Bab 12

1048 Kata
"Kenapa?" Maira tertawa."Karena kamu tidak layak!" katanya dingin sambil berjalan meninggalkan Nugra. Nugra menarik tangan Maira dan menguncinya ke belakang seolah-olah ia sedang menangkap penjahat. Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Maira dari belakang sambil meniup telinga wanita itu."Apa maksudmu aku tidak layak?" Maira memutar bola matanya."Kamu punya cermin kan? Atau...silakan bercermin di sana,"tunjuk Maira dengan bibirnya ke arah cermin besar miliknya."Kamu tidak layak menjadi kepala keluarga, sikapmu...ya tentu saja tidak pantas menjadi seorang suami." "Mau bertahan dengan sikapmu yang keras ini?"tanya Nugra, kali ini nada suaranya berubah menjadi lembut. Maira merasakan hal aneh, sepertinya akan terjadi sesuatu jika nada suara Nugra berubah menjadi lembut. Dan benar saja, beberapa detik kemudian ia merasakan lehernya dikecup oleh Nugra. Maira mengigit bibir bawahnya, berusaha meronta tetapi kedua tangannya ditahan oleh Nugra. Pria itu mulai menghisap leher Maira, wanita itu mulai khawatir akan timbul jejak kemerahan di sana. Maira menginjak kaki Nugra, tapi sayangnya pria itu bisa mengelak. Mungkin gerak-gerik Maira sudah terbaca olehnya. Nugra memeluk tubuh Maira dari belakang, perlahan tangannya bergerak meremas buah d**a wanita tersebut. Tubuh Maira limbung, dengan sigap Nugra menahannya dari belakang sambil terus meremas d**a Maira. "Bagaimana kalau kita pergi kencan?"tanya Nugra. Maira tidak menjawab. Pikirannya sudah kacau karena sentuhan-sentuhan Nugra di bagian sensitifnya. "Ayo kita pergi, sayang,"bisik Nugra. Maira tertegun, perlahan Nugra menarik tangannya keluar dari kamar untuk mengajak wanita itu pergi. "Kalian mau kemana?"tanya Odelie saat keduanya tiba di ruang keluarga. "Kami...mau kencan, Tante,"ucap Nugra. Odelie memperhatikan penampilan Maira."Mau pergi kencan dengan penampilan seperti ini? Astaga...Maira ganti baju dulu dong. Dandan yang cantik." "Ehm...nanti saya bawa ke salon saja, Tante. Mungkin...sekarang Maira nggak mood,"kata Nugra seraya memberikan tatapan memohon agar mereka mengizinkan pergi. Hermawan memeluk pundak isterinya dan tersenyum ke arah Nugra."Hati-hati, ya. Saya titip Maira." "Baik, Om. Kami pamit." Nugra tersenyum dan membawa Maira ke mobilnya. Di dalam hati, ia tertawa bahagia karena berhasil meluluhkan kerasnya hati Maira. Diamnya Maira sepanjang jalan menjadi berita baik bagi Nugra. Selama mereka berlibur, ia mulai bisa memahami pola pikir Maira. Wanita itu memang keras kepala, tetapi manusia itu tidak ada yang sempurna. Pasti memiliki kelemahan. Dan Nugra, sudah tahu dimana titik kelemahan Maira. Ia akan gunakan itu untuk mengambil hatinya. Nugra mengarahkan mobilnya ke apartemennya. Jantung Maira berdegup kencang, memangnya mau apa pria itu sampai-sampai ia dibawa ke apartemen. Atau Nugra memang tinggal di apartemen, begitu pikirnya. Nugra menariknya turun dan membawanya ke apartemen miliknya. Pintu dibuka, aroma khas pria langsung tercium dari sana. "Kenapa kita ke sini?"tanya Maira. Akhirnya ia bisa bicara setelah bibirnya terkunci sepanjang jalan. "Kencan." Maira mematung di tempatnya."Kencan di apartemen? Baru kutahu ada sejenis itu." Nugra membuka tirai jendela hingga memperlihatkan suasana kerlap-kerlip lampu kota. lalu ia membuka kemeja yang ia pakai."Kencan tanpa pakaian...sepertinya bagus." "Kencan sejenis apa itu? Kencan versimu kah?" Maira menggeleng."Rasanya kurang menarik dan...aku ingin pulang saja." "Oh ya...silakan saja kamu keluar,"kata Nugra mempersilakan. "Dengan senang hati!" Maira memegang handle pintu, terkunci. Ia menoleh ke arah Nugra yang kemudian tertawa, merasa sedang menang."Oh, jadi...mau main-main ya sekarang?" Nugra melipat kedua tangannya di dada."Tentu saja, aku ingin bermain-main denganmu." Pria itu menghampiri Maira. "Jangan bermimpi!" Maira mendorong tubuh Nugra dengan keras. "Kamu sudah sampai di sini, jadi...selama menikmati permainan ini, sayang." Nugra menyeringai. Ia menggendong tubuh Maira dan membawanya ke dalam kamar. "Nugra! Turunin!"teriak Maira. Nugra berjalan santai, masuk ke dalam kamarnya yang besar, mengunci pintu dan membaringkan Maira ke atas ranjang."Kita sudah sampai,"ucapnya sambil menindih tubuh Maira. "Kamu mau apa?"tanya Maira dengan wajah merah. "BERKENCAN." "Bu...bukan seperti ini yang dinamakan berkencan, Nugra!" Maira mendorong tubuh Nugra. Nugra membuka pakaian Maira, sedikit memaksa. Lagi pula Maira juga tidak benar-benar menghalanginya. Entah karena tidak berdaya atau memang sebenarnya wanita itu malu-malu untuk mengakui perasaannya. Nugra melumat bibir Maira dengan menuntut. Satu persatu pakaian mereka terlepas dari tubuh. Sekarang tak ada sehelai benang pun yang menutupinya. Maira merasakan benda keras dan panjang itu menekan perut, kemudian perlahan benda itu bergerak ke bawah. "Nugra, No!"teriak Maira. "Tidak bisa, sayang." Nugra kembali menekan miliknya, sedikit keras hingga Maira meringis kesakitan. Kesadaran Maira kembali seutuhnya. Ini tidak bisa dibiarkan terjadi. "Nugra stop! Aku nggak bisa!" Maira pun berhasil mendorong tubuh Nugra hingga ia bisa bangkit dari tempat tidur. Nugra pun duduk di sisi tempat tidur, miliknya yang sudah menegang itu dibiarkan begitu saja hingga Maira melihatnya. Wanita itu memalingkan wajahnya yang merona."Kita sudah benar-benar siap kan? Ada apa?" "Aku nggak bisa lakukan ini, sebelum...menikah!" "Oh ya? Aku tidak mau, kalau ini tidak terjadi, mungkin saja setelah ini kamu akan kabur dan nggak mau nikah sama aku." Maira menggeleng."Oke...oke, kita nikah. Tapi, please...jangan lakukan ini. Lakukan saja setelah kita menikah." Maira akhirnya menyerah dan memilih menikah saja dengan Nugra dari pada hal ini terjadi. "Jadi, kamu menerima aku?"tanya Nugra, dalam hati ia bersorak, akhirnya ia bisa memenangkan hati wanita keras kepala itu. "Iya." "Apa buktinya?" "Bukti apa?"tanya Maira kesal. Pasalnya milik Nugra terlihat naik turun membuyarkan konsentrasinya. "Bukti bahwa...kamu setuju dengan pernikahan kita?" "Nggak ada bukti. Ya pokoknya itu saja. Aku menerima perjodohan ini. Terserah bagaimana acaranya,aku ikut saja,"kata Maira. "Baik, akan segera dilaksanakan. Paling lambat tiga Minggu lagi." Nugra terkekeh. "Tiga Minggu lagi? Memangnya mengurus pernikahan semudah itu?" omel Maira seraya memunguti pakaiannya di lantai, tapi Nugra mencegahnya."Jangan berpakaian dulu!" Maira melotot."Apa maksudmu? Kita sudah selesai." "Baik, kita memang sudah selesai berdiskusi. Kita akan menikah nanti. Tapi, sebelum itu...bantu aku yang sedang tersiksa ini,"katanya seraya menunjuk ke arah miliknya. "Kamu bilang nggak akan melanjutkan ini, Nugra, kita kan sudah sepakat?" Maira membelalakkan matanya pada Nugra. "Maksudku...dengan cara lain. Ayo..." Nugra menarik Maira ke dalam kamar mandi. "Terima kasih, sayang." Nugra mengecup pipi Maira ketika mereka selesai, setelah itu keluar dari sana. Wajah Maira merona, ia menatap wajahnya di depan cermin wastafel."Astaga...sebentar lagi aku jadi istrinya!" "Maira! Kamu sekalian mandi aja, habis itu kita pergi makan,"teriak Nugra dari tempat tidur. Maira melongokkan kepalanya dari balik pintu."Aku nggak bawa baju, Nugra." "Di bawah kan ada ada butik, aku pesankan sebentar,"balas Nugra seraya mengambil ponselnya. Maira mengembuskan napasnya, kemudian ia pun mandi. Wanita itu membasahi tubuhnya sambil merenung tentang apa yang ia lakukan dengan Nugra. Bagaimana seandainya tadi ia tidak mencegah Nugra. Mungkin saja saat ini ia sedang mendesah nikmat, ah darimana ia tahu kalau itu nikmat, sementara ia belum merasakannya. Wanita itu menyabuni seluruh badannya, setelah itu membasuh ya dengan air. Diraihnya handuk untuk mengeringkan tubuhnya   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN