aku melangkah mundur tapi dengan sigap dia menarik tubuhku hingga menempel begitu erat dengan tubuhnya
dia langsung melayangkan ciumannya ke bibirku, melumatku dengan kasar bersamaan dengan suasana hatinya yang panas akibat terbakar rasa cemburu
aku memukul kecil di dadanya yang bidang, pukulan tak berarti karena diriku yang lemah,
dia memegang kendali tanganku, mehanku untuk memberontak
dia masih saja menciumi ku dengan kasar dan tak memberiku ruang untuk bernafas
"hah hah hah" akhirnya dia membiarkanku bernafas
Yogi tak ku duga dia langsung menggendongku dan menurunkan aku diatas ranjangnya yang luas
apakah dia akan melanjutkan aksinya diatas ranjang? apakah dia akan terus menjeratku dan merantaiku agar aku tidak berpaling darinya sedikitpun?
pertanyaan pertanyaan itu muncul di kepalaku dan benar saja Yogi langsung membuka bajunya sampai tak tersisa sehelaipun di tubuhnya, aku mundur menjauh sampai menabrak papan ranjang tapi hal itu sia sia
Yogi langsung menarik paksa kakiku dan membuatku duduk dipangkuannya,
dia menjilati leherku dan merobek bajuku dan melepas paksa BHku, dia menjilati sampai ke dadaku dan memberikanku bekas kepemilikan, ahh ,
erangan terpaksa tak sengaja aku lontarkan, ahh gairahku memuncak
dia memeluk erat tubuhku dan masih menikmati disetiap sudut leher dan dadaku
****
****
setelah cukup puas dia dengan dadaku, kemudian membaringkanku dan menindihku, mengatur tubuhnya agar tidak membebaniku.
tak cukup disitu dia menyiksaku dengan melepas paksa celana dalamku, dia memasukkan ke dua jarinya kedalam organ intimku dan memainkan punyaku yang kenyal dengan ibu jarinya, erangan erangan keluar dari mulutku
Yogi meraih mulutku yang mendesah dan memainkan lidahnya dengan lincah, aku sudah tidak tahan ingin berhenti karena mengingat bahwa aku sudah mengambil keputusan untuk putus dengannya dan mencoba memberi hati kepada Bima
"hentikan Yogi, hentikan!" kataku memberontak ingin terlepas
"coba saja jika kamu bisa!" jawab Yogi dengan senyum sinisnya
kemudian Yogi beralih, kepalanya berada di antara kedua pahaku yang terbuka lebar.
dia menjilati dan menciumi organ intimku, memberikan ku kenikmatan yang tidak bisa aku tolak
tanpa sadar aku menjambak pelan rambutnya yang hitam, aku mendesah mengerang "ahh ahh ahhhhh" nafasku naik turun, birahi mengusai pikiranku
beppp beppp beppp tiba tiba ponselku berbunyi,
Yogi menghentikan aksinya dan segera aku mengambil ponselku yang berada di saku jaketku dan terletak di meja dekat pintu kamar Yogi
aku kaget melihat siapa yang sedang memanggilku membuatku terhenti tidak mengangkat panggilan telfonnya
Yogi tiba tiba datang dan memeluk tubuhku yang telanjang dari belakang, "kenapa tidak diangkat sayang? seharusnya kau mengangkatnya dalam situasi sepeti ini!" ucap Yogi penuh nada jahat yang tersirat
tanpa aku sadari Yogi memencet ponselku membuat sambungan panggilan dengan Bima
"hallo Bim, ada apa?" jawabku gugup
"oh, aku hanya sedang memikirkanmu! baru saja kita bertemu tapi aku sudah rindu" kata Bima di telefon dan suaranya terdengar hingga ke telinga Yogi yang menempel dengan tubuhku
ingin sekali aku menjawab bahwa aku juga merasakan hal yang sama tapi apalah daya, aku sedang di situasi yang tidak baik
tak ku duga kemarahan Yogi tergambar di wajahnya dan mendorong tubuhku tertidur setengah berdiri diatas meja, sedangkan tanganku masih menggenggam ponsel
tanpa basa basi Yogi langsung memasukkan barangnya kedalam tubuhku dari belakang hingga membuatku mengerang penuh kenikmatan, sejenak aku lupa bahwa ponselku masih terhubung dengan Bima
"ahh, Bim, hmm huffffffff hmmm sampai jumpa besok saja ya karena aku, ahhh, aku sudah tidak tahan dan aku, ahh, mengantuk" kataku sambil menahan desahan sekuat tenaga
"baiklah Bel, selamat malam semoga mimpi indah" jawab Bima tanpa curiga, lalu aku segera mematikan sambungan telfonku
Brengsek, Benar Benar b******k, dasar bajingan
Yogi menghabisiku, menggenjot dengan kasar dan makin menganggkat bokongku agar pas dan tusukan nya makin dalam hingga aku tak tahan karena kenikmatan, ia terus melanjutkan aksinya yang di sengaja tanpa henti hingga membuat tubuhku kehabisan tenaga
dia membalikkan tubuhku lalu melumat bibirku kembali, memeluk tubuhku hingga berjalan menuju ranjang kembali tanpa melepaskan ciumannya
rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa aku lepas dari genggaman Yogi, tak terasa air mataku jatuh menetes
"sayang, kenapa kamu menangis? jangan bersedih! aku akan melepaskan kesedihanmu" kata Yogi sambil mengusap air mataku yang jatuh menetes
apa dia tidak berpikir bahwa aku menangis karena ulahnya, dia memaksakan kehendak yang tidak aku inginkan kepadaku
aku menatap tajam penuh amarah ke arah wajahnya yang dekat, dia ingin mencium bibirku lagi tapi aku buru buru memalingkan wajahku
wajahnya kini langsung berubah drastis dan tajam kepadaku, "aku sangat tidak suka wanitaku menangisi orang lain didepan mataku", ucapnya penuh penekanan "dan jangan pernah berpikir bahwa kau akan lari karena aku berencana melakukan ini hingga tubuhmu tidak kuat lagi untuk berjalan"
seketika bulu kudukku berdiri, aku merinding mendengar ucapan jahatnya, seakan dia tidak akan membuat tubuhku bersantai malam ini
dia meneruskan aksinya dan membuat gerakannya semakin cepat hingga s**u kental putih keluar dan membasahi organ intimku
kepalanya jatuh dekat dengan leherku dan menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak menindihku, lalu dia berguling dan memelukku dari arah belakang
dia sudah lelah, aku pikir dia akan berhenti tetapi tidak. dia masih menikmati tubuh belakangku dan menciumi punggung leherku hingga aku menggeliat
barangnya mungkin sudah kelelahan tetapi bagian tubuh yang lainnya tidak
dia berbaring disampingku dan kini berada diatasku dengan bertopang satu tangan dan tangan yang lainnya bergerak untuk memainkan organ intimku lagi seperti tiada habisnya
dia langsung melumat bibirku lagi ketika mulutku mengeluarkan suara desahan, ahh,
"Yogi, tidak bisakah kau berhenti?" tanyaku penuh harap
tapi Yogi malah semakin mempercepat pergerakan tangannya dan keluar masuk didalam tubuhku
"sayang yukk kita mandi bersama?"
aku menggelengkan kepala "aku tidak mau"
jawaban Yogi bukan marah tapi malah menggendongku untuk masuk kedalam bethup
"sayang sepertinya lebih nikmat lagi jika melakukannya disini" kata Yogi sambil menggoda
"tidak, aku tidak mau lagi!" jawabku membantah tapi lagi lagi Yogi berpindah duduk dibelakangku lalu memelukku dari arah belakang, menciumi punggung leherku dan juga kedua tangannya meremas payudaraku yang empuk
nafasnya kembali terdengar naik turun, lalu dia menarikku hingga aku berakhir duduk dipangkuannya lagi
aku rasa barangnya mulai mengeras lagi, padahal dia sudah memaksaku bercinta berapa kali malam ini tanpa henti
lalu barangnya mulai memasuki tubuhku lagi dan sekarang rasanya berbeda, jauh lebih nikmat saat terkena air lalu masuk lagi di dalam tubuhku
"uhhh ahhh uhhh ahhh" desahan serta erangan keluar dari mulutku begitu keras dari sebelumnya, kenikmatannya tiada tertandingi
kemunafikan menimpa diriku saat ini
aku tidak ingin ini segera berhenti, dia berhasil meluluhkan aku malam ini dan membuatku menjadi agresif
kini aku yang lebih mendominasi dan memegang kendali, aku melumat mulutnya hingga basah dan aku tidak berhenti bergoyang diatas nya
kenikmatan yang tiada akhir, aku benar benar menikmatinya dan membuatku menjadi gila malam ini
terlihat senyuman manis terukir lagi di wajah Yogi karena sudah berhasil mendapatiku seperti semula
aku sudah tidak peduli lagi tentang apapun kecuali kenikmatan yang aku rasakan saat ini, benar benar membakar jiwaku.
rasanya dingin, geli, nikmat campur aduk saat dipadukan dengan air dan bercinta di dalam bethup. perlahan berubah menjadi hangat hangat dan hangat
ahhh aku tidak bisa mendeskripsikan kenikmatan yang tidak bisa ditandingi ini "Yogi kamu berhasil"