SEORANG TEMAN

1078 Kata
bukan karena hal ini tetapi karena perasaan yang bergejolak didalam tubuhku yang tak dapat aku artikan, Yogi Yogi Yogi , dia merantaiku sampai sejauh ini aku melihat Bima menundukkan kepala menyalahkan dirisendiri atas apa yang akan ia lakukan kepadaku akupun bergerak memeluknya untuk menghapus keraguannya agar tidak menyalahkan dirinya lagi, "maaf" kataku lirih "maaf untuk apa Bela, ini salahku yang tidak bisa menahan diri?" Bima masih saja berpikir bahwa aku marah terhadap dirinya "maaf.. maaf tentang perasaanmu" kataku sambil mengeratkan pelukankanku Bima terdiam memaku seakan tidak percaya apa baru saja aku katakan, "apa ini karena yang aku lakukan barusan sehingga kau membenciku?" "bukan Bim, ini tidak ada hubungannya" kataku sambil lebih menenggelamkan kepalaku di dadanya, aku merapatkan mataku dan tubuhku mulai menegang tidak sanggup mendengar tanggapan dari Bima "apa ini karena Yogi?" tanya Bima sambil mengangkat daguku agar menatap matanya tapi aku memalingkan wajahku yang tidak sanggup melihat ekspresi kesedihan di wajahnya aku hanya membisu, aku tidak mampu menjelaskan apa yang tengah aku alami. seakan sesak di d**a, begitu sakit hingga membuat air mataku menetes "ya, kau pasti masih mencintainya" ucap Bima menyimpulkan, tapi aku tidak bisa mengelaknya karena hal ini akan percuma Bima bergerak menjauh dan duduk ditepi ranjang, tangannya mengusap kasar wajahnya yang tengah kecewa, dia hanya terdiam sambil meremas rambut kepalanya yang sedang menunduk "kenapa kau bisa mencintainya?" tanya Bima memecahkan keheningan, "apa yang b******n itu punya dan aku tidak?", "kenapa kau tidak bisa mencintaiku?" celotehnya yang membuatku beku terdiam ingin sekali aku katakan bahwa tuduhannya tidak benar dan mengatakan bahwa aku mencintainya, tapi hanya dengan ini kita bisa berpisah dengan semestinya Bima beranjak dari duduknya, menarik lenganku dan mendorongku hingga tersudut ketembok, dia menatapku dengan tatapan tajam penuh amarah hingga membuatku tidak mengenali Bima yang biasa aku kenal selalu lembut kepadaku, "mobil mewah, pakaian mahal, restoran kelas atas itu semua cocok denganmu tetapi tidak dengan b******n itu, dia tidak mencintaimu!" ucap Bima dengan nada tinggi yang membuatku menjadi ketakutan dan tanpa sadar aku mendorongnya dan mengayuhkan tanganku pada pipinya Plakkk tanpa aku sadari aku sudah menamparnya, aku tidak menyukai dirinya yang seperti ini, dia seperti orang asing bagiku "Bima, kau tidak apa apa?" aku mencoba menyentuh pipi Bima yang merah dengan tanganku yang bergetar, "maaf, aku tidak.." "hayo kita pulang sekarang" ucap Bima langsung membalikkan badanya dan meninggalkanku kenapa aku begitu bodoh, kenapa pula aku menyakitinya padahal ini bukan yang aku inginkan sepanjang perjalanan Bima memalingkan wajahnya dariku dan menghindariku, dia pasti marah dan kecewa terhadapku "masuklah!" kata Bima sambil membukakan pintu mobil untukku, ekspresinya tidak lagi marah dan sedikit tenang sepanjang jalan Bima hanya fokus menyetir mengendalikan mobilnya, dia tidak berbicara ya bukan hanya Bima tetapi aku juga. begitu canggung dan tidak ada yang bisa aku katakan lagi, aku hanya menatap wajahnya yang tengah fokus menyetir, lagi lagi mataku berkaca kaca aku membayangkan Bagaimana jika nanti aku tidak bisa melihat wajahnya lagi? Bagaimana jika aku tidak bisa melihat senyum indahnya lagi? Bagaimana jika nanti kita bertemu kembali dan dia hanya menganggapku orang asing yang tidak pernah kenal? Bagaimana jika nanti dia bersanding dengan perempuan lain? Bagaimana? Bagaimana? semua bayangan mengerikan itu terngiang dan tergambar jelas di pikiran ku, aku tidak sanggup lagi membayangkannya, membuat hatiku sakit dan dadaku terasa sesak. apakah aku membuat keputusan yang salah? apakah dia bisa menerima diriku yang sudah kotor? tak terasa air mataku mengalir begitu saja bersamaan dengan sesak yang aku rasakan, aku memalingkan wajahku keluar jendela mobil, melihat lampu lampu jalan yang tengah dilewati agar Bima tidak mengetahui bahwa aku sedang menangis dan akhirnya mobil sampai di depan rumahku, "terimakasih" ucapku pada Bima tapi dia tidak membalas ucapanku, membuatku semakin sesak aku berjalan menuju pintu rumahku dengan langkah kaki yang berat, air mata mengalir lagi tak sanggup aku tahan, aku tidak sanggup menoleh ke belakang untuk melihat wajah Bima yang aku kenal untuk terakhir kalinya saat langkahku terhenti, tiba tiba kehangatan itu aku rasakan kembali, sebuah tangan melingkar ditubuhku dari belakang dan aku tidak percaya "maafkan aku Bela?" ucapnya dengan suara serak, aku membalikkan badanku untuk menatapnya ku usap wajahnya yang berkerut dan air mata kesedihan yang keluar dari matanya yang indah, "Bima" aku memeluknya begitu erat, aku tidak sanggup dan tidak bisa melepaskannya aku kalah oleh perasaanku "Bela, jika kita tidak bisa bersama apakah kita masih bisa menjadi teman?" tanya Bima sambil mengusap pipiku yang basah aku mengangguk "iya, kita teman" "lalu jika teman, apakah kau masih bisa bersamaku?" aku mengangguk lagi, "iya bisa" "jika teman, kau akan datang jika aku membutuhkanmu?" "jika teman, kau akan selalu ada untukku?" "jika teman, kau akan memaafkan ku jika aku salah?" "jika teman, kau akan menghapus rasa sedih dan menghiburku? "jika teman, kita akan selalu bersama?" Bima mengucapkan semua pertanyaannnya dengan suara serak, menahan tangisan dalam senyumnya yang menipis buat ku pilu. aku mengangguk mengindahkan, begitu lega karena kita masih bisa bersama "teman, apa aku bisa masuk sekarang?" tanyaku memecahkan suasana "iya Bela temanku, masuklah! sampai jumpa besok" Bima melambaikan tangannya sambil mengawasiku sampai masuk ke dalam rumah. *Kau adalah keajaiban. Selama kau berada di sampingku, selama itu pula aku merasakan keajaiban* **** ku keluarkan kunci didalam tasku dan membuka pintu huffff aku menghembuskan nafasku lega yang panjang dibalik pintu "kau akhirnya tau arah pulang juga ya" ucap sesorang yang keberadaanya samar samar karena kondisi rumahku gelap, "siapa?" tanyaku tegang, aku mengenal suara nya tapi itu tidak mungkin karena aku yakin aku sudah mengunci pintu rumahku seseorang itu berjalan mendekat kearahku, semakin membuatku tegang dan ketakutan. wajahnya semakin mendekat dan sekilas terlihat disinari oleh cahaya rembulan hingga membuat wajahnya terlihat jelas, "bagaimana liburanmu sayang, apa menyenangkan?" *Deg! dugaanku benar "Yo..Yogi*?" ucapku setengah bertanya, "bagaimana kau bisa masuk kesini?" "hal itu mudah untukku, aku membuat kunci cadangan tanpa sepengetahuan mu" jawabnya dengan senyum sinis, "dan bagaimana dengan pertanyaanku?" "ma..maksudmu pertanyaan yang mana?" aku gugup, kepalaku buntu, apakah dia sudah tahu semuanya "ohh kurang jelas ya, maksudku, bagaiamana liburanmu dengan Bima apa menyenangkan?" tanya Yogi yang masih menatapku tajam dengan senyumnya yang sinis mampu membuat bulu kudu ku berdiri "ti..tidak, aku bersama Sindi, aku menginap dirumahnya" jawabku masih mencoba mengelak "ohh, lalu suara pria di telfon itu siapa?" "dia..dia kakak Sindi" "ohya, sejak kapan Sindi mempunyai seorang kakak laki laki? yang aku tahu dia hanya mempunyai kakak perempuan" Deg! aku semakin kehilangan akal "hmmm dia..dia.." tanpa basa basi tangan Yogi mencengkeram leherku dan membuat wajahku mendongak keatas, tatapan tajam seolah ingin membunuhku, aku tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini *dia benar benar mengerikan, membuatku merinding dan tubuhku bergetar ketakutan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN