Sore itu, rumah Jesslyn terasa lebih hidup dari biasanya. Dua suara wanita lain bergema di ruang tamu, bercampur dengan aroma teh hangat yang baru saja dituangkan. Elina dan Rhea datang tanpa banyak basa-basi, seperti ingin memastikan Jesslyn tidak merasa sendirian setelah kepulangannya ke ibukota. “Rumah lo masih sepi aja, Jess,” komentar Elina sambil mengamati sekeliling. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan santai, langsung meraih kue kering yang tersaji di meja. “Kalau gue yang tinggal, pasti udah penuh pot bunga dan bantal warna-warni.” Jesslyn tertawa kecil, duduk di sampingnya. “Gue nggak punya tenaga buat ngurus dekorasi. Mama gue lagi ke Jogja belum balik juga ini, nggak tau kenapa.” “Tenaga lo habis buat mikirin Christian, ya?” Elina menyenggol bahunya nakal. Jesslyn hanya

