Setelah itu, ia berjalan pelan, mengintip ke luar kamar mandi. Nugra tampak duduk santai dengan ponselnya.
"Mana pakaianku?"
Nugra menoleh."Eh...sudah selesai ya? Belum datang. Kamu make up aja dulu."
"Dan...aku tidak punya alat make up sekarang!"balas Maira.
"Ada di lemari sudut di walk in closet. Semuanya lengkap."
"Kenapa kamu punya make up?"Maira banyak tanya. Wajar saja, ia curiga jika Nugra menyimpan kotak make up. Mungkin saja itu adalah milik mantan kekasihnya.
"Sudah pakai saja. Itu punyaku,"jawab Nugra cepat. Betapa ribetnya jika harus menjelaskan secara detail darimana make up itu berasal. Buang-buang waktu saja.
Maira mendengus kesal, sekarang ia sudah seperti wanita penurut. Tidak ada lagi Maira yang selalu membantah tentang apa yang tidak ia suka dan tidak ia setujui. Semua kendali dipegang oleh Nugra. Segala perintah pria itu harus ia turuti sebab sebentar lagi mereka akan menikah. Maira merasa setiap langkahnya kini penuh jebakan. Semua itu disebabkan sejak kehadiran Nugra di dalam hidupnya.
Nugra bergegas membuka pintu saat bel berbunyi. Pakaian pesanannya sudah tiba."Maira!"
"Iya!"
"Ini pakaianmu!" Nugra mendorong pintu.
Maira memekik, menutupi bagian sensitifnya. Tadi, handuknya terlepas tetapi ia tidak memasangnya lagi karena harus merapikan alisnya terlebih dahulu."Bilang kalau mau masuk!"
Nugra tertawa geli."kenapa harus ditutup, sayang...tadi kan sudah kulihat. Dan...akan kulihat selamanya."
"Nggak lucu!"Maira mulai kesal.
Nugra mencolek hidung Maira dengan telunjuknya."Ya sudah, ini pakaian kamu. Cepat ya...aku mau ajak kamu ke suatu tempat."
"Tempat apa?"tanya Maira sambil membuka paper bag dan melihat isinya. Sebuah gaun bewarna merah marun."Kenapa seksi seperti ini?"
"Kamu cantik kalau pakai ini, sayang."
"Ter-la-lu pen-dek!"ulang Maira.
"Itu akan membuatku...semakin menginginkanmu,"ucap Nugra sambil mengedipkan sebelah matanya."Selamat pakai! Dan...jangan lama-lama."
Maira kembali menatap dirinya di depan cermin."Baiklah, Maira, sekarang kau adalah bonekanya Nugra." Mau tidak mau, Maira memakai pakaian yang dipilihkan Nugra. Sepuluh menit kemudian ia muncul dan entah bagaimana caranya Nugra pun sudah berganti pakaian, pria itu terlihat segar.
"Setelah tiga musim berlalu, akhirnya kamu selesai juga."
"Aku hanya bersiap selama lima belas menit. Jangan berlebihan! Ayo pergi." Maira berjalan menuju pintu dan diikuti oleh Nugra. Sampai detik ini, Maira tidak punya bayangan kemana Nugra akan membawanya pergi. Tapi, setidaknya rasa kekhawatirannya sudah berkurang. Sekarang ia sedang pergi bersama calon suami dan tentunya kedua orangtuanya memberi izin.
Maira berjalan di sebelah Nugra. Pria itu menggenggam tangannya dengan posesif dan kemudian berhenti di sebuah toko perhiasan.
"Katanya mau makan?"
"Sebelum makan, kita cari cincin pernikahan dulu,"katanya santai.
Maira menganga."Cincin pernikahan? Tapi..."
Nugra mengeratkan genggamannya dan membawa Maira masuk ke dalam toko perhiasan untuk memilih cincin. Maira memegang pelipisnya, ia merasa canggung.
"Kamu mau yang mana, sayang?" tanya Nugra seraya menunjuk sederetan cincin di dalam etalase.
"Astaga...aku nggak pernah pilih cincin seperti ini. Maksudku...di momen begini. Aku bingung..."
"Aku suka yang ini," kata Nugra sambil menunjukkan sepasang cincin yang direkomendasikan oleh pekerja di sana.
"Iya itu bagus. Ya sudah itu saja." Maira terlihat gugup sekali. Sekarang Nugra memasangkan cincin itu di jari manis Maira.
"Cantik. Tapi, kamu boleh memilih model mana pun, sayang. Pilih aja sesukamu." Nugra mempersilakan.
Maira melihat sederetan cincin dan ia justru semakin bingung. Bukan karena banyak pilihan, tetapi karena ia gugup sekali ditatap semesra itu oleh Nugra "Yang kamu pilih itu aja."
"Yakin?"
"Yakin."
"Baik. Mbak kami pesan yang ini ya?"
Keduanya mengukur hari mereka. Setelah itu keluar dari sana. Nugra masih menggenggam tangan Maira dengan posesif. Pria itu menarik Maira masuk ke dalam toko baju pengantin.
"Nugra...ke sini mau apa?" Maira memandang ke sekeliling dengan takjub. Banyak sekali gaun-gaun indah yang dipajang di sana.
"Cari gaun pengantin. Sekalian saja daripada harus menunggu besok lagi. Ayo pilih." Nugra duduk di salah satu sofa yang tersedia.
Kali ini Maira bersemangat. Ia begitu antusias mencari gaun yang cocok ditemani pelayan di sana.
Sekarang Nugra yang mulai terlihat bosan. Rasanya sudah berjam-jam ia menunggu Maira selesai mencari satu gaun saja.
"Nugra! Yang ini bagus nggak?" Maira datang dengan gaun bewarna putih.
"Bagus...tapi, mungkin kamu mau coba yang lain?"
"Oke. Aku cari lagi." Maira pergi.
Nugra menguap lebar, sudah dipastikan wanitanya itu akan kembali ke hadapannya dalam waktu yang lama. Ini memang sedikit membosankan. Tapi, ini menjadi suatu kemajuan yang pesat. Mereka sudah sampai pada tahap ini, bukankah ini berita yang sangat bagus. Usahanya tidak sia-sia. Sejak seminggu lalu, semua anggota keluarga juga sudah mulai sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan mereka. Mengingat itu semua, rasa bosan Nugra pun hilang. Sebentar lagi, ia akan mengakhiri masa lajangnya.
Setelah melewati waktu yang cukup panjang, akhirnya Maira sudah menentukan gaun untuk resepsi pernikahannya dengan Nugra. Ia hanya perlu mencari kebaya untuk akad nikah, mungkin bisa ia cari besok atau lusa jika memang Nugra mengajaknya. Atau nanti ia bisa mencari kebaya bersama sang Mama. Wanita itu senyum-senyum sendiri saat mengingat betapa cantiknya gaun yang ia pilih tadi. Ia pasti terlihat sangat cantik saat resepsi nanti.
Nugra mengerutkan keningnya saat melihat Maira senyum-senyum sendiri di depan kasir. Pria itu tersenyum geli, sesekali memperhatikan petugas kasir yang menggesekkan kartu debitnya.
Nugra menyentuh hidung Maira."Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Bayangin apa?"
Maira jadi malu sendiri karena ketahuan senyum-senyum sendiri."Ah...nggak. Cuma ingat gaunnya. Bagus banget."
"Syukurlah kalau kamu suka. Nanti juga pas pake jadinya bagus, karena kamu suka." Nugra menerima kartu debitnya kembali."Aku sudah bayar. Nanti diantarkan ke rumah kamu. Sekarang kita makan ya. Aku lapar banget." Tentu saja ia sangat lapar. Ini sudah hampir tengah malam. Mereka menghabiskan banyak waktu saat memilih gaun. Tapi, baginya yang terpenting adalah ia bisa bersama Maira dan wanita pujaannya itu merasa puas.
Maira mengangguk, sekarang ia sudah tidak canggung lagi berada di sebelah Nugra sejak memilih gaun tadi. Ia benar-benar merasa sedang ada di surga. Memilih gaun sesuka hatinya tanpa harus memikirkan harga. Ternyata, Nugra adalah tipe pria yang begitu royal. Tidak peduli berapa harganya, selagi ia mampu, maka ia akan membelikan barang tersebut untuk membahagiakan orang yang ia sayangi.
"Cincin sudah, gaun sudah...apa lagi yang bisa kita cari sekarang ya?" Nugra tampak berpikir sambil berjalan menuju tempat makan.
Maira melihat jam tangannya."Ini kan udah malam banget. Kita lanjutkan besok saja." Maira hanya bisa menggelengkan kepala jika memang Nugra mau melanjutkan petualangan mereka dalam mempersiapkan acara pernikahan.
"Nggak apa-apa kan. Aku sudah pamit sama Papa kamu. Aku sudah bilang kalau malam ini kita cari cincin,"jelas Nugra. Langkahnya berbelok ke kiri masuk ke tempat makan.