PERASAAN YANG SALAH

1072 Kata
Rasa lelah telah menyelimuti ku, aku sudah kehabisan tenaga tapi aku harus pulang, tidak boleh ada yang tahu kalau aku bermalam disini dan Bima pasti akan menjemputku karena hari ini aku ada kelas pagi aku lihat Yogi sudah tertidur pulas, dia juga tak kalah capeknya dariku, lengannya masih melingkar dipinggangku dan aku perlahan mencoba melepaskan pelukannya. aku mengambil baju yang berjejeran di lantai dan segera memakainya walaupun bajuku sobek akibat ulah Yogi yang tak sabaran, untung aku bisa menutupinya dengan jaket kemudian aku bergegas pergi meninggalkan apartemen Yogi dan naik taxi yang sedang terparkir, aku lihat jam sudah menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit beberapa jam lagi matahari akan naik menerangi Bumi, mungkin di saat itu Yogi akan mengetahui kalau aku sudah tidak ada diranjang nya yang luas lagi **** seberkas cahaya menyilaukan mataku yang sedang tertutup, membuat mataku tidak nyaman dan terbangun dari tidurku yang kelelahan, rasa remuk aku rasakan disekujur tubuhku. aku berjalan kearah dapur untuk mengambil segelas air untuk mengobati dahagaku tanpa memikirkan siapa yang sudah membuka horden kamarku sehingga membuat mataku silau karenanya ku teguk sebotol air dingin mineral yang aku taruh di dalam lemari pendingin dan kembali lagi menjatuhkan tubuhku diatas ranjang dengan posisi kaki tidak sampai diatas ranjang aku mendengar dengan samar suara pria sedang tertawa, ya dia pasti menertawaiku aku mencoba membuka mata untuk melihat sesosok pria sedang duduk berjongkok sambil memandangi wajahku yang setengah tertidur "Bima?" seketika aku kaget terbangun dan duduk diatas ranjang menghadap dirinya yang tengah berjongkok memposisikan tubuhnya agar sejajar denganku "Bela, kau tidur sangat lelap sekali sampai aku tidak tega untuk membangunkanmu, sepertinya kau kelelahan seperti habis berlari berkilo meter tadi malam!" ucap Bima mengejek sambil tertawa mamandangiku aku bukan hanya seperti berlari tapi aku melakukan olahraga berat hingga subuh menjelang "hehe iya" jawabku tersenyum malu, "bagaimana kau bisa masuk kesini?" Bima mengetuk dahiku pelan "kau ceroboh, kau lupa tidak mengunci pintu rumahmu dan membiarkannya terbuka lebar" oh iya, aku berjalan sempoyongan kerena tidak punya tenanga sampai aku lupa untuk menutup pintu lalu menguncinya Bima mengelus pipiku dan langsung menciumku tanpa permisi, entah apa yang ada pikiranku sehingga aku membalas ciumannya yang lembut ciuman lembut yang aku rasakan kali ini sungguh berbeda, aku merasakan kebahagiaan di dalamnya. Bima hanya mengemut bagian bibirku dan mengecupku, memberiku kehangatan mewakili perasaannya yang tulus **** **** karena hari sudah siang jadi aku pasti sudah telat untuk ke kampus jadi aku berinisiatif untuk menelpon Sindi untuk TA hari ini "hallo Sin" sapaku kepada Sindi di seberang "hallo, kamu dimana Bel?" tanya Sindi karena biasanya jam segini aku sudah ada di kampus bersama dengan Sindi "aku titip TA ya hari ini, nanti aku traktir deh!" kataku merayu, "dan juga kalau Yogi mencariku katakan kalau aku bersamamu" ucapku bisik bisik "kau mau kemana Bel? mau bermalam dengan siapa?" tanya Sindi curiga "tiba tiba Bima mengajakku pergi, besok aku sudah pulang kok" "apa kalian sudah jadian?selamat ya!" kata Sindi yang terdengar senang karena dia sangat mendukungku bersama Bima, "jangan lupa pakai pengaman!" sambung Sindi becanda "hei, kita hanya liburan biasa tidak ngapain ngapain kok" jawabku tanpa menjelaskan hubungan sebenarnya antara aku dan Bima, aku mendengar Sindi tertawa geli sambil mengejekku "udah dulu ya Sin, aku berangkat dulu!" kataku memberi salam lalu mematikan sambungan telfonku aku mendengar suara bunyi nyaring dari atas dan tiba tiba berhenti di halaman belakang rumahku yang luas "Bim, kita akan pergi kemana?" tanyaku penasaran karena ada helikopter terparkir di halaman belakang rumahku "ini rahasia, tapi yang pasti kau akan menyukainya" jawab Bima lalu memegang tanganku dan menuntunku untuk masuk kedalam helikopter jujur aku sangat takut ketinggian, badanku menegang dan pikiran psimis ada di dalam otakku Bima menggenggam tanganku dengan jarinya yang lembut hingga membuat perasaanku lebih tenang, aku berusaha membuka mataku pelan dan melihat pemandangan yang begitu menakjubkan pulau, gedung gedung tinggi serta pepohonan terlihat saat indah jika dilihat dari atas helikopterpun berhenti di suatu pulau yang belum aku datangi sama sekali, pulau yang begitu indah nan asri **** **** kita pergi jalan jalan melihat pemandangan sekitar juga pergi bersama ke pantai, seharian penuh kita menghabiskan waktu bersama senyum indah terukir di wajahnya yang tampan, perasaan bahagia menyelimutiku, begitu bahagia dan nyaman jika ada didekatnya, begitu berharga jika menghabiskan waktu bersamanya. aku menyukai nya **** hari sudah menjelang malam, kita pergi beristirahat di Villa milik keluarga Bima "kita serius akan menginap disini?" tanyaku kepada Bima karena disini kita hanya berdua saja kalian tahukan jika sepasang pria dan wanita berada dalam satu kamar pastii akan melakukan hal aneh? Bima langsung melemparkan badannya keatas ranjang dengan santainya "mendekatlah!" ucap Bima membuatku semakin gugup "aa..apa?" tanyaku memastikan sambil melangkah mundur menjauhi Bima Bima tersenyum menyeringai melihat tingkah laku ku kemudian menarik paksa tanganku hingga aku menindih badannya yang kekar inginku beranjak dari posisi canggung seperti ini tetapi Bima malah melingkarkan tangannya membuatku semakin menindihnya aku memejamkan mata, pikiran ku kacau karena penuh dengan pikiran negatif, jantungku berdetak kencang tidak karuan "kamu m***m juga ya rupanya?" ucap Bima sambil tertawa seperti menebak pikiranku seketika aku membelalakkan mataku, "aa.. apa maksudmu? itu tidak benar" kataku canggung "Bela, aku memang mencintaimu tetapi aku tidak akan menghancurkanmu" kata Bima lembut, tapi kata kata lembutnya itu seakan seperti sebuah pistol yang sedang membidik tepat mengenai kepalaku aku sudah kotor "terimakasih" ucapku sambil menundukkan muka, agar Bima tidak tahu bahwa mataku sedang berkaca kaca Bima melepaskan pelukannya dan akupun beranjak pergi, aku mengambil ponselku yang sudah kehabisan baterai daritadi siang lalu mencharge nya. aku mulai memencet tombol on di ponselku dengan perasaan was was dan ternyata benar dua puluh tujuh riwayat panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Yogi saat notifikasi pesannya masuk ke ponselku, ponsel yang aku genggam langsung berdering menunjukkan bahwa Yogi sedang memanggilku rasa cemas dan gugup menyelimuti tapi aku berusaha untuk tetap tenang dan mengangkat panggilannya "Hallo" jawabku tenang "hallo sayang, kau ada dimana sekarang? aku datang kerumahmu tapi rumahmu sepi dan aku mencoba menelfonmu tapi kau tidak mengangkatnya dan tiba tiba ponselmu mati!" "oh iya maafkan aku tidak mengabarimu, aku bermalam dirumah Sindi" kataku berbohong "oh ya, benarkah?" tanya Yogi meragukanku hingga membuatku semakin gugup "iya benar, kita ada tugas jadi aku.." tiba tiba Bima datang dengan memakai piyama dan menawariku eskrim, "ah tidak terimakasih" jawabku kepada Bima sambil mengumpatkan ponsel dibelakang tubuhku setelah Bima pergi aku melanjutkan percakapanku, "hallo" sapaku memastikan percakapan kita masih tersambung "yasudah kalau begitu selamat malam" jawab Yogi langsung menutup panggilannya *aku menghembuskan nafasku panjang, begitu lega, semoga Yogi tidak curiga ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN