karena seharian aku menghabiskan waktu berjalan jalan, membuat tubuhku lelah dan malam ini pun tubuhku merasa sangat dingin hingga aku menggunakan selimut yang tebal untuk menghangatkan tubuhnya yang tengah berbaring diatas ranjang.
aku melihat Bima duduk disofa tengah duduk melihat televisi sambil menyilangkan kakinya, mengenakan piyama dan dadanya terlihat sedikit terbuka, anehnya dia makan es krim malam malam begini.
"seperti beruang kutub saja" ucapku keceplosan tanpa sadar
Bima menoleh kearahku dan tersenyum menyeringai, entah mungkin dia mendengar perkataanku barusan sehingga membuatku malu.
aku tarik selimut hingga menutupi wajahku yang sedang malu karena ulahku
ku dengar langkah kaki Bima datang mendekatiku, menarik selimut yang menutupi seluruh wajah ku dengan tangannya yang lembut.
aku hanya memberikan senyum malu padanya saat ia berhasil melihat wajahku tanpa tertutup selimut lagi, kulihat senyum manis masih terukir pi wajahnya yang tampan dan memandangiku dengan kehangatan.
dia memandangi dan mendekatkan wajahnya ke sisi pipiku, membuat jangtungku berdegup kencang tidak karuan.
"apa kau ingin aku hangatkan dengan tubuhku" bisiknya menggoda
"tidak" jawabku spontan karena terlalu malu, membuat aku merasakan panas di kedua pipiku dan tertunduk malu
ha ha ha
Bima tertawa geli saat berhasil menggodaku dengan candaannya yang tidak lucu, "Bela, tidurlah besok aku akan mengajakmu ketempat yang lebih bagus sebelum kita pulang" ucap Bima kemudian sambil mengelus ngelus rambutku dengan tatapan hangat
aku hanya mengangguk meng iya kan, tatapan matanya membuatku tenang dan mampu meluluhkan segala kesakitan yang aku rasakan, aku tenang dan nyaman berada di sisinya.
tapi bagaimana bisa aku tertidur lelap jika Bima berada disebelahku, kita berada diatas ranjang yang sama?
Bima yang menyadari bahwa aku tidak bisa memejamkan mata kemudian ia menarik lenganku membuatku tertidur miring hingga kita saling bertatapan,
"apa kau tidak bisa tidur, Bela?" tanya Bima
"iya, aku belum mengantuk" kataku penuh alasan
Bima melonjorkan tangannya yg bawah, "sini mendekatlah"
kemudian aku mengindahkan nya dan menempatkan kepalaku diatas lengan Bima hingga menempatkan wajahku kedalam d**a telanjangnya yang kekar, tangannya melingkari tubuhku dan semakin memper erat agar tubuhku menyatu dengannya.
aku menempelkan pipiku di d**a Bima yang kekar dan menenggelamkan wajahku dipelukannya yang hangat, terasa nyaman damai hingga membuat ku tertidur dengan lelapnya
****
****
hari ini aku bangun pagi lebih dari biasanya, yaa karena aku seorang pemalas yang tidurpun sampai matahari naik kepermukaan
tapi aku melihat Bima sudah tidak ada disampingku, aku bangun setengah sadar dan langsung menuju kemar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan tubuhku
astaga!! aku tidak sengaja melihat tubuhnya yang telanjang bulat sedang berdiri dibawah pancuran air shower
mataku membelalak kaget, ku lihat Bima menoleh kearahku membuatku reflek menutup pintu kamar mandi dengan keras hingga berbunyi
aku duduk ditepi ranjang dengan perasaan malu, bisa bisanya aku ceroboh lagi seperti ini.
aku memalingkan pandanganku pada Bima yang baru saja keluar dari kamar mandi dan dengan sigap aku berlari ke kamar mandi tanpa basi basi.
huffffff.. leganya menghindari Bima yang tengah memergoki ku yang tidak sengaja melihat tubuhnya yang telanjang
****
****
"Bagaimana? apa kau suka pemandangannya?" tanya Bima sambil merangkul tubuhku
"iya Bim, sangat suka. pendangannya sangat indah" jawabku terpukau
Bima menunjuk jarinya kearah gedung dengan bangunan yang menjulang sehingga sangat terlihat mencolok jika dilihat dari atas bukit, "itu perusahaan milik keluargaku"
ya sudah tidak heran keluarga Bima memiliki beberapa anak perusahaan karena Bima memang terlahir dari keluarga kaya dan pebisnis hebat
"suatu hari nanti aku akan mengelolanya menjadi perusahaan utama" sambung Bima memberitahuku tujuannya
"apa kau akan tinggal disini?" tanyaku
"iya, aku akan tinggal disini karena disini tempat dimana aku dilahirkan, banyak kenangan tentang ayahku disini sebelum mama memutuskan untuk membawaku pindah dan akhirnya bertemu denganmu"
ku lihat kesedihan terpancar dari mata indahnya yang sedang menunduk, dia mungkin merindukan sosok ayahnya yang telah lama meninggal.
entah apa yang sedang aku rasakan, aku senang karena dengan ini akhirnya kita bertemu tapi disisi lain, aku juga tidak ingin melihat kesedihan tergambar di wajahnya hingga membuat hatiku juga seakan teriris kesakitan
aku mengusap keningnya yang berkerut karena sedihan, aku meminjamkan bahuku untuk menghapus kesedihan di matanya.
hatiku bergerak seakan ikut larut dalam kesedihannya, perasaanku mendorong tubuhku untuk memeluknya, memberikan pelukan hangat yang sering aku dapatkan darinya
aku mencintaimu Bima
****
kita pun melanjutkan jalan jalan di tengah keramaian kota, pusat pasar dan perkotoan yang kita datangi bersama.
banyak makanan dan minuman yang menggoda lidahku untuk tidak mencicipi nya,
sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama Bima tanpa beban apapun, tidak pernah aku bayangkan sebelumnya jika kita akan saling bergandeng tangan seperti ini
yang aku tahu Bima dulu hanyalah anak dari tetanggaku, dia anak yang nakal dan sering mengangguku tetapi perlakuan itu hanya kepadaku.
jika ada orang lain yang mengangguku, Bimalah yang ada paling depan untuk melindungi ku, ketika terjadi hal yang disebabkan akibat kebodohanku dan Bima hanya menertawaiku
aku tidak menyukai Bima yang menertawaiku tapi apa kau tahu apa yang ucapkan Bima kepadaku?
"gadis bodoh, jangan mengatakan hal tersebut (sesuatu kerusakan) kepada oranglain karena mereka akan menertawaimu!" ucap Bima sambil mengelus rambut poniku, "hanya aku yang boleh menertawaimu"
dia benar menyebalkan seperti itu sejak usia kami masih muda, ya mungkin saat itulah perasaan ku mulai lebih dari sekedar sahabat kepadanya tapi..
saat kita lulus sekolah dan mulai memasuki kuliah, aku menyadari bahwa Bima begitu populer dikalangan wanita dan dekat dengan Niken sehingga aku merasa hubungan kita semakin renggang,
entah apa itu benar atau hanya sekedar perasaanku saja karena aku menginginkannya lebih
saat aku frustasi dan sedih, disaat itulah aku mengenal Yogi dan terperangkap dengannya sampai sekarang
aku tidak punya waktu untuk menyesalinya karena waktu sudah tidak bisa diputar kembali seperti semula,
aku memang mencintai mu tapi aku tidak bisa lagi menjadi Bela yang kau kenal, aku sudah tidak suci lagi
****
setelah kita selesai jalan jalan dan kembali ke Villa, aku bersiap siap untuk mengemas pakaianku untuk pulang
"Bela, kau sudah selesai?" tanya Bima yang berdiri disamping pintu kamar
"iya, ini sudah selesai" jawabku sambil menutup retsleting koper yang berisi perlengkapanku
aku berdiri kemudian mendekatkan diriku kepada Bima lalu memeluknya tanpa permisi, Bima pasti kaget dan bertanya tanya kenapa aku seperti ini yang tiba tiba memeluknya padahal belum pernah aku lakukan sebelumnya
Bima membalas pelukanku dan mengelus pelan punggungku yang rapuh, "kenapa, Bela?" tanya Bima lirih
"Biarkan aku memelukmu, tetap seperti ini sebentar saja!" pintaku kepada Bima, mungkin aku sudah gila dan tidak bisa menahan perasaanku lagi karena nanti saat kita kembali, aku tidak akan bisa merasakan ke hangatannya lagi
"Bima" ucapku memanggil namanya sambil mendongakkan wajahku agar bisa menatap wajahnya
Bima kemudian menundukkan kepala menatap kearahku "iya Bela" jawabnya sambil mengusap anak rambutku
entah apa yang tengah aku pikirkan tetapi aku tidak ingin berlalu begitu saja
tanpa permisi aku langsung menarik kerah baju Bima agar tubuhnya lebih membungkuk dan memudahkanku melumat bibirnya yang begitu menggoda penglihatanku, aku melingkarkan tanganku dileher Bima dan lebih mendekatkan sentuhanku kepadanya
"Bela" ucap Bima serak dan tersenyum bahagia kepadaku
ciuman lembut yang aku berikan langsung dibalasnya, merasakan jari tangannya bergerak masuk kedalam bajuku. kurasakan telapak tangannya yang lembut bergerak menyentuh pinggangku dan hendak melepas pakaikanku tapi bayangan wajah Yogi seketika menghentikanku
"hentikan Bim!" kataku sambil mendorong tubuh Bima agar menjauh dariku menghentikan kegilaan kita
"maaf Bel, aku tidak bisa menahan diriku?" ucap Bima merasa bersalah atas apa yang akan ia lakukan kepadaku, "aku tidak sadar apa yang telah aku lakukan kepadamu"
"tidak Bim, ini bukan salahmu. aku duluan yang memulainya" aku menundukkan pandanganku dan mengepalkan tanganku seolah aku ingin menyakiti diriku sendiri dan berteriak sekencang mungkin
*bukan karena hal ini tetapi karena perasaan yang bergejolak didalam tubuhku yang tak dapat aku artikan, Yogi Yogi Yogi , dia merantaiku sampai sejauh ini