"Lancang sekali!"
"Bukankah...liburanmu menyenangkan bersama Nugra?" tanya Nugra datar.”Nugra...kekasihmu. Ya, aku kekasihmu, sayang!”
"Momen liburanku sedikit menyenangkan saat aku belum tahu bahwa Nugra adalah seorang penipu!"
"Tapi, kamu...menyukainya bukan?" balas Nugra, sedikit menusuk ke jantung Maira.
"Tidak untuk setelah aku mengetahui semuanya." Maira membuang pandangannya.
Nugra menggeser duduknya, lebih dekat ke wajah Maira. Pria itu menatap Maira begitu dalam.
"Ada apa?"jantung Maira berdegup kencang sekaligus waspada dengan Nugra.
Nugra melumat bibir Maira dengan lembut. Maira mendorong d**a Nugra, yang beberapa detik kemudian kedua tangannya itu dikunci oleh Nugra. Kepala Maira bergerak ke sana-kemari, menghindari ciuman Nugra. Pria itu tak kehabisan akal, ia naik ke atas ranjang dan menindih tubuh wanita itu, lalu kembali menciumnya. Pertahanan Maira lemah, sekujur tubuhnya mulai terbakar gairah. Nugra membuka kancing piyama Maira, d**a wanita itu mencuat, membuat miliknya menegang.
Maira memekik kaget saat puncak dadanya dihisap. Dengan cepat Nugra melumat bibir Maira agar tidak mengeluarkan suara.
"Kamu siap menikah denganku?"tanya Nugra atau Gagah dengan napas tak teratur.
"Nggak akan!"kata Maira.
Nugra memilin puncak d**a Maira,ia ingin 'menyiksa' wanita itu.
"Nugra!"pekik Maira menahan segala hasrat yang sedang bergejolak.
"Kamu harus menikah denganku, Maira!"
"Nggak! Aku tidak akan menikahi lelaki penipu, tidak tepat janji, dan...suka mempermainkan perasaan wanita!" Maira berusaha mendorong tubuh Nugra agar menyingkir dari atasnya.
Nugra menatap Maira dengan tajam, menekan tubuh wanita itu lebih kuat hingga milik mereka bersentuhan. Mata Maira membulat saat merasakan benda keras itu, wajahnya memerah."Kita sudah sepakat untuk saling jatuh cinta. Aku pun tahu bagaimana perasaanmu padaku, sayang."
"Itu adalah ketika aku tidak tahu bahwa kamu adalah Gagah. Kamu dengan sengaja menyusulku ke sana dan menyamar sebagai Nugra, berpura-pura baik...lalu memanfaatkan keadaan untuk membuatku jatuh cinta. Lalu, tiba-tiba membawaku kembali ke sini dengan alasan aku kecelakaan. Padahal aku masih ingat semuanya dengan jelas. Aku baik-baik saja. Apakah kamu sebrengsek itu?"
"Hati-hati bicara dengan calon suamimu, sayang?" jemari Nugra mengusap pipi Maira dengan lembut."Namaku memang Nugraha Syarif, Gagah itu hanya panggilan dari keluargaku."
"Kamu sudah benar-benar menipu. Tidak ada kesempatan untuk orang seperti itu. Enyahlah dari sini, Nugra!"kata Maira dengan penekanan dan tatapan tajam.
"Tidak mau."
"Kamu bisa merasakannya?"ucapan Nugra itu sejalan dengan gesekan benda keras yang menyentuh milik Maira.
Wanita itu tertegun, sejenak pikirannya teralihkan. Tapi, kemudian ia sadar."Jadi, kamu mengajakku menikah hanya untuk urusan p***s? Kenapa tidak mencari wanita malam saja?"
"Hati-hati kalau bicara! Aku tekankan sekali lagi, hari-hari kalau berbicara, sayang?"tatapan Nugra sulit diartikan, antara nafsunya yang sudah memuncak dengan rasa kesal pada ucapan Maira.
Nugra menggesekkan miliknya, menekan-nekan milik Maira. Ia tahu, saat ini pikiran Maira mulai kacau. Tidak ada kata-kata apa pun lagi yang keluar dari mulut Maira. Wanita itu tampak menikmatinya.
"Kita menikah!"
"Tidak!" Maira masih bersikukuh.
Nugra turun dari tubuh Maira."Silakan bernegosiasi dengan Bapak Hermawan, Nona Maira." Nugra merapikan kemejanya yang sedikit berantakan, kemudian ia membuka pintu dan keluar dari sana.
**
Maira sudah boleh pulang ke rumah. Wanita itu berjalan dengan santai masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Ia tidak merasa sakit apa pun. Tentu saja, sebab ia memang tidak sakit. Ia baru ingat, terakhir kali ia dan Nugra berciuman di kamar dan bahkan hampir melakukan seks, tiba-tiba ia sangat mengantuk. Kemudian ia mengingat lagi, apa yang ia minum sebelumnya. Secangkir teh yang diracik oleh Nugra. Sepertinya teh itu diberi obat tidur. Setelah ia tertidur, maka Nugra membawanya pulang dan dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, Nugra bekerja sama dengan orangtuanya untuk membohonginya. Beralibi ia baru saja kecelakaan. Padahal, semuanya adalah sandiwara.
Maira membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Rasanya malas sekali untuk pulang ke rumah. Ia tidak ingin melihat kedua orangtuanya yang sudah sekongkol dengan Nugra. Andai ia tahu sejak awal, ia tidak akan jatuh cinta dan mencium Nugra. Pria itu pasti besar kepala sekarang.
Maira turun dari mobil, masuk ke dalam rumah dan mendapati kedua orangtuanya duduk di sana. Ia menarik napas panjang, kemudian duduk di hadapan mereka."Pa, Maira mau bicara!"
"Iya, sayang...bicaralah." Hermawan mempersilakan.
"Kemana Alex?"
"Alex...sudah diberhentikan sebagai asisten pribadi kamu,"jawab Hermawan.
"Atas perintah siapa?"
"Perintah Papa langsung, sayang."
"Memangnya apa salah Alex, Pa?"
"Tidak ada. Tapi, Gagah meminta supaya asisten kamu itu diganti saja. Tapi, kita sudah menemukan penggantinya. Namanya Nana."
Hati Maira mendidih mendengar nama Nugra atau Gagah."Jadi, sekarang...Laki-laki itu turut mengatur kehidupan Papa?"
"Bukan mengatur, Maira. Hanya saja...dia itu kan calon suamimu. Dia nggak mau kalau ada laki-laki lain di sekitar kamu. Demi menjaga perasaannya, ya...Papa harus memindahkan Alex ke kantor cabang."
"Papa..." Maira memegang keningnya dengan stres."Alex itu asisten pribadi Maira, Pa. Udah lama banget kan dia kerja sama Maira dan sekarang harus diganti? Pa, Maira maunya Alex, Pa."
"Tapi, Gagah tidak setuju jika asisten pribadimu adalah laki-laki. Kami sudah menggantinya dengan wanita. Dia juga pintar kok, pasti kamu suka."
Maira tersenyum lirih, hatinya terasa perih."Sejak kapan Papa lebih mementingkan calon menantu dari pada anak kandung Papa sendiri. Memangnya kebahagiaan Gagah lebih penting dari kebahagiaan Maira? Lagi pula...Maira belum menyetujui mau menikah dengan Gagah atau tidak!"
"Maira, jangan bicara dengan nada tinggi begitu sama Papa,"tegur Odelie.
"Ma, Maira nggak akan begini kalau nggak ada sebabnya. Lagi pula...kenapa kehidupan Maira semakin sulit sejak adanya Gagah. Dia bukan siapa-siapa kan. Sampai harus mengurusi semua gerak-gerik Maira. Memangnya dia itu siapa." Maira emosi sekali, ia beranjak dari kursinya dan pergi ke kamar.
Maira bukanlah tipe wanita cengeng. Ia tidak suka menangis meskipun banyak masalah yang mengandung. Tapi, kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya di balik bantal. Rasanya kehidupan ini sedang tidak adil padanya. Orangtuanya mendadak menjadi patuh pada pria muda asing yang kini mempersulit hidupnya.
Maira berteriak kesal. Beberapa jam kemudian, ia bangkit dari tempat tidur, menatap dirinya di depan cermin. Matanya bengkak dan wajahnya sembap. Ia segera mencuci muka dan mengganti pakaiannya. Wanita itu membuka jendela lebar-lebar, bersandar pada dinding dan menatap ke arah luar.
Pintu kamarnya diketuk, ia menoleh sekilas lalu setengah berteriak,"masuk!" Kamarnya memang tidak dikunci sejak ia menangis tadi. Suara ketukan sepatu terdengar mematahkan keheningan. Maira menoleh, kemudian ia kembali menatap ke arah luar jendela."Ada apa datang ke kamarku?"
"Menjengukmu,"balas Nugra
"Aku sehat-sehat saja,"balas Maira datar.
"Ya...kamu sehat, tapi sedang tidak baik!"kata Nugra dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu?" Sejujurnya Maira sedang malas sekali bicara dengan siapa pun. Tapi, ucapan dari Nugra itu kerap kali menyulut emosinya.
"Siapa yang mengajarimu bicara kasar pada orangtua?"tanya Nugra seraya berjalan pelan ke arah Maira.
Wanita itu tampak tenang di tempatnya, melirik pergerakan Nugra yang semakin mendekat."Bukan urusanmu."
Nugra berdiri di hadapan Maira, bersandar pada dinding dan ikut membuang pandangan ke luar jendela."Kamu tidak mungkin lupa kalau kita akan menikah bukan?"
"Aku tidak pernah setuju dengan pernikahan ini."