Apartemen itu sepi. Hanya cahaya lampu meja yang menyinari sebagian ruang, sementara tirai jendela dibiarkan terbuka menampakkan kelap-kelip kota di bawah sana. Christian meletakkan kunci di atas meja, melepaskan jas dengan gerakan malas, lalu duduk di sofa yang dingin. Di hadapannya, ada sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam. Tangannya ragu saat meraihnya, lalu membuka perlahan. Kotak itu kosong—cincin yang biasanya terjaga di dalamnya sudah melingkar di jari manis Jesslyn. Christian menatap lama ke dalam kotak kosong itu, sebelum pandangannya teralihkan ke tangannya sendiri. Jemarinya menyusuri permukaan kayu meja, seolah mencari jejak dari perasaan yang kacau sejak hari itu. Ingatan datang tanpa diundang. Hujan deras di rumah sewa, lampu mati, dingin yang menusuk tulang. Jesslyn

