Bab 19

1177 Kata
"Itu bukan sesuatu yang harus dimaafkan. Aku sayang kamu!" Nugra mengecup bibir Maira sekali lagi. Kemudian ia meraih tangan Maira dan menggenggamnya dengan erat."Kita pergi sekarang?" Maira mengangguk."Iya." "Yuk, kamu mau makan apa?" "Makan nasi liwet,"jawab Maira. "Habis itu makan buah-buahan yang banyak ya, biar kamu sehat dan makin cantik." Maira memutar bola matanya, sepanjang jalan mulailah Nugra mengatakan segala aturan-aturan yang harus Maira laksanakan. Seperti perawatan, rajin makan buah-buahan, rajin olahraga, dan segala hal tentang kesehatan dan kecantikan. Memang semuanya itu demi kebaikan Maira. Maira berusaha mengerti bahwa apa yang Nugra lakukan adalah untuk kebaikannya. Maira akan melakukan apa pun itu. Sepulang dari kantor, Nugra berniat pergi ke rumah Maira. Tapi, sebelum itu ia harus kembali ke apartemennya untuk mandi dan mengambil undangan yang baru dikirim pihak percetakan  dan memberikannya pada keluarga Hermawan. Nugra sampai di apartmen, baru saja hendak membuka pintu, tiba-tiba Yuki muncul. “Eh, Kakak?” “Hai, baru pulang?” Nugra mengangguk.”Iya, kak, masuk yuk.” Yuki mengangguk dan kemudian masuk.”Kamu udah terima kiriman makanan dari aku?” “Iya sudah, Kak. Terima kasih banyak, rasa kangenku terhadap risol buatan kakak akhirnya terobati.” Nugra terkekeh seraya mengambil paper bag berisi undangan. “Apa itu?” “Undangan pernikahan aku sama Maira, kak.” “Andai...saat ini kita masih bersama ya, Dek.” Suara Yuki terdengar bergetar. “Apa maksud Kakak?” Nugra mematung di tempatnya. “Ah,nggak apa-apa kok.”  Yuki tersenyum kecut.”Semoga kamu dan Maira bahagia.” “Memangnya Kakak kenapa bisa bicara kayak gitu? Kita kan sudah lama nggak ketemu dan ...sekarang kakak seperti ini.” “Kakak masih sayang sama kamu, Dek, sangat sayang.”Wanita itu terisak dan memeluk Nugra dengan erat. Sementara itu Nugra hanya bisa mematung tanpa menjawab apa-apa.   ** Danan baru saja pulang dari kantor, mengendarai mobilnya menuju rumah. Saat mobil berjalan pelan karena volume kendaraannya mejadi padat, pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Lalu, di depan sebuah apartemen ia melihat Nugra sedang bersaa seorang pria. Mereka berjslsn beriringan, sang wanita memeluk lengan Nugra dengan erat. Lalu, mereka berpisah. Sebelum perpisahan itu terjadi, sang wanita memeluk dan mencium pipi Nugra. Danan menganga, tapi kemudian ia disadarkan suara klakson dari mobil yang ada di belakangnya. Ia pun melajukan mobilnya. Kini ia bertanya-tanya, siapa wanita yang sedang bersama Nugra. Mungkinkah lelaki itu menyakiti Maira? Danan akhirnya tiba di kediaman keluarga Hermawan. Begitu turun dari mobil, Ia terheran-heran melihat Maira sedang duduk di rerumputan halaman depan. Pria itu membuka sepatunya, ia menghampiri Maira tanpa alas kaki. Maira duduk seraya melemaskan otot-ototnya. Tak lupa keringat yang bercucuran deras itu dibiarkannya menempel di wajah. "Ngapain sih?" tanya Danan heran, ia duduk di sebelah Maira. Kemudian melihat ke sekeliling, mencari handuk kecil. "Lagi olahraga, kak." Danan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Olahraga apa,Maira? Kamu itu udah kurus kayak cacing, masa mau olahraga. Yang ada...kamu itu harus banyak makan." "Biar cantik begitu, kak, kalau ntar pakai gaun pengantin, badannya proposional." Danan menyentil hidung Maira."Kata siapa begitu? Mau bagaimana pun ya kamu bakalan tetap cantik kalau sudah pakai baju pengantin. Lagi pula...kalau memang takut gaunnya jadi sempit ya, beli aja yang agak besar. Gampang, kan?" Maira diam saja, kemudian ia meraih air mineral dan meneguknya sampai habis. Danan meraih handuk kecil yang akhirnya ia temukan di belakang Maira. Ia meraih handuk tersebut dan mengeringkan keringat di wajah Maira. "Thanks..." Maira tersenyum. "Makan martabak yuk, Mai, martabak Mesir,"ajak Danan. Martabak mesir adalah makanan favorit Maira dan Danan sejak mereka masih kecil. Bahkan ketika liburan tiba, biasanya mereka saling berkunjung dan menghabiskan waktu bersama. Setiap hari mereka mencari martabak Mesir paling enak di kota mereka. Maira menggeleng kuat."Nggak dulu deh, kak. Soalnya itu nggak sehat." "Astaga, siapa yang bilang itu nggak sehat? Bertahun-tahun kita makan itu, Maira. Itu enak banget. Astaga!!" Danan geleng-geleng kepala."Apa sih yang udah Nugra masukkan ke otak kamu sampai kayak gini?" "Kok kakak sewot sih?" Maira menjulurkan lidahnya. Danan mendecak sebal."Kamu nggak asyik ah. Tadinya udah seneng loh, kakak bisa ke sini. Kita bisa wisata kulineran kayak dulu. Eh...ternyata kamu sudah berubah." "Duh...jangan berlebihan, kak." Maira bangkit, membersihkan bokongnya yang menempel rerumputan kering. "Kamu memang beda, Mai, nggak keras kepala lagi...tapi ya...nggak asyik lagi." Danan tertawa. "Harusnya kakak seneng aku Berubah menjadi lebih baik.  Dan...yang paling penting, aku sudah mau menikah, kak. Akhirnya...aku nggak jadi perawan tua lagi." Danan mengerutkan keningnya, menatap Maira dengan tajam."Memangnya ada yang salah kalau jadi perawan tua? Dan...dalam kehidupan kita ...nggak ada istilah perawan tua, Mai. Norak kamu ah. Duh...kok jadi norak banget kamu. Nggak berkelas lagi." Sebuah mobil masuk ke area rumah, Danan dan Maira menoleh bersamaan. Wajah Maira langsung sumringah karena pangerannya datang. Ini sangat mengejutkan karena sebelumnya Nugra tidak bilang kalau ia akan datang berkunjung. Waktu sudah semakin mendekati hari pernikahan mereka, hal itu membuat Maira semakin deg-degan saat bertemu dengan Nugra. "Hai!"sapa Nugra. "Ngapain ke sini?"tanya Danan. Maira menyikut perut Danan hingga pria itu meringis. "Kan calon suami Maira,kak. Kok dimarahin terus sih." "Siapa yang marahin!"Danan mendengus sebal karena Maira lebih membela Nugra. "Apa kabar, kak,"sapa Nugra pada Danan. "Baik-baik. Ya udah deh, kalian pacaran aja. Aku mau masuk." Danan langsung pergi tanpa berbasa-basi lagi. Nugra memeluk Maira dengan erat, mencium kedua pipi wanita itu berkali-kali."Aku kangen." "Aku juga,"balas Maira dengan mesra. "Aku bawa undangan nih, untuk yang dikasih ke kerabat atau siapa saja yang mau diundang Papa kamu." Nugra menyerahkan paper bag besar yang dibawanya pada Maira. "Kamu pakai parfum baru?" Maira mengendus tubuh Nugra. Nugra mengendus tubuhnya."Eh, iya...ada temen nawarin. Karena nggak enak...ya kubeli aja. Bagus nggak wanginya?" "Wangi sih, tapi ini wangi feminim." Maira tertawa."Untuk aku aja deh, lebih cocok sama aku." Nugra tertawa sambil mengusap puncak kepala Maira."Begitu ya? Ya sudah besok aku kasih ke kamu aja." "Ya udah yuk masuk,"ajak Maira seraya memeluk lengan kekasihnya itu. "Ayo. Mama sama Papa ada?" "Iya ada di dalam." "Ma!"panggil Maira. "Di sini!"jawab Odelie dari teras samping. Nugra dan Maira segera ke teras samping untuk menemui Odelie. "Tante!"sapa Nugra. "Eh...ada Nugra. Makin ganteng kamu ya,"puji Odelie. Tapi, ucapan itu bukan hanya sekedar pujian semata. Nugra memang semakin terlihat tampan, wajah pria itu semakin terlihat berseri-seri. Mungkin efek akan menikah. "Makasih, Tante." "Ini, Tante baru dapat oleh-oleh bika ambon." Odelie menggeser piring lebih dekat pada Nugra. Nugra mengambil potongan kecil, menyuapkan ke dalam mulutnya."Enak, Tante..." "Habisin aja, masih banyak di dapur,"kata Odelie. "Iya, Tante, kebetulan masih kenyang. Nanti Nugra habiskan." "Kenyang apa?" Bisik Maira. "Makan risolles." Nugra tertawa kecil."Om mana, Tante?" "Lagi mandi." "Kak Danan dimana, Ma?" "Nggak tahu, habis ambil bika, dia langsung ngeloyor pergi,"jawab Odelie."Oh ya gimana perkembangan persiapan pernikahan kalian? Masih ada yang belum beres?" "Sudah sembilan puluh sembilan persen, kan, Tante. Tante sudah ketemu sama Mamaku kan?" Odelie tersenyum dan mengangguk."Iya. Tante memastikan yang kalian urus sudah selesai semua." "Ini undangannya, Ma. Tinggal disebarkan." Maira menyerahkan paper bag besar itu pada Odelie. "Ah senangnya sudah selesai. Mama udah nggak sabar mau sehat ini ke semua teman dan keluarga." Odelie membuka paper bag itu dengan begitu bersemangat. Lantas wanita paruh baya itu cepat-cepat melengkapi catatan nama-nama yang akan diundang. ke resepsi pernikahan Maira dan Nugra.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN