyiksamu" aku ingat semua yang ia katakan kepadaku, perkataannya yang seolah mampu menebak pikiran dan perasaanku yang terdalam, dia sangat mengenalku tapi, mengapa kalimat terakhirnya membuat dadaku terasa semakin sakit? aku tidak ingin dia meninggalkanku pergi **** "Bela, kau tidak apa apa?" tanya Bima yang datang kepadaku dengan suara ter engah engah seperti habis berlarian saja, Tangannya meraba wajahku lalu melihatnya dari segala segela sisi, mengecek nya untuk memastikan bahwa aku baik baik saja, "apa ada yang sakit? dia membuatku tersenyum dengan tingkah laku dan perhatiannya seperti ini tapi, "bagaimana kau tahu bahwa aku ada disini?" "ah itu, aku mendapatkan panggilan telepon dari Yogi, dia memberitahuku bahwa kau sedang berada di rumah sakit" ternyata dia sungguh ingin melepasku "hai kak Bima" sapa Diki memasuki ruangan setelah selesai mengurus administrasi, "kakak sudah boleh pulang tapi harus lebih banyak istirahat!" ucap Diki kepadaku dan aku balas dengan anggukan "Nggg, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Bima penasaran, Bima mengenal Diki dan dia juga tahu bahwa meskipun kami sudah menjadi keluarga tapi tidak begitu dekat Diki membalas pertanyaan dengan senyum gugup sambil menggaruk kepalanya hingga membuatnya terlihat salah tingkah, ia mungkin malu "ah itu panjang ceritanya kak he he" "hmm ya sudah, kau tunggu di mobil saja! aku yang akan membantu bela keluar", Diki pun bergegas pergi ke area parkir dan Bima membantuku untuk duduk di kursi roda lalu di dorongnya sampai ke area parkir disambut dengan Diki membukakan pintu mobil depan untukku, aku duduk di jok depan dengan Bima yang mengemudikan mobil **** **** setelah sampai di depan rumah, Bima masih saja memperlakukan ku dengan hangat "padahal aku bisa berjalan sendiri Bim", kataku ingin turun dari gendongannya karena malu "sudah jangan bawel, kau tidak boleh banyak gerak dulu!" jawab Bima dengan entengnya dalam gendongannya aku bisa lebih jelas melihat parasnya yang begitu tampan, garis rahang yang tegas, hidungnya yang mancung, matanya indah serta bibirnya yang ingin sekali aku kecup, ah sekelibat pikiran itu mengundang senyum dibibir ku "sudah puas melihat ku?" tanya Bima menebak, membuatku tertunduk malu dibuat nya ah ke dua pipi ku mulai terasa panas, merona akhirnya Bima melepas dan menurunkan ku diatas ranjangku yang luas, menarik selimut untuk menutupi tubuhku hingga ke bahu. tangannya lembut mengusap rambutku dan mengecup keningku, "istirahatlah Bela, aku akan menemanimu!" Bima masih diam duduk di tepi ranjang dan mengawasiku hingga aku tertidur lelap kembali, aku merasa lebih tenang berada di dekatnya **** Hari ini badanku sudah lebih segar, dan ya seperti biasanya aku pergi ke kampus. aku juga menyiapkan hatiku jika berpapasan dengan Yogi tapi sudah beberapa hari ini aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya aku belum sempat mengucapkan rasa terimakasih ku kepada nya "Bel, ikut aku kantin yuk!" ajak Sindi memaksa, sebenarnya hari ini aku sangat malas untuk menggerakkan badaku tapi apa boleh buat jika temanku memaksa dan ya, akhirnya aku bertemu dengan Yogi tetapi ada seorang wanita di sisinya berjalan berlawanan arah keluar dari kantin. dia hanya berjalan berlalu melewatiku begitu saja, menganggapku seorang yang asing serta tidak pernah melirik ke arahku *kenapa hatiku merasa sakit? ada apa dengan diriku? "wahh kau lihat, Yogi bersama perempuan lain, seperti nya perempuan itu salah satu idola kampus kita, apa kalian sudah putus*?" tanya Sindi dengan sinis melirik kearah mereka yang berjalan pergi *apa kita sudah putus? apa dia sudah melupakanku? ah kenapa pertanyaan ini terselip di kepala ku sehingga aku tidak mampu menjawab pertanyaan Sindi "Sin, aku pergi dulu untuk memastikan sesuatu*!" ucapku pergi meninggalkan Sindi dan berlari ke arah Yogi "kemana dia pergi nya ya?" gumamku dalam hati aku mencari kearah Yogi pergi bersama wanita itu, di semua sudut kampus dan akhirnya aku menemukan mereka berdua, Yogi asik membaca Novel yang di genggamnya sementara wanita itu berada tak jauh dari tempatnya yang berdiri langkahku mengundang perhatian dari Yogi dan dengan sigap Yogi langsung menarik lengan wanita itu hingga jatuh dalam pelukannya, lalu melumat bibirnya tepat di depan mataku. langkahku terhenti seketika, kenapa air mata ku mengalir begitu saja dan kenapa pula sakit rasanya sebenarnya apa yang aku rasakan ini, dan kenapa pula Yogi melakukan ini kepadaku? apa yang sedang ingin dia buktikan kepadaku? Brengsekk aku memutar badanku, berlari menjauh sampai tidak sadar menabrak sesorang, lagi lagi Bima hatiku yang sedang rapuh ini ingin mendapat ketenangan, aku memeluk Bima erat dan menangis puas di hadapannya "kenapa kau menagis, Bela?" tanya Bima sambil mengusap pipiku yang basah "aku tidak apa apa Bim, aku hanya ingin pulang" jawabku yang tidak jujur ini, aku hanya tidak ingin Bima tahu apa yang sedang aku rasakan karena bahkan diri ku sendiri saja masih ragu "baiklah aku akan mengantar mu pulang!" **** walaupun kamu ingin menghapusnya, cinta tidak bisa pergi begitu saja. Karena cinta tidak tinggal dalam kenangan, melainkan dalam hati ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN