Lorong rumah sakit itu sunyi ketika pintu ruang pemulihan tertutup kembali. Cahaya putih sepanjang koridor terasa terlalu terang, memantul pada lantai yang mengilap. Christian berdiri dengan bahu merosot, wajahnya masih pucat setelah melihat Jesslyn kesakitan hanya karena mendengar namanya sendiri. Yoora melangkah mendekat pelan, tak ingin mengejutkan anaknya yang sudah berada di batas ketahanan. “Christian,” panggilnya lirih. Pria itu tak langsung menjawab. Ia hanya berdiri membelakangi ibunya, kedua tangannya masuk ke saku celana, menggenggam sesuatu yang tak terlihat. Ia menggertakkan rahang, menahan napas panjang yang terdengar seperti keluhan yang ditahan. Yoora menyentuh lengannya pelan. “Nak, kamu harus keluar sebentar.” Christian menggeleng. “Aku nggak mau jauh dari dia.” “C
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


